Jumat, 25 Maret 2016
Saat cinta yang kita jaga tiba-tiba
terasa mulai aneh disebabkan kehadiran sosok lain disisi kita. Akankah cinta
yang selama ini kita perjuangkan akan menang? Akankah kesetiaan yang kita
junjung tinggi akan bertahan? Bagaimana ketika cinta dan kesetiaan yang selama
ini kita jaga terasa terancam bagaikan berada di ujung tanduk?
Akankah cinta dan kesetiaan mampu
mengalahkan sosok orang ketiga yang akan merusak hubungan?
Kisah ini tentang seorang lelaki
muda yang menceritakan kisah masa muda nya hingga akhirnya dia berkeluarga.
Cinta yang dia ajalani bisa dibilang penuh perjuangan dan airmata. Saat dia
mulai merasa nyaman dengan seorang perempuan yang sangat dia cintai, disaat itu
pulalah hadir sosok perempuan cantik yang diam-diam menyukai nya, bahkan
berusaha untuk merebut dia dari tangan perempuan yang dianggapnyua sebagai
penghambat kesetiaanya.
Dari situ pulalah mulai konflik yang
datang silih berganti mengganggu kehidupan pribadinya. Tapi akhirnya dia sadar
akan cinta pertamanya dan kembali menjalani cinta seperti sebelumnya.
Ini dia kisah penuhnya :
"CINTA
DAN KESETIAAN DI UJUNG TANDUK"
By: Debora
Artia Manurung
" Revan? kamu yakin mau keluar
negeri aja sekolahnya?" Dia memandangku dengan mata sayu.
" Iya key, tapi aku janji , aku
akan setia."
" Tapi, banyak orang yang
LDR-an, dan setau aku setelah pacarnya pada deket malah gak diakuin oleh mereka
kalau mereka pernah pacaran. Aku takut kamu juga nanti bakalan jadi kayak
gitu." cara dia mengucapkan itu benar-benar membuatku terharu.
Seakan-seakan dia memang betul-betul takut aku akan meninggalkan dia.
" Percaya sama aku Key. Itu
mereka. Aku gak sama kayak mereka, Aku bukan mereka dan aku gak akan buat hal
yang jahat seperti itu sama kamu, karna aku sayang sama kamu. " aku coba
untuk meyakinkan dia.
" Tapi... " Keyla terdiam.
Aku memandang wjah Keyla. Keliatan sekali dia memendam sebuah rasa takut akan
kehilangan.
" Tapi.... "
Tapi.... Tapi... Dan tapi...
Kata-kata itu saja yang dia pakai
sedari tadi. Seakan begitu banyak keraguan yang dia lihat dari aku.
Aku coba untuk meyakinkan
lagi.
" Dengerin aku key." aku
menarik dagunya, mengarahkan wajahnya yang tertunduk menahan tangis untuk
menatap wajahku. Aku ingin membuktikan ke dia yang kalau aku tak akan
mengecewakannya.
" Aku ini Revan. Dan kamu kenal
aku kan? " Keyla mengangguk perlahan.
" Nah, kalau kamu kenal aku , kamu
pasti tau kalo aku gak akan ngecewain kamu. Kamu tau kan selama kita pacaran
aku gak pernah ada yang lain selain kamu? ,,, atau pernah kamu liat aku
senang-senang sama perempuan lain? enggak kan? itu karena aku ingin menjaga
kesetiaan diantara kita Key, dan aku,,, " tapi belum lagi aku
selesai bicara, dia langsung membalikkan badannya sambil melipat kedua
tangannya bersilang. Bibirnya monyong kedepan.
" Iya, tapi kan mungkin aja
karna kita dekat, jadi kamu gak berani deketin perempuan lain. Coba kalo kamu
udah jauh nanti, kan aku gak bakalan tau apa yang kamu lakukan disana. Lagipun
kamu ganteng, aku takut perempuan-perempuan disana pada melirik kamu. Aku gak
rela."
hahahahaha.... sanggahannya sungguh membuat aku merasa lucu. Ya ampun itu apa
yang ditakutkan Keyla dari aku? Hahahah... takut kalau perempuan di Manila akan
tertarik oleh kegantenganku? Seganteng itu kah aku di mata Keyla. Pernyataan
itu sungguh membuat kupingku sedikit naik . Bangga.
Tapi akhirnya aku hanya bisa
mendesah pelan. Aku rasa belum bisa meyakinkan Keyla.Kuulurkan tanganku untuk
menghadapkan tubuhnya ke arahku. Aku mencoba sekali lagi. Menjelaskan.
" Keyla, keinginanku untuk
sekolah di luar negeri itu sudah kurencanakan bahkan semenjak kita baru masuk
SMA. Dan kamu juga tau itu. Dan saat yang selama ini kutunggu-tunggu sudah ada
di depan mata, apa iya aku harus melepaskan kesempatan itu begitu saja?"
Dalam hati aku berkata "
Cobalah mengerti keyla, Please,,, please,,, please,,,"
Keyla memandangku. Lama. Lama
sekali. Sungguh pandangan yang sangat menusuk.
Tapi akhirnya aku cuma bisa senyum
sambil berharap kalau akhirnya dia akan mengerti.
" Maafin aku van. Maaf. "
dia tertunduk. Mendengar kata maaf itu, jujur, membuatku takut. Aku langsung
berfikir yang bukan-bukan. Apa dia tidak terima aku akan keluar negeri? Apa dia
akan mengatak kalau dia tidak akan mengijinkanku untuk pergi? Atau, atau dia
akan bilang putus karena tak mau LDR-an? atau, atau,,, Keyla melanjutkan
kata-katanya :
" Aku berfikir yang
enggak-enggak tentang kamu. Maaf aku tadi sempat curiga sama kamu. Ya ampun,
ternyata aku egois banget ya sampai-sampai melarang kamu meraih cita-cita kamu
sendiri. maafin aku ya? " akhirnya dia tersenyum juga. Dan itu sungguh
membuatku melayang. Tadinya aku yang berfikir yang bukan-bukan tentang apa yang
akan dia katakan. Aku lega dia gak minta putus samaku. Aku lega akhirnya dia
bisa menerima kepergianku. Aku lega akhirnya aku akan bisa melanjutkan
sekolah ku juga melanjutkan hubungan ini. Aku sungguh lega.
Hanya seminggu lagi hingga akhirnya
aku harus meninggalkan indonesia, meningalkan seluruh keluarga besarku,
teman-teman dan juga Keyla tentunya. Sakitnya tuh disini. Di dalam hati ku,
seperti kata lagunya Cita Citata yang lagi populer itu loh.
Sekeras aku menghibur hati , sekeras
itu juga rasa khawatiku semakin datang. Semakin banyak yang harus kupikirkan.
Semakin banyak bayangan-bayangan yang masuk ke otakku. Bayangan tentang
perjalanan yang nantinya akan kutempuh. Rumah baru yang akan kutinggali. Dan
tentuanya suasana sekolah baru dan juga teman- teman baru yang akan
kutemui.
Jujur itu membuat ku sangat-sangat khawatir. Apa aku akan bisa menyesuaikan
diri dengan baik di Filipine? Apakah mereka bisa menerimaku dengan baik
disana?
Lalu aku sadar, kekhawatiranku tidak akan menyelesaikan masalah . Kuncinya
hanya satu saat ini. Aku harus menerima, harus berani, dan akan kujalani
semampuku. Huffffttt, entah sudah berapa kali aku mendesah berat sedari tadi .
Seakan ada tumpukan besar yang mengganjal dalam hatiku minta dikeluarkan.
Lalu aku memandang mama yang sedang membereskan lemari pakaianku. Memilih-milih
baju dan perlengakapan yang dirasa akan kuperlukan saat aku di Manila. Tampak
sesuatu di wajah Mama yang aku tau pasti berat untuk melepas kepergianku.
Aku paham perasaan Mama. Hanya aku anak satu-satunya yang selalu gangguin Mama
setiap hari. Mungkin Mama akan merasa sedikit sunyi kalau tak ada aku. Dan
pikiran itu membuat hatiku tambah sedih dan tak rela meninggalkan
Indonesia.
" Hufffffttttt , Ma aku
deg-degan deh Ma..." aku menhampiri lalu menatap Mama.
" Gak nyangka aku bakal
ninggalin Mama sama Papa dirumah. Nanti Mama sama Papa siapa yang jahilin dong
kalau aku pergi? " Aku mencoba menenangkan hatiku dengan mengajak Mama
becanda bahkan disaat - saat terakhir. Sekitar seminggu lagi aku akan berangkat
ke Manila. Setidaknya mendengar tawa Mama bisa mebuatku sedikit lebih
tenang.
" Mama sih gak keberatan. Kan
Mama tinggal cari anak baru aja gantinya kamu."
" Ya ampun jahat ya Mama? Masa
cari anak baru? Mama selingkuhin anak sendiri dong? Mama gimana sih mahhhhh....
" aku merengek mengeluarkan celotehan sok imut.
" Ya enggak dong Revan. Kamu
juga sih. Lagian mau dari mana Mama dapat anak yang gantengnya kayak kamu.
Kayaknya Mama cariin kemana-mana juga gak bakalan ada. Yang ganteng kayak kamu
gini Mama rasa cuma Revan aja. " Hahaha
Mulai deh Mama malah ngegombalin aku . Sayang banget sama Mamaku ini. Meski
sudah lanjut usia dan rambutnya sudah banyak garis-garis putih, tapi Mama tetap
penyayang dan romantis. Selalu bisa mengerti perasaan ku. Terkadang Mama malah
bisa berubah jadi seorang paranormal di saat-saat yang diperlukan.
Saat Mama menyadari ada yang lain
tertulis di wajahku Mama akan bisa langsung menebak apa yang sedang terjadi.
" Pasti berantem sama Keyla lagi ya? Sudah. Jangan terlalu di
pikirkan. Mama tau apa yang kamu rasakan. Sedih banget ya? Mama juga
merasa seperti itu waktu berantem sama Papa kamu dulu. Tapi udah-udahnya Papa
kamu juga yang ngalah sama Mama. Walau Mama yang tadinya mulai pertengkaran ,
malah Papa yang minta maaf dan beliin Mama coklat. " Panjang lebar Mama
menjelaskan.
" Dan kamu sebagi seorang
laki-laki juga harus seperti itu. Gak peduli siapa yang salah, seorang lelaki
harus bisa mengalah sama perempuan yang dia cintai. Lagian Keyla mungkin cuma
lagi datang bulan aja kok makanya gak konsen gitu waktu sama kamu."
Lah? yang Mama bisa tau kalau Keyla
ini lagi datang bulan tau dari mana? Memang Mama bener-bener paranormal yang
handal. Tahu saja apa yang terjadi antara aku dan Keyla. Benar-benar membuat
aku mendecak kagum.
" Mama bisa banget baca pikiran
orang ya Mah? " aku bertanya salut.
" Bukan, Tadi siang Keyla
nelpon Mama. Cerita kalo Revan sama Keyla gaduh karna Keyla cuekin Revan.
"
" Lah, pantesan dari awal Mama
udah tau kenapa Revan sedih. Kirain Mama beneran bisa baca pikiran aku. Mama
mah gitu." hahahah
Begitulah Mama . Selalu bisa baca
pikiranku. Walau kadang perkiraan ku meleset. Karena bukan dari insting Mama
tau isi hatiku, tapi dari Keyla yang mengadu ke Mama. Yah lagian Mama
bukan paranormal betulan. Aku hanya mengada-ada sering mengatakn Mama
paranormal karena Mama yang sering menebak masalahku dengan tepat.
Keyla memang dekat dengan Mama. Apa-apa yang Keyla ingin tau , akan langsung
ditanyakan ke Mama. Saat sikap ku tiba-tiba berubah Mama akan segera menegurku
dan mewawancarai apa yang sebenarnya membuat sikap ku tiba - tiba berubah. Dan
tentu saja lagi-lagi Keyla yang memberi tahu kepada Mama.
Seperti saat itu, aku sebenarnya
bukan marah dengan Keyla. Hanya saja aku kalah main basket di sekolah, dan hal
itu benar-benar membuat aku bad mood. Dan salahnya aku, bad mood ku malah
kulampiaskan ke Keyla. Keyla yang dengan semangatknya berlari kecil dari ujung
kelas untuk mengjakku pulang bareng malah ku usir walau dengan cara lembut.
" Revan, udah mau balik kan?
Pulang bareng yuk? sekalian anterin aku ke toko buku. Ada novel baru yang mau
aku beli. " sungguh riang Keyla berbicara saat itu. Mungkin mood-nya lagi
bagus. tapi dengan keadaan ku yang sengsara karena kalah main basket ini
tiba-tiba bisa membut Keyla yang pendiam terdiam.
" Jangan ganggu aku dulu Key,
kalau mau pulang, pulang aja duluan . Aku males kemana-mana hari ini. Apalagi
ke toko buku. " sbenarnya perkataan itu kuucapkan tanpa menggunakan tanda
seru. Maksudnya, suara ku saat mengucapkan itu benar-benar sangat datar. Tanpa
ada unsur membentak sedikitpun. Tapi sontak saja Keyla yang tadinya berjalan
mengiringiku disamping langsung tertinggal di belakang. Mungkin dia kebingungan
dengan jawabanku. Setelah itu dia berbalik ke arah yang berlawanan tanpa
mengucapkan sepatah katapun.
Untuk gadis umumnya, mereka sangat
ingin dikejar seperti adegan dalam film. Istilahnya , si cowok akan menyadari
kalau si cewek lagi ngamberk lalu akan mengejar kembali ci cewek. Tapi aku yang
saat itu benar-benar emosi, sama sekali tidak sadar akan perilaku Keyla yang
ternyata sedang ngambek dan pergi begitu saja. Itulah kekuranganku. Aku kurang
peka terhadap perasaan orang lain.
Saat itu pula lah, begiru aku sampai
di rumah,Mama langsung menyemburku dengan pertanyaan-pertanyaan aneh. Ada
setkitar 7 pertanyaan :
- Kamu dari mana kenapa pulangnya
telat?
- Kamu kok diam aja?
- Kamu berantem sama teman kelas?
- Atau dihukum guru?
- Atau kamu kalah ulangan?
- Kamu kenapa sih Revan? gak enak
badan?
- Atau jangan-jangan berantem sama
Keyla ya?
Saat pertanyaan ke tujuh itu jugalah
aku tiba-tiba sadar apa kesalahan yang sangat fatal yang telah kulakukan
terhadap seorang perempuan lembut seperti Keyla. Aku langsung lari ke kamar,
dan menelepon Keyla. Aku jelasin semuanya. Lalu minta maaf. Dan mustahil bagi
seorang Keyla untuk tidak memaafkan orang yang bersalah sama dia. Apalagi kalau
pacarnya sendiri yang minta maaf. Panjang lebar aku menjelaskan. Ini dan itu.
Kesini dan kesitu. Sungguh berbelit-belit.
" Keyla kamu udah dimana? sudah sampai rumah ? Maafin aku ya tadi agak
kasar sama kamu. Kamu tau sebenarnya aku bukan marah sama kamu. Aku hanya
merasa sedikit kesal karena aku kalah main basket tadi. itu saja. lagian gak ada
alasan untuk aku marah sama kamu. jadi kamu jangan ngambek lagi dong ya ? Aku
kkan jadi gak enak gitu sama kamu. Aku tau aku salah karena udah bentak gadis
cantik dan manis seperti kamu. Jadi maafin aku yah? "
Tapi akhirnya jawaban Keyla sungguh membuat aku lemas dan kecewa. Keyla hanya
mengatakan,
"
Iya gak papa"
Aku pun menjelaskan lagi. Lagi dan lagi untuk meyakinkan Keyla kalau aku tidak
marah karena dia , tapi karena sebab lain.
Tapi akhirnya setiap perkataan yang
kuungkapkan untuk menjelaskan apa yang terjadi , jawabannya selalu sama :
" Iya gak papa"
" Iya gak papa kok"
" Iya Revan, gak papa lagi
" , itu saja.
Kata- kata seperti “ gak papa” itu sungguh membuatku sangat menyesal karena
telah membuat Keyla sedih dan kecewa. Gadis lembut seperti Keyla memang sangat
sensitif kalau berhungungan dengan hal-hal yang menyakitkan hati.
Dalam hati aku mengutuk diriku sendiri yang telah menyakiti seorang yang sangat
lembut seperti Keyla. Mungkin perkataan ku terdengar sangat berlebihan. Tapi
itulah adanya. Keyla yang sama sekali tak pernah menyakiti hatiku. Tapi aku
malah tega-teganya menyakiti hatinya bahkan membuatnya marah
kepadaku.
Kucoba sekali lagi untuk menjelaskan . kali ini aku mengucapkannya dengan lebih
lembut. Berharap dia akan mengerti. Tapi sama saja. Dan aku pun
meyerah. Di akhir pembicaraan, aku telah benar-benar tak tau lagi apa yang
harus kulakukan. Kami pun sama-sama diam. Lama sekali. Mungkin hampir sekitar 2
manit.
Aku bahkan tak berani untuk
mengatakan “ ya sudah sudah dulu ya Keyla” untuk mengakhiri percakapan.
Akhirnya Keyla yang bertindak duluan meski dengan cara yang lain dan jauh lebih
lembut.
“ halo Revan? Kamu masih ada disana?
Masih ada yang ingin kamu bicarakan? Kalau tidak aku akan menutup
telpon” Tapi belum lagi aku ingin menjawab, dia sudah menutup telponnya.
Begitu saja. Yah memang begitulah dia . Ngambek tanpa berkata apa-apa. Dan itu
sungguh membuatku menjadi manusia yang sangat mellow seketika saja saat
keyla sudah bersikap begitu. Sungguh membutatku bingung dan tau harus berbuat
apa.
Tapi akhirnya otakku berjalan juga. Kuputuskan untuk mengirimkan SMS singkat
untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi tadi siang. Aku mengetikkan kata
demi kata. Kalimat demi kalimat. Setalah kurasa lengkap isi dan maknanya,
akupun memberanikan diri untuk mengirmkanya.
1 jam, 2 jam, 3 jam bahkan sampai malampun kutunggu. Tapi balasan untuk SMS itu
masih belum kuterima. Hahhhh, ternyata gadis yang kupuja-puja selama ini keras
kepala dan egois juga. Aku berbisik dalam hati. Aku sama sekali tidak menyangka
kalau dia akan tahan dengan mogok ngomongnya yang begitu lama denganku. Ya
mapun. Sungguh teganya.
Lagipun sudah larut malam. Sudah pukul setengah 12, aku rasa dia tidak akan
membalas SMS itu lagi. Aku sudah pasrah. biarlah sampai rasa marahnya mereda.
Dan aku rasa dia akan bisa memaafkan ku kemudian.
Dugaan ku salah. Baru saja aku akan bergegas mematikan lampu untuk bersiap
tidur, tiba-tiba hp ku berdering. Sebuah SMS masuk. Aku membuka SMS itu.
Keyla.
" Maaf loh Revan, aku tadi dari rumah temen, ketepatan hp nya aku gak bawa
karna tadi lagi sebel sama kamu. Dan ini baru buka hp. Aku udah gak marah lagi
kok. lagian juga tadi aku gak marah sama sekali kok. Aku pengen nunjukin aja
ke kamu aja gimana rasanya kalau diperlakukan sama persis seprti yang
kamu lakuin ke aku . Jadi gimana rasanya? :) "
Lengkap dengan tanda senyum dibawah SMS. Hatiku sungguh lega membaca pesan
singkat itu. Beberapa kali aku mengelus dadaku tanda kelegaan . Lalu aku
membalas.
" Wah ternyata kamu ngembeknya gak lama-lama ya? Nah gitu dong. Kan aku
jadi gak bingung dan sakit kepala lagi karna mikirin kamu yang marah sama aku.
Jadi ceritanyta aku di maafin nih? "
Pesan itu sedang terbang melewati angin dan akan segera samapai ke hp Keyla.
Aku tak sabar ingin menerima balasannya.
" Loh, aku gak marah kok Van. Cuma lagi nunjukin aja kalau kamu itu salah
bersikap sama aku. Aku gak salah tapi kamu bentak aku. Kan sakit hati jadinya.
"
Tanpa Keyla beritahu pun, aku sudah tau kalau sebenarnya dia tidak marah. Hanya
mungkin sedikit kesal. Dan lega rasanya saat tahu Keyla sudah kembali ceira
seperti biasa.
Aku mencoba memikirkan hal-hal menyenangakan untuk diceritakan kepada Keyla ,
untuk membuat suasana tidak kaku. Oh, aku teringat lagi kejadian alah main
basket semalam. Mungkin ada baiknya aku ceritakan yang sebenarnya sama Keyla.
Sekalian sebagai dongeng sebelum tidur untuk Keyla.
Aku segera mencari nama Keyla di kontak telpon. Aku berencana akan menceritakan
semuanya lewat telpon. Agar suasana romantisnya lebih terasa. Lagi pun aku
kangen dengar suara Keyla. Suaranya lebih terdengar seperti nyanyian dibanding
suara orang ngomong. Lembut mengalun-alun. Menyejukkan hati. Hahaha...
Tuuutttt... Tuuuuttt,,,, Hubungan sudah tersambung. Tinggal menunggu Keyla
mengangkat telponnya dan kami akan mulai ngobrol. Meskipun Keyla terkesan
pendiam , tapi bisa menjadi seorang yang cerewet saat sudah bicara denganku.
Dia akan mulai mengingat segala hal yang berlaku di kelas nya seharian saat di
sekolah, dan menceritakannya tanpa henti. Kadang-kadang akupun sampai bosan
mendengarnya.
Keyla mengankat telponnya, " halo Revan? Kenapa tiba-tiba telpon nih?
" Permulaan kata yang sangat menyenangkan. Ahhh, lembutnya suara itu,
bagaikann,,,
" haloooo... halooooo... Revann, Revan? Kenapa diam aja ? " Hah? Aku
tergagap. Sempat-sempatnya pikiranku melayang disaat-saat seperti ini. Bukannya
menjawab aku malah ngelanntur yang enggak-enggak.
" eh, iya, halo Key? Kamu lagi ngapain? " dan bla bla bla. Dia
mendengar semua yang kutakan sambil menanggapi sesekali. Saat aku sudah selesai
bicara dia malah diam dan tak mengatakan apapun.
" Keyla? " sunyi. Tak ada jawaban apapun.
" Halo Keyla ?" sekali
lagi tanpa jawaban.
Saat aku akan menutup telpon, karena memang tak tau apa lagi yang harus
kulakukan , tiba-tiba saja ada suara yang menyahut dari ujung telpon.
" Halo Revan ? " bukan suara Keyla. Suara itu lain dari suara Keyla,
tapi aku yakin kalau aku juga masih mengenal suara itu. Seperti suaraaaa,
" ini bunda Keyla Revan, maaf ya kamu jadi ngomong sendirian deh.
Sebenarnya sudah dari tadi Keyla ketiduran. Cuma karna gak enak sama kamu, jadi
bunda diamkan saja. " haha, membayangkan Keyla yang ketiduran saat
mendengarkan aku ceira sungguh lucu sekali. Aku bisa membayangkan wajah lucu
Keyla yang ngatuk dan akhirnya ketiduran.
" haha, gak papa deh tante. Kayaknya Keyla kecapean banget ya tante sampai
gak dengar aku cerita. Yu udah tante gak papa" aku cepat-cepat megakhiri
percakapan. Karna jujur, aku gugup bicara dengan bundanya Keyla. Bukan hanya
gugup, aku tidak tahu apa yang harus kubahas saat bicara dengan mama dari
pacarku. Rasanya malu banget. Jadi lebih baik mengakhiri percakapan saja.
Setelah mengucapkan salam, akhirnya aku menutup telpon. Bisa-bisanya Keyla
melakukan kekonyolan ini terhadapku. Hahahah, " seandainya aku bisa berada
di samping Keyla saat ini, pasti rasanya sangat menyenangkan. " Aku
berpikir dalam hati.
Membayangkan dia yang tertidur saat aku asik bercerita membuat ku tertawa
ssaja. Rasanya sangat lucu. Ya ampun, mungkin dia sangat lelah sampai-sampai
tertidur di tengah percakapan.
Ya sudahlah, selamat mimpi indah bidadariku.
***
Terasa bagai mimpi saja. Minggu lalu
aku baru saja ngobrol dengan keyla. Mengobrol sampai mulutku kering, sekaligus
menjelaskan kepada Keyla tentang kepergianku ke Manila. Sungguh lega saat tahu
Keyla tak begitu bermasalah dengan yang namamya LDR. Dia cuma bilang , "
Ingat tanah kelahiranmu, jangan lama-lama disana, nanti ada orang yang ambil
aku " begitulah, Keyla masih saja bisa becanda di saat aku sudah
benar-benar bingung.
Dan sekarang tiba-tiba sudah tiba waktunya untuk aku berangkat ke Manila. Ya
ampun , seminggu begitu terasa cepat berlalu. Aku belum benar-benar siap
meninggalkan Indonesia. Semua kenanganku ada di tanah ini. Semua kisah masa
kecil, masa sekolah, masa bahagia bersama gadis yang kucintai,,,, ahhhh.
Bagaimana ini?
Aku memandang keluar jendela.
Jendela yang biasa jadi tempat ku curhat dengan hujan saat aku merasa sendiri.
Sarana menyampaikan salam rinduku saat aku tak bisa bertemu dengan Keyla. Masih
tersisa rintik-rintik hujan dari hujan lebat tadi malam. Andai Keyla tahu kalau
aku memimpikan dia tadi malam. Pasti dia akan berkata aku bohong. Padahal
sebenarnya aku memang sering memimpikan Keyla yang sedang tertawa dalam
tidurku.
Aku memang suka sekali melihat Keyla tertawa. Aku akan merasa bahagia saat
melihat Keyla tertawa bahkan saat sebenarnya hatiku sedang dilanda kesedihan.
Obat lukaku hanya Keyla. Mungkin cintaku overdosis sampai-sampai berani bersumapah
dalam mimpiku kalai Aku akan jadi orang pertama yang akan membeli senyum dan
tawa Keyla selamanya.
Keyla saat itu merasa tersinggung saat aku berkata aku akan membeli senyum dan
tawa yang dia punya. " apa maksud kamu Revan? Membeli senyumku? Memangnya
aku apa Revan? Kamu pikir aku ini barang yang bisa dibeli siapapun? Kamu pikir
aku barang di pasar yang bisa dimiliki siapapun hanya dengan uang? "
Hah! Keyla tak mengerti arti perkataanku. Sebenarnya maksudku bukan membeli
dengan uang. Lagipun aku tak akan bisa membeli senyumnya dengan uang. Bgaimana
mungkin uang bisa membeli sebuah senyuman.
Maksud dari perkataanku berbeda. Aku bukan ingin membelinya dengan uang. Aku
akan membelinya dengan cinta dan kesetiaan. Aku akan menabung cinta dan
kesetiaanku sedikit demi sedikit. Dan lama kelamaan dia akan menjadi bukit.
Setelah aku kaya raya oleh cinta dan kesetiaan yang aku punya, aku akan membeli
dia dari orangtuanya untuk jadi istriku selamanya.
Keyla memelukku saat aku sampai di ujung penjelasan. Entah karena terharu atau
kagum aku tidak tahu. Dia memelukku erat. Erat sekali.
Membayangkan masa-masa paling romantis saat bersama Keyla selalu berhasil
membuatku cengengesan sendiri. Aku akan mulai senyum-senyum sendiri seperti
orang yang kehilangan akan saat aku mengingat itu semua.
Aku mendesah pelan, lalu memandang dinding. Tepatnya ke arah jam yang
tertempel di dinding. Sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Jadwal
penerbanganku tepat pukul 10 pagi nanti. Semakin sedikit waktuku disini,
dan semakin kusut pula pikiranku.
Aku berencana akan mengunjungi Keyla untuk berpamitan. Keyla tidak menepati
janjinya untuk mengantarkan ku ke bandara. Sms nya semalam mengatakan kalau ada
ujian yang harus dia ikuti. Dia juga meminta maaf dalam SMSnya. Seharusnya dia
tak perlu sampai meminta maaf padaku. Kalaupun dia tak bisa mengantar, bairlah
aku yang datang ke rumahnya untuk berpamitan. Lagipun aku rasa tidak ada
salahnya, dia tidak bisa mengantarkan ku bukan karna dia tak mau, tapi karna memang dia harus ujian. Tak apalah, besok aku akan ke rumahnuya, sekalian mengunjungi orang tua Keyla untuk pamit dan minta doa
restu.
Aku berjalan ke kamar mandi. Bersiap.
***
" Loh Revan, kamu kenapa masih
ada disini? Penerbangan kamu 1 jam lagi, tapi kamu masih disini juga? "
Keyla langsung menyemprotku begitu melihat aku muncul di depan pintu rumahnya.
Saat aku akan menjawah, Ayah Keyla melongok dari dalam, penasaran. Rupanya dia belum berangkat ujian, mungkin jamnya sebentar lagi.
" aku pengen pamitan sama kamu,
sekalian minta restu dari Om, " aku memandang papanya Keyla. Dia tersenyum sambil mengangguk,
lalu segera menghampiriku.
" Kamu baik-baik disana ya nak.
Ingat, jangan selingkuhi Keyla." dia mengatakannya sambil tertawa kecil. "Keyla akan sangat sedih kalau kamu ngecewain dia.
Baik-baik belajarnya. Semoga cita-cita kamu kesampaian. Om, tante dan Keyla gak
akan pernah lupa berdoa untuk kesuksesan kamu, dan kamu juga harus selalu
berdoa, oke? " dia semakin dekat lalu menepuk pundakku dua kali. Entah kenapa tepukan itu seolah mengatakan " berjuanglah !" , membuatku kuat.
Papa Keyla terus bicara sambil
sesekali menepuk bahuku. Mereka begitu perhatian terhadapku. Alasan ini jugalah
yang membuat aku semakin tak ingin melepaskan Keyla. Kedua orangtua nya seakan
sudah mempercayakan Keyla kepadaku. Mereka yakin aku akan mampu membuat Keyla
bahagia.
Dan dalam hati, saat bicara dengan
orangtua Keyla, aku berjani untuk memenuhi apapun itu yang menjadi keinginan
mereka selama itu beraitan untuk kebahagiaan Keyla.
Hampir 30 menit aku ngobrol dengan
papa Keyla, dan langsung sadar kalau setengah jam lagi aku akan berlepas. Aku
cepat-cepat pamit. Meskipun tak bisa bertemu mamanya Keyla, tapi aku sudah
cukup lega bisa mendapat nasihat dari papa Keyla saja. Semua kata-katanya
sungguh mengeluarkan nasihat-nasihat sehat. Aku memang selalu senang berbicara
dengan beliau. Beliau sungguh berwawasan luas dan cerdik. Mungkin karena beliau
suka menghabiskan waktu membaca buku dan surat kabar.
Aku berbalik dan menemui Keyla yang
sedang manatapku di belakang. Wajahnya kelam , pucat, matanya berlinang. Aku
baru saja ingin berbicara, saat tiba-tiba dia menghampiriku dengan keras dan
lalu memelukku. Aku terdiam sejenak, terkejut.
***
Tak pernah kami berpelukan seperti
ini. Entah dia lupa akan prinsipnya untuk tetap suci sampai nikah atau apa,
tapi apa yang dia lakukan ini benar-benar mengejutkanku.
Sejak dulu saat ku minta Keyla
bersikap seperti remaja umumnya saat denganku, Keyla selalu menjawab, "
Revan, aku punya prinsip untuk tetap suci sampai nanti suami ku benar-benar sah
memiliki aku, dan aku sudah benar-benar sah menjadi istrinya. " Keyla
mangatakannya dengan serius.
" aku gak mau mengecewakan
suamiku di masa depan. Aku ingin memberikan satu-satunya yang paling berharga,
dan yang terbaik untuk suamiku di masa depan. Aku ingin menjadi istri yang baik
Revan. Aku harap kamu mengerti itu. "
Itulah alasan kenapa Keyla selalu
menolak saat kuminta dia untuk memelukku. Atau menciumku. Pernah suatu saat aku
meminta izin untuk memelukknya. Sebentar. Keyla langsung tampak sedih. Mungkin
dia kecewa karena aku yang masih berpikiran untuk meminta hal seperti itu,
padahal dia sudah pernah menjelaskan prinsip nya.
Tapi terkadang aku berpikir. Apa iya
sekuat itu Keyla memegang prinsipnya. Apa benar Keyla tak pernah melakaukan
hal-hal yang biasanya dilakukan oleh remaja-remaj seusia kami? Lalu kemudian
aku teringat. Ya ampun, aku adalah pacar pertam bagi Keyla. Aku adalah
laki-laki pertama yang berhasil menjerat Keyla. Sepanjang tahun di hidup Keyla
dia habiskan dengan keluarga dan sahabat-sahabatnya di sekolah. Tanpa seorang
pacar. Itu pula lah yang mebuat Keyla selalu menjadi nomor satu di setiap
pelajaran.
Saat pertama kali Keyla
memberitahukan aku tentang prinsipnya itu, aku sama sekali kecewa. Hal pertama
yang aku pikirkan adalah aku tak akan bisa merasakan gaya berpacaran seperti
yang dirasakan remaj-remaja umumnya. Dan entah kenapa , prinsip Keyla malah
membuat aku tahut. Takut tak bisa merasakan cara berpacaran yang meyenangkan.
Lalu suatu hari Keyla memberitahuku,
" Revan, kamu tahu kan aku bukan seperti perempuan lainnya. Kalau kamu
merasa gak nyaman samaku, kamu bisa pergi ninggalin aku kapanpun kamu mau.
" hal itu dia ucapakan saat kami masih kelas 1 SMA. Masa itu kami baru
pacaran 1 bulan.Saat itu aku tidak terlalu mengerti dengan Keyla. Saat
teman-teman yang lain berpacarn di cafe yang penuh dengan musik dan lampu yang remang-remang,
aku dan Keyla pacaran di rumahnya, Belajar. Lebih tepat di sebut sebagi kerja
kelompok dibandingkan pacaran!
Awalanya aku merasa minder dengan
team basket yang biasa main denganku. Mereka selalu bertanya, " eh Revan,
lu gak pernah keliatan kalo malam minggu, bukannya lo sama Keyla itu pacaran
ya? Habis itu kalian ketemuan di mana? Gak pernah keliatan batang idung lo
berdua!"
Aku tak tau harus menjawab apa.
Jujur, aku malu kalau harus mengatakan yang sebenarnya. Belajar di saat malam
minggu? Sungguh jawaban yang konyol. Lalu aku berbohong untuk menjawab. "
gue main ke rumah Keyla, terus bokap dia ngajak gue ke tempat karaoke gitu, gue
sering karaokean sama mereka. "
Mereka ngangguk-ngangguk mendengar
jawabanku. Entah percaya atau tidak.
Setalah pertanyaan itu, aku langsung
menghubungi Keyla begitu aku sampai di rumah malam itu. Aku menelpon nomornya
meminta penjelasan lebih lanjut. Sangkin rasa malu yang tidak bisa kupendam,
akhirnya aku malampiaskan rasa maluku dan memarahi Keyla.
Aku menceritakan betapa malunya aku
berpacaran dengan dia. Rasa malu yang harus kutanggung setiap kali malam minggu
tiba. Aku menceritakan semua secara blak-blakan, tanpa titik maupun koma. Keyla
sepertinya mendengarkan dengan teliti. Dia sama sekali tidak menjawab selama
aku menjelaskan semuanya.
Setelah aku selesai dengan segala
argumentasiku, Keyla akhirnya bersuara, " kamu sudah selesai ngomong
Revan? Boleh aku ngomong sekarang? " sangat lembut, seperti biasanya.
' Ya ' . Aku menjawab singkat.
Kemarahan dan rasa jengkel ku belum juga sirna.
" kita putus " tuuuutttt
tuuuuttt tuuuuttt...
Dua kata itu diucapkan oleh Keyla
dengan lembut dan tanpa tekanan apapun. Nadanya datar terkesan tanpa rasa. Tapi
sungguh menusuk hati dan jantungku. Aku sangat terkejut.
Sambungan telpon putus. Keyla
menutup telponnya. Disaat seperti itulah akhirnya aku tersadar. " ya
ampun, apa yang sudah kulakukan." aku sadar kata-kata yang sedari tadi
kuucapkan sebagai tanda kekesalanku terhadap Keyla memang sangat berlebihan.
Memarahinya tanpa titik ataupun koma
memang sangat keterlaluan. Aku tiba-tiba bingung dengan apa yang harus
kulakukan. Aku mencoba melepon Keyla lagi. Tapi sepertinya Keyla sedang asik
menangis dan tak akan mengangkat telponku. Tiba-tiba aku merasa bersalah. Aku
menyalahkan diriku sendiri. Berulang kali aku berteriak untuk diriku sendiri.
Mengatakan aku bodoh dan tidak punya otak.
Hahhh, memang aku keterlaluan bodoh.
Bisa-bisanya aku bersikap seperti itu terhadap Keyla. Bisa mati aku kalau
sampai Keyla tak mau memafkan aku. Rasa takut akan kehilangan Keyla semakin
besar kurasakan.
Berulang kali aku mengutuk diriku
yang bodoh , berulang kali pula aku manyalahkan diriku untuk semua yang telah
terjadi. Tiba-tiba aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku berlari keluar dan
segera menghidupkan sepeda motor. Kuhidupkan mesin, lalu segera melawan
angin malam
untuk segera menemui Keyla.
Aku tidak menghiraukan dinginnya
angin malam, yang kutahu, aku harus segera melihat Keyla. Aku tidak ingin
membiarkan dia menangis lebih lama lagi. Dalam hati aku tak henti-hentinya
memohon " maafkan aku Keyla, maafkan aku Keyla, "
Begitu sampai di persimpangan rumah
Keyla, aku semakin merasa bahwa dadaku semakin sesak. Apakah Keyla baik-baik
saja? Aku sama sekali tidak bisa menghentikan rasa khawatirku. Lalu aku sampai
di depan rumahnya.
Ayah dan Ibu Keyla memandangku
melongok. Sepertinya mereka sedikit terkejut melihat aku yang tiba-tiba saja
sudah berada di depan rumah. Lalu kulihat Keyla melongok panasaran dari balik
mereka berdua. Wajah Keyla berlumuran coklat di barengi dengan senyuman konyol.
" eh, ada Revan. Hehe"
Sungguh di luar dugaanku. Semua rasa
takut, khawatir, semua hilang. Bukannya menangis tersedu-sedu seperti yang
kubayangkan, Keyla malah sedang asik-asiknya perang coklat dengan ke dua orang
tuanya. Aku lega dengan apa yang kulihat. Setidaknya aku tidak harus khawatir
dengan keadaan Keyla yang kubayangkan sebelumnya.
Aku berjalan mendekati mereka
melewati kedua orangtua Keyla. Sedikit gugup. Lalu aku duduk disamping Keyla.
Baru saja aku ingin berbisik, ingin menanyakan apa yang terjadi pada mereka
saat tiba-tiba sebuah colekan coklat mendarat di pipiku sebelah kiri. Aku
melonjak kaget.
" hahaha, kena deh kamu "
Keyla tertawa riang melihat aku
melongo. Tanpa berkata apa-apa lagi, aku segera mengambil kotak coklat ditangan
Keyla dan membalasnya dengan colekan coklat bertubi-tubi. Keyla kembali tertawa
saat sekali lagi pipiku terkena lebih banyak coklat. Tawa yang sangat riang.
Dalam hati aku bersyukur tidak
membuat Keyla menangis malam itu. Kalau tidak , aku pasti sudah sangat menyesal
karena berani membuat seorang gadis yang riang seperti keyla menangis tepat di
depan mataku.
***
Keyla masih saja tersedu-sedu
dipelukanku. Sudah sekian lama semenjak aku mengingat lagi waktu dimana aku
sangat bersyukur tidak membuat Keyla menangis saat itu. Tapi akhirnya dia
menangis juga, dalam pelukanku. Pertama kalinya semenjak kami pacaran.
Jantungku berdegup kencang. Mungkin Keyla bisa dengan jelas mendengar degupan
itu karena memang dia tepat berada di depan pintu hatiku. Dia masih memelukku.
Masih terisak dan terus menangis.
Lalu dia berhenti dari tangisnya
yang tersedu-sedu diganti dengan isakan pelan. Dia memandangku lama sekali.
Tapi aku tak tahu harus mengatakan apa. Aku hanya balik memandangnya saja.
Situasi yang sungguh membingungkan. Aku terjebak dalam situasi mengharukan ini.
Aku sama sekali tak menyangka adegan yang selama ini hanya kulihat dari
sinetron, akhirnya bisa kurasakan sendiri. Aku tak tau apa lagi yang harus ku
lakukan. Dan pada akhirnya aku hanay tertawa singkat.
" Hahah " aku mencoba
tertawa walau sebenarnya sama sekali tidak ada yang lucu.
" kenapa kamu manangis? seperti
anak kecil saja " aku mengacak-acak rambut Keyla. Membuat di
merengut. Dia sama sekali tak suka rambutnya dirusak oranglain kecuali aku.
Itulah yang menunjukkan betapa specialnya aku bagi Keyla, hehe.
Hanya merengut dan tanpa mengatakan
sepatah katapun dari mulutnya, justru membuatku semakin bingung. Keyla tentunya
sudah tau aku akan segera berangkat ke Filiphina. Dan tentunya sudah tau bahwa
hari ini aku akan segera berangkat. Tepatnya 30 menit lagi. Mungkin itulah yang
membuat dia sedih sampai menangis. Aku sungguh tidak tega untuk mengatakan
salam perpisahan. Tidak disaat di menagis seperti ini. Melihat airmatanya yang
semakin banyak menetes itu sungguh mebuatku terluka.
Tapi tak ada lagi yang bisa
kulakukan selain segera pamit dan terbang sebelum pesawat menyuruhku untuk
terbang sendirian ke Filiphina alias aku akan tertinggl pesawat.
Aku mulai membuka mulut, tapi tak
tau harus mengatakan apa. Aku bingung harus membulai dari mana. Dan akhirnya,
" Keyla aku harus segara pergi " bisikku di telinganya sembari
melepaskan tangannya dari pelukanku. sebenarnya aku sungguh tidak tega
melakukan ini.
Untuk pertama kalinya selama pacaran
Keyla memelukku dan aku harus memaksanya untuk melepaskan pelukan itu sekarnag
juga. Sungguh sakit.
Tangannya terjatuh dengan lemas.
Kini dia tidak memandangku lagi. Kepalanya tertunduk menahan malu. Dia baru
sadar kalau sedari tadi tanganyya sudah melingkar di pinngangku dan memelukku
dengan sangat erat didepan mata kedua orang tuanya.
Lalu perlahan dia berbalik, berjalan
menjauhiku tanpa mengatakan apapun dan menghilang di pintu dapur.
" wah! beginikah sebuah
perpisahan terjadi? mengapa dia tak mengatakan apapun disaat dia tahu kalau ini
adalah terakhir kalinya kami akan bertemu? Mungkin butuh sekitar setahun
sebelum aku bisa bertemu lagi dengan dia. Tapi lihat sekarang apa yang dia
lakukan . Dia malah pergi seperti menganggap aku tidak ada! Sungguh tega
sekali! "
Puas aku mengumpat dalam hatiku
melihat kelakuan Keyla. Aku sungguh tidak menyangka bahwa dia akan seperti ini.
Yang benar saja! ini adalah perpisahan namun dia tak mengatakan apapun padaku
sebagai kata kenangan. Aku mendesah sambil menuju pintu depan.
Langkah ku tiba-tiba terhenti.
Seseorang menahan tanganku keluar dari rumah. Aku berballik dan mendapati Keyla
yang sudah rapi dengan riasan dan tanpa airmata lagi. Lalu dia memaksakan untuk
tersenyum. Meski terlihat betul kalau itu adalah senyum yang dipaksakan.
" aku antar kamu ke bandara
" dia masih tersenyum
Dalam hati aku mengutuk diriku
sendiri " bodoh! bodoh!" tega-teganya aku berpikiran jelek tentang
Keyla barusan. Begitu lama tadi aku mengumpat ternyata semua umpatan itu
sia-sia. Hufffftttt,,, "
Aku tak mengetakan apa-apa lagi
selain membalas senyumnya dan menggengam tangannya keluar dari rumah. Sambil
saling melambai dengan kedua orangtuanya , aku membawa keyla masuk kedalam
mobil dimana ortu ku sudah mengunggu.
" ikut mengantar Revan ke
bandara nak Keyla " mama bertanya sambil tersenyum ke arah Keyla.
Dalam hati aku berpikir, pertanyaan
mama ini agak sedikit melenceng. Jelas-jelas Keyla sudah berada di dalam mobil
yang akan mengantarku ke bandara, tentu saja dia akan ikut menantarku ke
bandara, memangnya mau kemana lagi? Huffftttt, mungkin mama hanya mencoba untuk
sedikit lebih ramah saja.
Tidak ada salahnya juga mama
menanyakan hal itu. daripada semmua orang membisu , kan lebih baik ada yang
basa-basi walaupun itu sesuatu yang agak tidak masukk akal. Iya kan?
Entah apa yang membuat ini terjadi.
Sama sekali tidak ada satu kata pun yang bisa keluar dari mulutku. Aku tidak
tahu harus mengobrol apa. Mengingat aku yang akan pergi jauh dan tak akan
pernah bisa mmengobrol secara bertatap muka dengan Keyla, seharusnya aku jauh
lebih cerewet untuk mengobrol ini dan itu. Tapi aneh saat ini, sepatah kata pun
sulit untuk ku kelaurkan. Aku merasa sedikit bersalah meningglkan Keyla.Apalagi
aku pernah beranji kalau aku tidak akan menginggalkan dia.
Tapi, aku tidak menginggalkan dia
kan? Aku hanya pergi sementara waktu dan pasti akan kembali, persisi seperti
lagu yang sering banegt aku dengar,
" aku hanya pergi tuk
sementara,
bukan tuk meninggalkanmu,
selamanya,
ku pasti kan kembali pada dirimu,
tapi kau jangan nakal,
aku pasti kembali "
yah kira-kira begitu isi penggalan
lagunya. Lagu yang rada-rada mellow, dan terkesan anak alay
banget. Hahaha
Keyla masih diam seribu bahasa, aku
jadi bertanya-tanya, apa benar tidak ada hal apapun yang ingin dia tanyakan
padaku? sama sekali tidak ada hal yang ingin dia bahas?
Aku menggerakkan kepalaku kesamping
untuk melihat wajahnya. Matanya masih merah sisa menangis. Wajahnya yang
kemerahan menatap lurus kedepan, tapi pandangannya seakan kosong. Tanpa mimik
dan ekspresi sama sekali.
Aku heran. Ada apa ini. Aku
mendekatkan tanganku. Menggengam tangannya. Ya Tuhan! Dingin sekali! Kenapa
ini? Spontan aku khawatir.
" Keyla? kamu baik-baik aja
kan? " genggaman keyla terbuka, matanya menutup dan kepalanya mlai oleng
ke kiri, hampir terbentur ke kaca jendela mobil sesaat sebelum aku menrik
kepalanya ke arahku.
" maaaaa! Keyla pingsan! "
aku menjerit.
Mobil yang tadinya akan mengantarku
akhirnya malah harus ke rumah sakit untuk mengantarkan Keyla. Kasihan Keyla
sampai pingsan, mungkin terlalu lelah menangis. Kini dia sudah terbaring di
pangkuangku. Sambil mengelus rambut nya aku terus meneriaki papa agar lebih
kencang membawa mobil.
Dalam hati aku tak henti-hentinya
berdoa agar Keyla baik-baik saja. Aku tidak ingin meninggalkan Keyla dalam
keadaan sakit. Bagaimana mungkin aku bisa menjalani hiduppku dengan tenang di
Manila kalau aku tahu Keyla sedang dalam keadaan yang tidak sehat. Ini tidak
boleh terjadi. Pokoknya Keyla harus baik-baik saja. Kumohon Tuhan...
Sudah satu jam aku mengunggu di luar
ruangan tempat Keyla dibawa. Dokter belum juga keluar. Membuat aku semakin
khawatir saja. Mama papa duduk berdua di sudut bangku panjang dekat dengan meja
resepsionis, sementara aku yang tepat berada di depan pintu sama sekali tidak
bisa mendengar suara apa- apa dari dalam. Membuat ku semakin takut!
2 menit kemudian seorang dokter
wanita keluar dari dalam ruangan diikuti oleh beberapa orang yang tampaknya
seperti perawat. Awalnya wajah mereka terlihat masam, lalu saat melihatku,
dokter muda itu langsung tersenyum lembut.
" kamu pasti Revan kan? Keyla
baik- baik aja. Dia cuma capek dan perlu istirahat. Kalau kakmu mau , kamu
boleh menjenguk dia ke dalam. "
Kalau aku mau? Tentu saja aku harus
melihat Keyla! Ya ampun, pertanyaan macam apa itu?
Dokter itu masih ingin melanjutkan
bicaranya saat aku langsung berdiri dan mohon pamit untuk masuk ke dalam
melihat Keyla.
" Keyla....... "
Keyla terbaring di atas tempat tidur
putih ala-ala rumah sakit umumnya. Salah satu yang tidak kusukai dari sebuat
tempat bernama rumah sakit, baunya sama sekali tidak enak. Tapi semua itu bisa
kutahankan asalkan aku bisa pastikan bahwa Keyla memang dalam keadaan yang
benar-benar baik.
Keyla tersenyum lemas.
" maaf ya aku buat ulah bahkan
di saat-saat terkahir kamu di Indonesia. Tapi beneran aku sama sekali gak
sengaja loh. "
Haha, dalam hati aku merasa geli,
aku sama sekali tidak pernah mendengar ada pingsan yang di sengaja. Disaat
terbaring lemah seperti ini pun Keyla masih saja bisa membuat lelucon. Aku
sedikit tenang, setidaknya aku tau dia sudah sedikit baikan. Kini aku percaya
kata-kata dokter tiu kalau Keyla mungkin cuma kecapekan dan perlu istirahat.
Tidak ada penyakit yang serius.
" kamu istirahat yang banyak ya
Keyla. Please jangan buat aku khawatir. Aku khawatir banget tadi kamu
kenapa-napa. Jangan pernah kayak gini lagi ya. Aku jadi gak tenang. "
Keyla hanya mengangguk tanpa
mengatakan apa-apa. Tapi bibirnya msaih tersenyum.
" kamu boleh berangkat sekarang
kok, Tapi maaf aku gak bisa nganterin kamu ke bandara. Maaf banget ya harus
ngerepotin kamu sama papa mama kamu. Kalian pasti ngerasa terganggu karna aku
kan? aku minta maat banget ya ? “
Ya ampun seharusnya akulah yang
merasa bersalah telah membuat keyla kecapekan, tapi ekarang malah dia minta
maaf dan bilang merepotkan aku papa serta mama. Jujur aku sama sekali tidak
merasa direpotkan oleh Keyla. Sama sekali tidak pernah selama aku dengan dia.
“ Keyla kamu jangan mikir yang
enggak-enggak ya? Kamu sama sekali gak ada ngerepotin aku atau mama papaku kok.
Aku sama sekali gak pernah ngerasa terganggu karna kamu. Aku sayang kamu jadi
kamu jangan mikir yang enggak-enggak gitu. Nanti aku jadi kepikiran selama
perjalanan. “
Ya ampun , aku baru sadar kalau baru
saja aku mengeluarkan kata-kata yang lembut naujubillah. Aku tak menyangka
seroang Revan yang sangat tampan ini bisa mengeluarkan kata-kata lembuat
bagaikan sedang berpuisi.
Tapi sejujurnya memang itulah yang
terjadi. Setelah beberapa tahun ini bersama, aku mengerti akan rasa sayang yang
sebetulnya. Rasa sayang yang bukan berasal dari paras muka atau kakayaan, tapi
dari hati.
Semenjak mengenal Keyla aku menjadi
sedikit rendah hati. Aku mengerti akan makna kasih sayang yang sebetulnya. Dan
itu spontan keluar dari dalam diriku. Bukan rancangan. Sungguh keajaiban cinta.
Cinta membuat kita merasa tersiksa
melihat orang yang kita sayang tersiksa, cinta membuat kita sedih melihat orang
yang kita sayang berduka, dan cinta membuat kita khawatir saat orang yang kita
sayang dalam keadaan sakit. Itulah yang
lanjutan
Hari pertama kuliah akhirnya akan
segera di mulai. Rasanya sungguh aneh. Ada yang menahan dadaku. Membuatku
seakan sulit bernafas, hufffffttttt aku menarik nafas, berat. Oke! Jangan takut
Revan. Rileks. Rileks. Aku mencoba menenangkan diri. Aku mulai memasuki area
kampus. De La Salle University yang ternyata sangat
Luas, sangat-sangat luas, dan sangat rapi. Tatanan tempat yang penuh dengan
pepohonan rindang memang sangat sejuk dipandang mata. Ini cukkup sedikit
membuatku tenang.
Setidaknya dengan melihat pohon-pohon yang cantik ini aku akan merasa seperti
berada di kawasan perumahan tempat ku tinggal di Indonesia. Saat asik
memandangi keindahan itu, Entah kenapa , tapi kejadian yang selanjutnya terjadi
sungguh diluar dugaan. Seperti cerita di novel atau sinetron kebanyakan . Tapi
memang itulah yang terjadi.
Seorang gadis yang sepertinya juga orang Indonesia berlari tergopoh-gopoh seperti
ketakutan. Sangkin tergopohnya, dia tak memandang kalau ada aku yang sedang
menikmati keindahan kampus ini lalu menabrakku.
Dubrakkkk… aw…. “ im sorry, im so
sorry, sorry hindi ko nakita” .
Aku sebenarnya
mengeri apa yang dia katakana. Tapi saat mendengar caranya berbicara ,
aku tau kalau dia bukan asli manila, tapi orang Indonesia. Aku kenal logat itu.
Dia bilang maaf karena tidak melihatku. Ya memang aku belum terlalu paham
Bahasa filiphina, tapi aku selalu meluangkan waktu saat di sekolah untuk menghapal
beberapa kosakata. Masih bingung dengan apa yang terjadi, namun langsung saja
gadis itu mengulurkan tangannya.
“ my name is Rosan. Ako Indonesian “ dia tersenyum tapi masih saja dengan
mimik ketakutan , dan sambil sesekali melirik kebelakang seperti mengawasi
sesuatu.
“Bakit tumingin ka pabalik ? kung ano ang
nangyayari ?” aku bertanya tanpa membalas perkenalan dirinya karena
begitu penasaran sebenarnya apa yang membuat dia setakut itu. Apa jangan
–jangan di sini juga ada kelompok pembuli anak baru seperti di Indonesia. Aku
mulai khawatir.
“ mag-imbita ng ilang mga kaibigan nagpunta shopping , but I can’t” dia
menjawab masih dengan ngos-ngosan.
“ dahil lang iyon ang dahilan
? oh my God! tingin ko may mga kriminal na dumating pagkatapos mo!” aku
sengaja membuat nada suara ku sedikit lebih tinggi untuk menunjukkan kelegaan
hati ku. Dia berlari hanya kerana ketakutan dan mencoba lari dari
teman-temannya yang gila shopping. Ternyata meraka mengajak Rosan untuk pergi
shopping sementara Rosan sepertinya sedang kehilangan mood shoppingnya. Aku
merasa geli mendengar alasannya.
Sedikit lucu karena sebelumnya aku hampir merasa takut akan bertemu mahasiswa
lama yang suka membully mahasiswa baru. Aku akhirnya bisa menarik
nafas lega setelah tau kebenarannya. Dan
aku rasa tidak ada yang perlu di takutkan lagi.
Lalu aku teringat bahwa sebelumnya dia sedang memperkenalkan dirinya, Aku
segera menjulurkan tangn ku ke depannya.
“ im Revan. Ako din ang
Indonesian” yang ternyata langsung di sambut mesra sambil tersenyum oleh
Rosan. Dia mengangguk lalu tersenyum lagi.
" kita ternyata sama-sama orang Indonesia. Jadi lebih baik pake bahasa
Indonesia ya ? Biar serasa tetap berada di Indonesia gitu. " dia memberi
saran yang menurutku lumayan bagus juga. Karna sebenarnya aku juga lebih suka
menggunakan bahasa Indonesia dibandingkan bahasa Manila, walaupun saat ini aku
sedang berada di Filiphin.
" hmmmm, jadi kamu mahasiswa baru? " Rosan kembali bertanya. Dia
memandangku dekat sekali. Rosan ini memang gadis yang pendek. Aku lebih tinggi
2 jengkal dibanding dia. Pendek sekali kan? Kadang aku merasa dia lucu dan
cantik. Mungkin bukan perasaan ku saja. Tapi setiap orang juga akan mengatakan
hal yang sama. Rosan memang cantik. Walaupun badannya pendek namun memberikan
kesan yang imut dan cocok untuk dia.
Tiba-tiba saja aku teringat akan Keyla. Ya ampun! Apa-apaan aku ini. Aku
ternyata telah memuji dan menghayati perempuan lain! Hampir saja aku kehilangan
akal sehatku karena Rosan yang terlampau bening ini. Tapi kalau difikir-fiki
lagi, Keyla jauh lebih cantik dibanding Rosan. Tubuh Keyla juga lebih tinggi,
jadi terkesan lebih dewasa. Ditambah dengan senyum Keyla yang selalu menawan .
Membuatku selalu rindu melihat senyumnya.
Dua bulan akhirnya berlalu dengan baik-baik saja. Aku mendapat teman-teman yang
baik yang juga berasal dari Indonesia, namun tinggal lama di Manila.
Satu bulan pertamaku, kujalani dengan adaptasi yang walaupun terasa sedikit
berat, tapi akhirnya aku mampu melewati semua. Hasilnya, aku kenal dengan Roy
dan Bian. Dua orang tergokil di kelas dan tentunya aku merasa beruntung bisa
dekat dengan mereka.
Mereka mengenakanku seluk beluk Kota ini. Sering mengajakku keluar sambil
mencari tugas kuliah. Menganlaknku dengan banyak
Hah, aku rasa aku sekarang sudah benar-benar merindukan Keyla. Timbul perasaan
ingin segera memeluk dan mencubit hidung Keyla seperti biasa. Keyla akan segera
melotot padaku saat aku mulai menarik hidungnya. Dia selalu mengatakan kalau
terlalu sering menarik hidungnya, akan membuat hidungnya tambah mancung, dan
membuat dia tambah cantik. Dan otomatis semua laki-laki akan menyukai dia.
Sungguh lucu.
" Kamu suka banget tarik-tarik hidung aku kenapa sih? " Keyla melotot
ke arahku. Bukannya takut diplototi seperti itu, aku malah menjulurkan tanganku
untuk yang ketiga kallilnya lalu menarik hidungnya lagi.
Aku tertawa terbahak-bahak, dan Keyla semakin melotot.
" Jangan ditarik lagi dong. Nanti hidungku bisa bertambah mancung. Nanti
aku jadi semakin cantik. Memangnya kamu mau aku tambah cantik terus semua
cowo-cowo pada berusaha untuk merebut aku dari kamu ? mau ? "
Haahahah, sungguh gertakan yang menggelikan. Begitu pintarnya Keyla menemukan
kalimat itu untuk mengertakku .
" Kalo ada yang berusaha merebut kamu dari aku, aku tinggal bilang, ' hey,
jangan pada mau sama Keyla ini, dia gak pernah mandi, gak pernah gosok gigi,
dia itu orang paling malas yang pernah ada di dunia"
Aku menjeling memandang Keyla " pasti mereka gak bakalan mau sama kamu.
Jadi kamu akan tetap menjadi milikku selamanya. Hahahahha " aku kembali
terawa puas dan lepas. Keyla hanya melotot. Mungkin tidak tau harus membalasku
dengan jawaban apa lagi.
Sungguh lucu mengingat hal itu di saat-saat seperti ini. Membuatku semakin
rindu saja.
Aku janji akan segera menelpon Keyla begitu sampai di rumah. Tidak sabar untuk
mendengar suara tawanya. Lalu aku sadar kembali kalau ternyata ada Rosan yang
sedari tadi berdiri disampingku. Dan sedang memandangku.
Bayangan tentang keyla langsung saja menghilang begitu saja saat aku
menatap Rosan.
Memandang Rosan seperti memandang bongkahan es. Sejuk. Timbul perasaan aneh
yang mendesir di dadaku. Ada apa dengaku? Aku mulai risau.
Aku sama sekali tak ada niat untuk membelok dari Keyla. Tapi akhir-akhir ini
perasaan aneh saat bersama Rosan sangat sering muncul. Sangat sering aku
tiba-tiba terpana melihat Rosan yang sedang tertawa. Atau bahkan saat kami
makan bersama, bukannya menyantap makanan yang sudah ada di depanku, aku malah
sibuk memandang Rosan. Hal ini membuat ku sungguh takut. Aku tak ingin muncul
perasaan lain di hatiku terhadap Rosan selain perasaan suka sebagai teman. Aku
sungguh taik ingin lebih dari itu.
Tapi sikap ku sendiri sungguh membuatku sakit kepala. Aku sama sekali tidak
ingin terjebak memandang Rosan yang sedang berbicara denganku. Tapi lagi-lagi
bukannya mendengar apa yang dia katakan, aku malah memadangi wajahnya yang
manis. Saat aku tersadar, aku kambali manyalahkan diriku yang sangat mudah
tergoda dengan wajah manis Rosan.
" Hey Revan kamu dengar gak penjelasan aku? "
" A... iya, "
Selalu seperti itu. Setelah katahuan kalau aku bukan mendengarnya bicara dan
malah memperhatikan wajahnya, aku akan mulai tergagap dan malu sendiri. Selalu
seperti itu. Seringkali aku melakukan kesalahan yang sama. Dan aku sama sekali
tidak tau kenapa ini terjadi.
Apa mungkin kerena aku yang terlalu kangen dengan Keyla? Tapi kalaupun aku
merindukan Keyla, kenapa harus wajah Rosan yang kupandangi. Bukankah seharusnya
aku memandang wajah Keyla yang ada di layar depan Hp ku? Bukannya malah
memandangi wajah Rosan di depan mataku. Bukan seperti ini seharunsya yang
terjadi.
sungguh membingungkan.
***
Jujur saja saat hal itu terjadi
jangtungku berdegup kencang dan otakku tiba-tiba saja terasa panas. Setelah
beberapa kali tertangkap basah sedang mamandangi wajah Rosan, sepertinya Rosan
mulai berani bertindak lebih jauh, dan aku sama sakali tidak menyangka dia akan
malakukan itu. Sama sekali tidak bisa kubayangkan betapa beraninya dia.
Dan seminggu setelah kejadian saat
itu :
Sebenarnya saat itu aku tidak
sengaja menyentuh tangannya. Tapi entah apa yang dia pikirkan, Rosan bukannya
malah kaget dan menyingkirkan tangannya dari tanganku, malah berbuat
sebaliknya. Dia malah menempel tangan satunya lagi di atas tanganku. Mungkin
dia berpikir aku sengaja melakukannya. Tapi sebenarnya itu semua diluar
kesengajaan. Sama sekali tak ada niatku untuk menyentuhnya. Apalagi berani
menyentuh tangannya. Kalaupun dia berani, tapi aku tak seberani itu.
Aku terkejut. Saat aku berusaha
menarik tanganku yang kini berada diantar kedua telapak tangannya, dia malah
mendekap tanganku dengan lebih erat. Bukannya malah melepas tanganku. Aku jadi
semakin kebingungan. Tak tau apa yang harus kulakukan selanjutnya.
Saat aku menunggu apa yang
selanjutnya akan terjadi, tiba-tiba saja dia mendekatkan bibirnya ke muka lalu
mencium pipiku sebelah kiri. Aku sungguh terkejut. Aku tak harus merasakan apa.
Satu-satunya yang kurasakan saat itu hanya kebingungan, dan juga malu.
" Rosan? Kamu? " aku
tergagap. Diantara bingung dan malu.
" maafin aku Revan. Tapi aku
rasa aku mulai suka sama kamu " Rosan menunduk setelah mengatakn itu.
Sepertinya dia juga merasa malu.
Aku menarik nafas panjang. Tak tahu harus menjawab
apa.
***
Aku sedang
mencari-cari kunci rumah di ransel saat Hp ku sekali lagi bergetar. Sebenarnya
sudah kurasakan sedari tadi. Tapi aku sengaja tidak merespon karna kutau itu
SMS, dan aku rasa tidak terlalu penting. Lagi pula sedari tadi aku sibuk
memikirkan hhal-hal yang akhir-akhir ini tejadi antara aku dan Rosan. Kekikukan
yang semakin terasa,karena semakin sering aku tertangkap basah sedang menatap
wajah manis Rosan.
Aku mendesah pelan,
membuka handphone dan mambaca pesan singkat di dalamnya.
“ kamu kemana aja, kamu tau gak dari
tadi aku telpon nomor kamu tapi sibuk terus. Kamu kenapa sih? Kamu sehat kan?
Baik-baik aja?”
SMS dari Keyla lah yang pertama kali terlihat saat aku buka hp. Aku baru sadar
betapa sibuknya aku sampai lupa kalau aku sudah berjanji akan ngobrol dengan
Keyla tepat pukul 4. Saat Manila pukul 4 kira-kira pukul 3 di Indonesia. Ya aku
berjanji akan menemani Keyla mengobrol begitu dia pulang kuliah. Sementara
sebelumnya aku udah bilang kalau hari itu aku tak akan ada apa –apa untuk
dikerjakan. Istilahnya aku free di hari itu. Tapi beginilah, yang direncanakan
selalu tidak pernah terjadi dengan mulus. Ada saja hal yang mengganggu.
Aku yakin saat ini Keyla pasti sangat khawatir. Mungkin dia sedang memikirkan
hal yang enggak-enggak karena aku terlambat mengabarinya. Janji untuk segera
mengabarinya terpaksa harus kuundur 2 jam karena masalah di kampus tadi.
***
Pernyataan yang terlalu jujur dari seorang Rosan. Entah kenapa dia bisa sejujur
itu mengatakan kalau dia menyukaiku. Dia mengatakannya begitu saja. Membuatku
merasa kalau caranya mengungkapkan rasa suka itu bukan karena dia benar-benar
menyukaiku, tapi karena sesuatu yang sebenarnya aku pun tak tahu sesuatu
seperti apa itu.
Tidak lebih dari sebulan aku mengenal Rosan. Itu bukan waktu yang panjang.
Bagiku waktu satu bulan adalah wakt yang sangat singkat. lalu bagaimana mungkin
dengan waktu yang hanya satu bulan mengenal satu sama lain lalu Rosan buisa
mengatakn suka kepadaku.
Apa benar dia menyukai aku? Apa yang
sebenarnya dia suka dari aku? Apa kah mungkin waktu yang hanya satu bulan itu
mampu menunjukkan betapa baiknya aku sehingga Rosan bisa dengan tiba-tiba
menyukaiku?
Sungguh membingungkan.
Aku terpaksa melupakan janji untuk
ngobrol dengan Keyla karena tiba-tiba Rosan menelpon untuk segera datang
ke rumah sakit. Ternyata kondisi Mama Rosan tiba-tiba down. Sungguh tidak
mungkin aku mengabaikan panggilan ini. Rosan sudah kuanggap teman dekatku.
Bukankahseorang teman harus selalu ada disaat teman yang lain memerlukannya?
Lalu aku menghubungi Roy dan Bian
untuk melihat keadaan Mama Rosan.
Untungnya dua orang ini selalu
mengerti aku. Selalu bisa menjadi teman yang baik. Yang benar-benar ada saat
aku memang benar-benar memerlukan mereka.
" Bian aku tunggu di rumah
sakit, aku jalan duluan, kalian cepat nyusul ya? "
aku bergegas keluar, menyusuri
jalan-jalan gelap Manila di tengah malam dan berharap tidak ada sesuatu yang
benar-benar memahayakn keadaan mama Rosan.
Bagaimanapun juga aku tetap harus
mengahawatirkan keadaan mama dari temanku. Aku bisa bayangan betapa sedihnya
perasaan Rosan kalau sampai mamanya semakin parah.
“ Mah, aku khawatir dengan apa yang
terjadi sekarang ini. Aku tau apa yang lakukan saat ini gak betul. “ aku
mencoba menahan agar air mata ku tak keluar. Jujur perasaan bersalahku terhadap
Keyla telah membuat aku benar-benar lemah.
“ Sabar dulu Revan, jangan terburu-buru menyalahkan diri kamu. Kalau memang
kamu benar-benar merasa bersalah saat ini, Mama rasa lebih baik kamu tinggalkan
perempuan itu. Mama bukan menyuruh kamu menyakiti perempuan lain , tapi kamu
fikirlah sendir mana yang kamu rasa baik untuk kamu lakukan. “
“ Tapi Mah, Revan bener-benar tak tau apa yang harus Revan buat. Revan gak mau
nyakitin dia.”
Dari ujung telpon kudengar suara
Mama mendesah nafas panjang yang terdengar sanget berat. Lebih merasa bersalah
kepada Mama karena melibatkan dia dalam masalahku. Dalam hati aku mengutuk
diriku. Bodohnya aku sampai harus membuat Mama ku sendiri capek mendengar omong
kosongku! Sangat bodoh! Lalu aku sadar apa yang akan kulakukan.
“ Mah, Mamah istirahat saja. Revan
mau ke kampus, ada yang akan revan kerjakan. “ aku mencoba memutus obrolan. Aku
tak mau membuat Mama semakin pusing mendengar masalahku.
“ Tunggu Van…”
Aku sengaja langsung menutup telpon
. takut Mama menyanyakan hal yang enggak-enggak lagi. Ya memang aku sudah 21
tahun. Tapi sungguh hal perasaan seperti ini bisa mebuatku sangat sedih dan
bingung tak karuan. Masalah hati yang rumit. San memang karena kebodohanku
juga. Kenapa aku begitu mudahnya masuk ke dunia Rosan. Huffffttttt…
***
“ Revan , makasih banget karena kamu
sudah ngasih kebahahgiaan yang sempurna yang selama ini aku cari.” Rosan
tiba-tiba saja sudah duduk di sampingku. Aku mendongak menatap Rosan. Matanya
merah dan berair seperti hampir menangis. Aku tiba-tiba saja merasa iba.
Aku tersenyum “ Gak papa Rosan , itu
karna aku saying sama kamu, itu aja” aku menarik nafas panjang untuk mengatakan
itu “ sayang”
Kalau saja Keyla tau aku mengatakan
sayang kepada orang lain yang dia tak kenal, aku sudah bisa bayangkan apa yang
akan dia lakukan. Keyla bukan jenis orang yang suka mara-marah kalau tau
aku mengatakannya kepada orang lain. Tapi dia akan mengerti. Lalu
perlahan-lahan menjauh pergi, tanpa mengatakan apapun. Dan aku lebih takut itu
terjadi dibanding dia marah, dan mengatkan aku tukang selingkuh pada semua
orang. Caranya menjauh dengan diam itu jauh lebih menyakitkan.
Begitulah Keyla. Dia tak akan pernah
meneriakiku dengan kata-kata jorok kalau dia merasa ada perilaku yang aneh
padaku. Tapi dia akan diam. Seakan memikirkan apa yang berubah. Dia akan
menimbang kira-kira apa yang membuat ku aneh. Kalau dia sama sekali tak
menemukan jawaban, barulah dia akan melapor dan menanyakan soal ke anehanku ke
Mama. Selalu seperti itu, semenjak kami berkenalan setahun yang lalu. Itulah
hal yang paling berbeda yang kurasakan daripada perempuan-perempuan yang pernah
kupacari sebelum Keyla.
Keyla memang bukan pacar pertamaku.
Sebelum Keyla ada beberapa perempuan yang sempat kupacari. Tapi benar-benar tak
ada yang ku rasa sesuai. Aku mendapat banyak masalah dibandingkan kebahagiaan
selama dengan mmereka.
Sungguh berbeda dibandingkan Keyla
yang selalu bisa membuatku merasa nyaman saat berada di sampingnya. Aku bahkan
pernah merasa sebagai seorang laki-laki yang sangat beruntung karena bisa
menjadi pacar pertmanya Keyla. Yah , memang aku adalah pacar pertama bagi
Keyla. Entahlah , apa dia menganggapku cinta peramanya atau tidak . Karena tak
selalunya pacar pertama bisa menjadi pacar pertama . Iya kan?
Masa-masa pacaran ku saat sebelum
dengan Keyla memang tak pernah lama. Hanya bisa bertahan sampai sekitar satu
bulan atau dua tiga bulan, bahkan ada yang hanya bertahan satu minggu saja.
Kalau ditanya kenapa , sudah pasti karena aku merasa tidak cocok dengan mereka
semua. Kira-kira ada sekitar 5 orang yang pernah kukenal sebelum aku mengenal
Keyla. Dan Keyla lah yang aku rasa paling menarik diantara mereka semua.
Keyla punya kepribadian yang menarik. Sikap yang lemah lembut yang akan disukai
oleh siapapun yang mengenal dia. Keyla memang sangat kalem, tapi suka
tersenyum. Dan senyum itu lah yang senantiasa kurindukan bahkan saat aku sedang
tertidur. Diam-diam senyum Keyla mengahantui mimpiku . Membuat tidurku sangat
lelap sampai-sampai aku lupa untuk bangun dan akhirnya terlambat berangkat
sekolah.
Seperti hari itu :
" Ya ampun Revan kamu ini gimana sih? Kenapa udah jam segini belum bangun
juga? Kamu gak sekolah? " Tiba-tiba saja suara mama menggelegar di
kupingku.
" Mama apa-apaan sih, aku kan lagi enak-enaknya mimpi, kenapa di ganggu
sih mah," sebenarnya aku belum terlalu sadar karena baru bangun. Tapi
bisa-bisanya aku malah membebel karena mama yang mencoba membangunkanku.
" Lah kamu ini di bangunin bukannya bersyukur malah marahin mama. Sana
cepat mandi. Sana cepat! " mama manarik selimut yang masih menempel di
tubuhku.
" Mama mah, kan baru jam berapa juga. Revan mau tidur lagi mah. Mau
mimpiin Keyla lagi. Mama sih ganggu Revan mimpi. Jadi tanggung deh mimpi
Revan"
aku menarik kembali selimut yang sudah ditarik mama hingga kebawah kakiku. Aku
menariknya sampai menutupi semua badanku.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Mama malah keluar dari kamarku. Aku mendengarnya
berjalan keluar menuju pintu lalu menutup pintu perlahan. Hal ini membuat aku
bingung. Bukannya memaksa untuk bangun lagi, Mama malah meninggalkan aku yang
akan tertidur lelap.
Keanehan ini membuat aku sontak melek dan terbangun lalu bangkit dari tempat
tidur. Lalu aku memandang weccker di sebelah tempat tidurku.
“ pukul 7! “ tepat pukul 7. Yang
artinya aku telat bangun. Aku melotot kebingungan. Aku heran kenapa mama malah
meninggalkanku, dan bukannya memaksa bangun tidur padahal mama tau kalau aku
sudah telat.
Aku berlari menuju kamar mandi. Mengambil segayung air lalu mencuci muka. Tak
ada kata mandi untuk orang yang sudah telat bangun sepertiku. Aku terpaksa
berangkat sekolah dengan hanya cuci muka saja, tanpa mandi.
Semua ini nekad kulakukan karena memang yang terngiang di otakku adalah janji
yang telah kubuat dengan Keyla. Aku tak mungkin mengingkari janji itu. Aku tak
mau membuat Keyla sedih dan kecewa. Hufff, paling tak tega kalau sudah melihat
wajah Keyla murung. Langsung membuat aku lemas saja.
Setiap harinya saat akan beremu Keyla, sebisa mungkin aku tak ingin menyakiti
hatinya. Sungguh kasihan kalau Keyla sudah diam dan Nampak sedih. Aku tak ingin
itu terjadi. Dan aku harus sampai ke sekolah bagaimana pun caranya.
Memang akan sangat membuat Keyla kecewa kalau aku sampai tak hadir sekolah hari
ini. Semalam semasa di sekolah Keyla mengatakan kalau aku harus menyaksikan
debat Bahasa inggrisnya dengan kelas lain.
“ pokoknya kamu harus liat aku debat dengan kelas sebelah. Gak ada alasan
terlambat sekolah, atau terlmabat bangun, atau ketinggalan angkot, Dll. “
Aku mengangguk.
“ jangan Cuma ngangguk aja dong Van. Kamu harus janji” Keyla menyodorkan jari
kelingkingnya ke depan mukaku. Tanda kalau aku sudah berjanji yang artinya ,
bagaimana pun dan apapun yang terjadi, aku harus menepatinya.
Jadilah aku seperti ini. Tunggang langgang kesusahan,akibat telat bangun. Dan
peneyebabnya hanya satu : aku yang terlalu tergila- gila dengan senyum manis
Keyla.
Aku akan menyampaikan ketidakpuasan hati ku ini kepada Keyla. Aku akan
menyanyainya apa yang telah dia lakukan padaku , sehingga senyumnya yang sangat
manis itu selalu masuk ke dalam mimpi ku. Semua keterlambatan ini disebab kan
oleh senyum manis Keyla. Eh salah , senyum yang terlalu manis. Benar.
Terlalu dan terlalu manis. Membuatku ingin terus bermimpi.
Setelah memakai seragam lengkap dan
memasukkan semua buku kedalam tas, aku segera berlari ke bawah melewati tangga.
Kebetulan mama berdiri dibawah tangga dan tentunya dengan wajah kebingungan.
Masih belum sadar dari kebingungannya aku lalu menyerbu mama dengan pertanyaan.
“ Mah kenapa Revan gak dibangunin sih. Udah tau juga Revan telat , bukannya di
bangunin eh malah di cuekin. Gimana sih mama? “
Mama melotot mendengar pertanyaanku.
“ sejak kapan pula mama gak bangunin kamu, mama udah bangunin tapi kamu malah
sebut-sebut nama Keyla. Jadi mama pikir kamu demam,jadi mama telpon dokter,bentar
lagi dokternya datang. “
Yahhhhhh , beginilah mama, belum tau
kepaastian malah sudah panggil dokter aja. :/
"Revan gak kenapa- napa kok mah. Dokternya di suruh balik lagi aja. Revan
mau berangkat sekolah. Aku segera menyalam mama dan berlari keluar."
“ dah mama. “
Aku tentu tak tau apa reaksi mama selanjutnya. Yang kupikirkan sekarang ,
bagaimana caranya agar bisa sampai di sekolah tepat tengah 8. Karna di jam
itulah, debat Bahasa inggrisnya Keyla akan melawan kelas lain.
Aku berlari ke simpang jalan tempat aku biasa menunggu angkot.biasanya butuh 20
menit untuk menunggu angkot datang. Sedangkan waktuku hanya tinggal 25 menit.
Tapi ternyata Tuhan tau apa yang kuperlukan.
Bukannya kesusahan menunggu angkot, aku malah didatangi tiba-tiba oleh
seorang perempuan ( bukan hantu ) yang ternyata anak SMA, yang sepertinya bukan
berasal dari sekolah yang sama denganku. Menurut perkiraanku, dan melihat dari
penampilannya, gadis itu mungkin adalah salah satu dari murid yang sekolah di
SMA favorit di kawasan pendidikan ini. Dia menaiki sebuah sepeda motor. Sambal
tersenyum, lalu dia menghentikan motor bebeknya tepat di depanku.
“ telat bangun ya ? ayo naik? “ dia tersenyum.
Wah. Aku sedikit merinding dibuatnya. Bisa-bisanya dia tau kalau aku telat
bangun. Udah gitu main suruh naik aja lagi. Tapi akhirnya aku naik juga tanpa
disuruh 2 kali.
“ eh ngomong-ngomong kok tau sih aku telat bangun. Kamu dukun ya? “ aku
bertanya sedikit sungkan. Takut dia akan tersinggung kalau aku menyebutnya
dukun.
Dia malah cengengesan, “ hahaha, aku bukan dukun. Cume tertulis aja di wajah
kamu, aku telat bangun tolong tumpangin aku. Kata-kata itu terlihat jelas di
muka kamu tau gak? “ dia tertawa sekali lagi.
Ya ampun. Seburuk itu kah tampangku terlihat. Tega-teganya si mbak cantik ini
ngomong begitu di depanku.
“ emang keliatan banget ya kalau aku gak mandi? “ aku mencoba memastikan.
“ haha, ya iyalah. Lagian tai mata kamu juga masih nempel di situ’
Wah, si kakak ini jujurnya
kelewatan. Buat sakit hati aja. Tapi lebih baik seperti itu juga sih. Aku kan
jadi tau kalau ternyata ada tai mata di mata ku. Setidaknya aku bisa mengoreksi
diri supaya tidak terlihat konyol di depan Keyla.
Akhirnya sampai juga di sekolah. Cewe ini ternyata suka ngebalap juga. Gak
sampe 15 menit kami udah nyampe di sekolah. Aku benar-benar beruntung bisa
ketemu dia di saat yang sangat tepat.
Setelah mengucapkan terimakasih aku
langsung saja berlari ke pekarangan sekolah. Belum lagi dia menjawab kata
terimakasihku aku sudah ngacir begitu saja meninggalkan dia.
Aku sampai di kelas tepat 5 menit sebelum acara baris-berbaris. Setelah guru
menyampaikan pidatonya, akhirnya tiba saatnya Keyla tampil kedepan. Setiap
kelas diwakili oleh 2 orang murid. Perwakilan dari kelas Keyla pun mulai
melangkah ke depan. Tentu saja aku Keyla dan satu orang temannya yang akan maju
kedepan. Aku sudah tidak sabar mendengar celotehan Keyla dalam Bahasa inggris.
Aku suka mendengarnya berceloteh menggunakan Bahasa inggris. Terdengar begitu
keren dan memukau.
Tapi, Keyla tak maju ke depan. Yang ada malah teman sebangku Keyla, Sere dan
satu orang lagi yang aku tidak tau namanya. Mereka maju ke depan podium di
sebelah tiang bendera sambal tersenyum.
“ Loh, ada apa ini? “ aku menyikut teman di sebelahku yang juga ketua
OSIS di sekolah.
“ loh apanya ? “ dia malah bertanya kebingungan.
Aku mengernyitkan kening,
“ bukankah hari ini petugas debat Bahasa inggris itu Keyla? “ aku bertanya.
“ ya ampun, Keyla kan sakit. Masa iya aku mau paksa dia datang ke sekolah Cuma
untuk buat debat bahasa inggris ini? Lagian kamu ini gimana sih. Keadaan pacar
sendiri masa gak tau? “ dia malah balik menyalahkanku.
" Keyla sakit?" Aku malah bertanya balik pada diriku sendiri.
( sebelumnya cerita tentang rosan yang mengatakan
sayang kepada Revan )
Aku segera merogoh kantong dan
mengeluarkan handphone. Aku menghubungi nomor Keyla. Tapi yang terdengar malah
nada sibuk di kejauhan. Aku mengeluh keras. Jujur aku khawatir terjadi sesutau
yang tidak-tidak dengan keyla. Jadi kupputuskan untuk menelepon ke nomor rumahnya.
Sama saja. Tak ada seorang pun yang menjawab telpon.
Kemana semua orang ? Membuat ku khawatir saja. Aku buru-buru dari rumah dan
bersemangat datang ke sekolah adalah karenan Keyla. Tapi setelah tahu Keyla
dalam keadaan yang tidak pasti seperti ini membuatku benar-beanr down dang
langsung tidak bersemangat.
Lalu Hpku bergetar dan terlihat nama Keyla.
" Revan ? ada apa ? Kamu gak sekolah. Udah jam 9 bukannya seharusnya kamu
ada dalam kelas? " terdengar suara Keyla di kejauhan. Ya ampun. Dia malah
menanya aku sekolah atau tidak sementara seharunya akulah yang harus menanyai
dia pertanyaan seperti itu.
" Keyla sayang, harusnya aku yang nanya kayak gitu sama kamu. Kamu kemana
aja. Kenapa gak masuk sekolah. Kata ketua Osis kamu sakit? "
Hahah,
Dia malah tertawa. Aduh Keyla ini, ditanya malah kasih jawaban seperti
itu.
" Iya aku lagi sakit Revan. Demam aja sih. Ini lagi di Klinik ditemenin
sama Yuni. "
Aku terkejut saat Keyla membawa Yuni masuk dalam percakapan ini. Sebelumnya
Keyla tak pernah menyebut tentang sahabat lamanya itu. Setauku Yuni dan Keyla
bertankar hebat saat Keyla SMP. Lalu kenapa sekarang tiba-tiba Keyla menyebut
Yuni lagi?
Aku masih ingat kata-kata Keyla yang mengatak betapa dia sangat membenci orang
yang bernama Yuni. Gadis tomboy yang selalu bersikap kalau dia adalah seorang
laki-laki. Dia menganggap dirinya laki-laki tulen bukannya perempuan. Sementara
kalau dilihat dari gambar yang pernah ditunjukkan Keyla kepadaku tellihat jelas
kalau Yuni itu sam adengan namanya yaitu seorang perempuan.
" Yuni? Yuni siapa Key? "
" Yah , Yuni sahabat aku dong Revan. Yuni siapa lagi. Orang aku cuma punya
satu sahabat aja kok di dunia ini. Hahaha"
Meskipun mengaku sakit, tapi tawa Keyla bukan mengisyaratkan seperti orang yang
kesakitan. Sebaliknya dia terdenar sangat ceria dan bahagia. Ada apa
sebenarnya?
Lalu tiba-tiba hubungan terputus. keyla mematikan Hpnya. Semenit kemuadian
muncul SMS dari Keyla.
" Sorry ya Revan Hp aku lowbat, nanti sampai di rumah aku hubungi kamu.
Aku mau cerita sesuatu tentang Yuni. Jangan lupa kamu harus segra masuk kelas.
Dan jangan sampe bolos pelajaran ya. Bye sayang. "
begitu saja.
Keyla memang suka menggantung cerita dan akhirnya membuatku jadi penasaran.
Lalu aku teringat bahwa aku seharunya berada di kelas saat ini. Bukan malah
berada di kamar mandi dengan Hp di tanganku. Bisa-bisa guru memenrgoki ku lalu
membawaku ke ruangan BP. aku segera berlari ke kelas.
***
( Cerita selanjutnya keyla menelepon revan dan
menceritakna kalau sebernarnya yuni sudah kembali 1 bulan yang lalu. dia datang
kerumah sakit meminta maaf dan dia sudah kembali mamakai jilbab)
Lanjutan
“ revan, kamu sebagai teman aku,
bisa gak kamu tolong aku. Kalau kamu bisa tolong aku saat ini juga, aku akan
berterimakasih sangat sama kamu. Aku benar-benar butuh pertolongan kamu,
please.” tangannya saling menggenggam satu sama lain. Dia terlihat gugup dan ketakutan, aku menjadi semakin penasaran.
Ah, permintaan tolong yang sangat
menyayat hati. Rosan meminta tolong sambil bercucuran airmata. Aku yang seorang
laki-laki ini memang sangat tidak tega melihat airmata perempuan terjatuh,
terlebih kalau melihat mama menangis.
Airmatanya masih saja terjatuh sampai dia mengulang lagi pertanyaannya, " bisa gak kamu tolong aku, aku mohon? "
Tiba-tiba hatiku tergerak begitu
saja mengatakan “ iya “ .
kata-kata itu keluar secara spontan
dan tanpa aku sadari. Rosan mendongak dengan cepat setalah mendengarku
mengatakan iya. Lagipun aku mendengar sebuah kata yang sangat tidak enak kalau sampai aku menolaknya. Rosan mengatakan " aku mohon", bagaimana mungkin aku bisa menolaknya?
“ kamu serius mau tolong aku ?
apapun? “
Pertanyaan yang menakutkan kalau
diikutkan dengan perkataan apapun. Tapi aku rasa tidak salah membantu. Lagipun
selagi aku bisa kenapa tidak?
Aku menjawab dengan menggangguk.
Anggukan itu ternyata membuat dia bisa tersenyum. Semenjak pagi tadi dia hanya
terdiam saja. Menunduk seperti orang yang kebingungan.
Lalu dia menceritakan semua. Dari
awal sampai akhir. Dan cerita iti membuatku tau kalau selama ini senyum dan
keceriaan yang dia bagi dengaku itu semua palsu dan hanya rekaan semata. Semua
tawa dan candaan itu hanya sebagai topeng saja.
Rosan menyimpan beban yang
sepertinya hanya aku yang tau saat ini. Beban itu lebih kepada alasan ayahnya
yang saat ini sedan berjuang melawan mati di rumah sakit.
Yah, selama ini Rosan hanya bungkam
dan tak pernah bercerita kalau mamanya sudah menginap lama di rumah sakit.
Penyakit langka dan tau apa penyebabnya.
Rosan berakting seperti semuanya
baik-baik saja. Tapi begitu dia datang ke rumah sakit dan melihat wajah mamanya
semakin lemah, disitulah dia mulai merasa bahwa hidup ini sedikit tidak adil
baginya.
Ceritan yang begitu rinci, dan
juga sekaligus menyayat hatiku. Tapi aneh kenapa baru sekarang dia
membuka semua cerita ini? Selama ini kemana semua cerita ini dia simpan? Dia
pendam sendiri? Membuat aku penasaran saja. Sekuat itukah hatinya sampai -sampai bisa menyembunyikan cerita itu sekian lama? Wah!
“ apa yang bisa ku bantu “ aku
begitu penasaran. Jadi kurasa lebih baik kalau aku menanya langsung ke topic
utama.
“ dokter lagi nyaris seorang
pendonor yang darahnya sama dengan golongan darah mamaku. Sementara golongan
darahku tidak sama dengan mama. Aku bergolongan darah ayah. Dan aku tidak tau
harus kemana lagi mencari pendonor darah yang bisa mambantu mama dengan iklas.
Sementara aku tidak punya sepeser pun untuk membayar pendonor. Aku benar-benar
bingung Van. “
Sekarang aku mengerti. Tepat seperti
dugaanku sebelumnya. Mama Rosan membutuhkan seorang pendonor darah yang bisa
mendonorkan darahnya secara iklas dan tanpa tunjangan apapun. Aku bisa paham.
Selama dekat dengan Rosan, meskipun
dia selalu terlihat ceria dan bagaikan mempunyai segalanya, tapi ternyata Rosan
sungguh sederhana. Dia kuliah di Manila adalah terpaksa untuk mewujudkan
keinginan Mamanya. Dia tak pernah bercerita kepada siapapun tentang keadaannya.
Dia manjalani aktivitasnya layaknya anak-anak lain yang seluruh kebutuhannya di
tanggung oleh orangtua. Dan dia membuat seakan semua nya baik-baik saja.
Tidak kusangka di balik keceriaan
dan kecentilan Rosan selama ini dia menyimpan sebuah luka yang kalau aku
mendapat luka itu pun pasti terasa amat menyakitkan.
Hidupku enak. Lengakap dengan dua
orang tua yang selalu siap menyayangi dan memenuhi semua kebutuhanku.
Semua kebutuhan sehari-hari tidak
ada yang kurang. Bahkan terasa lebih karena orang tua yang terlalju
memanjakanku. Walau sebenarnya tidak suka terlalu dimanjakan. Membaut merasa
sepertiaku anak cengeng yang harus selalu dekat dengan orang tua. Itulah salah
satu sebab aku ingin kuliah di Manila. Ingin membuktikan kalau aku bukan anak
lemah yang cengeng.
Tapi lain lagi dengan Rosan. Dia
sama sekali jauh dari kata tanggungan orangtua. Kedua orangtuanya bercerai.
Ayahnya yang ternyata asli orang Manila dengan tega meninggalkan idtrinya
begitu saja setelah tau ternyata dia mengidap sejenis penyakit langka yang
mematikan dan bisa menular kapan saja.
Sungguh disayangkan masih ada orang yang dengan tega bersikap seperti itu bahakan
terhadap istrinya sendiri. Mendengar cerita Rosan selama ini, Ayahnya yang
entah tinggal dimana itu kini telah menikahi perempuan Manila dan mempunyai
seorang jagoan kecil berumur 4 tahun.
Tentu saja cerita yang sangat sedih, mengingat Rosan dan ibunya ditingal begitu
saja bahkan saat Rosan masih SMP kelas 3. Mungkin Rosan sudah terbiasa dengan
apa yang terjadi di kelaurganya. Ayahnya yang meninggalkan mereka, dan ibunya
yang sudah sakit-sakitan hampir selama 3 tahun.
Untungnya Rosan mempunyai kakek dan nenek yang juga tinggal di Manila dan mereka
cukup berasa. Setidaknya mereka yang membawa ibu rosan ke rumah sakit tempat
saat ini Ibu Rosan dirawat. Hampir 2 tahun ibu Rosan hanya bertahan di rumah
tanpa pengobatan medis. Baru tahun lalu lah kakek nenek Rosan membawa ibunya ke
rumah sakit dan membiayai segala kebutuhan medisnya.Mereka jugalah yang membuat
Rosan akhirnya bisa berada di Universitas yang sama denganku. Kalau dipikir- pikir lagi, kehisupan yang kurasakan sulit selama ini , aku merasa sedih saat tahu ternyata aku jauh lebih beruntung dibandingkan Rosan.
Hmmmm, beginilah yang namanya hidup, kadang manusia terlalau egois untuk menyadari betapa apa yang dia miliki sebenarnya sudah sangat beruntung dibandingkan dengan orang lain. Berkali kali aku menarik nafas, sedikit penyesalan ada di hatiku, mengingat duku aku yang selalu mengeluh hanya karena hal-hal kecil fdan ,asalah yang sebanarnya tidaklah terlalu serius.
Bukankah aku beruntung bahwa kedua orang tua ku tidak pernah ribut dirumah, bahkan sampai harus bercerai seperti orangtua Rosan? Bukankah jauh lebih beruntung hidupku?
Selama aku tinggal bersama kedua orantuaku, takpernah aku melihat mereka bertengkar, entahlah , tapi baru sekarang aku menyedari ternyata aku sangat beruntung lahir dari kedua orang tua yang telah membesarkan aku.
"
( ceira selanjutnya : Revan ingin menfonorkan darah
tapi ternya darhnya tidak cocok )
LANJUTAN
**********************************************
Baru saja aku mamutuskan hubungan
telpon dengan Keyla, saat kemudian muncul nama Rosan di depan layar HPku. Tak
biasanya Rosan menelepon saat tengah malam seperti ini, karena dia tahu kalau
aku pasti sedang mengobrol dengan Keyla.
Aku memang pernah memebritahunya
bahwa jangan pernah menghubungiku dengan alasan apapun saat tengah malam.
Karena disaat itu aku sedang meluangkan waktu untuk date dengan
Keyla. Tapi ini?
Aku segera menjawab, lagi pun aku
sudah selesai mengobrol dengan Keyla. Jadi taka da yang harus ku khawatikan.
“ halo San, kamu kenapa?
“
“ Revan, tadi dokter
telpon aku dari rumah sakit. Besok aku harus datang ke rumah sakit ada report penting
dari rumah sakit yang ingin mereka kasih tau ke aku. Kamu bisa temenin aku kan?
“
Besok? Besok hari libur
kuliah, dan aku tak ada rencana apapun untuk dilakukan besok. Jadi aku rasa
tidak ada salahnya menemani Rosan menemui mamanya. Lagipun aku sudah terbiasa
dengan suasana rumah sakit tempat mama Rosan dirawat. Bukan sekali dua kali
saja aku pernah ke sana. Bisa dikatakan sudah sering.
“ oke San, lagian aku
gak ada kuliah kok besok. Jadi aku bisa temenin kamu. Jam berapa nih? “
“ sekitar jam 10 gitu
deh Van, aku jemput kamu deh ke rumah ya ? “
“ eh gak usah San, biar
aku naik bus aja. Lagian udah biasa kok. Haha aku bukan anak manja kali San. “
aku mencoba mengajak bercanda. Tapi sepertinya Rosan tidak dalam mood yang baik
untuk diajaka becanda. Sebagai balasannya dia menjawabku dengan serius.
“ bukan gitu Van. Aku
takut sampai kamu telat atau tiba-tiba ada halangan atau apa gitu. Karena kau
rasa report yang mau dikasih tahu dokter samaku sepertinya
penting banget. Kamu harus janji kalau kama akan datang ya. Jangan kecewakan
aku loh Van. Please. “
Wah, aku tidak menyangka
dia akan seserius itu.
“ baik, baik Rosan. Aku
gak akan lupa. Sampai jumpa besok ya. “
Aku menutup Hp.
Mendengar cara Rosan berbicara, seperti ada kekhawatiran tersimpan di setiap
perkataannya. Membuatku curiga saja. Ada apa sebenarnya?
***
Rosan berlari keluar
dengan beraburan airmata dan sambil menutupi wajahnya. Lalu dia duduk di
sampingku. Menangis.
“ Revan, mamaku
meniggal, “ Rosan terisak sambil sedikit membungkuk tepat disampingku. Aku bisa
rasakan kesedihan yang dirasakan Rosan. Bagaimana pun , aku pernah menemani
Rosan saat dia mengobrol dengan mamanya. Beliau seorang yang humoris dan bisa
membuat siapapun yang berada di sampingnya ikut tertawa. Setidaknya itulah yang
kurasakan. Bahkan saat dia harus terletak lemah di rumah sakit, dia masih bisa
selalu mengingatkan Rosan yang sibuk dengan jadwal kuliahnya agar tidak lupa
untuk makan tepat waktu. Membuatku sungguh terharu.
Rosan masih saja
terisak, semakin keras. Dibalik kesedihan yang juga kurasa, jujur aku tak tau
harus melakukan apa. Apakah aku harus menghampirinya lalu mengatakan kalau aku
turut berduka atas menginggalnya mama yang sangat dia sayangi. Ataukah aku
harus memeluknya dan mengatakan jangan menangis lagi? Aku bingung.
Sebagai gantinya, aku
menarik tangannya yang sedari tadi menutupi wajahnya. Malu karena ketahuan
menangis didepanku.
“ Rosan, jangan sedih
dong, “ aku mengambil tisu untuk melap airmatanya yang masih belum berhenti
menetes. Lalu dia memandangku dengan mata merahnya yang kini sudah bengkak.
Wajahnya seperti
mengeluarkan pertanyaan, “ kamu bilang jangan sedih? Bagaimana mungkin seorang
mama yang sangat kusayangi meninggal dan aku tidak sedih? “ meskipun dia tak
mengucapkannya, tapi aku tau mungkin itulah maksudnya. Lalu kuputuskan menukar
kalimat sebelumnya.
“ kamu boleh sedih, tapi
kamu harus ingat masih ada papa kamu dan juga aku yang akan terus sayang sama
kamu, jadi kamu jangan terlarut dalam kesedihan ini aja. “ aku rasa kalimat ini
jauh lebih cocok disbanding kalimat bodoh yang kuucapkan sebelumnya.
“ kita sama-sama hadapi
ini ya? Kita harus kuat. “ aku menggenggam erat tangan Rosan. Masih menggigil.
Tiba-tiba Rosan
memandangku lekat. Lama sekali. Mungkin dia meragukan apa yang kukatakan. Atau
mungkin dia terkejut mendengar kata-kata yang baru kukeluarkan. “ menghadapi
semuanya bersama-sama?” ya ampun. Kalimat bodoh apa lagi yang baru saja
kukatakan barusan. Tidak seharunya aku bicara seperti itu.
Yang kumaksudkan adalah
menemani dia sebagai seorang teman. Yah, sebagai seorang teman. Jangan sampai
Rosan salah tanggap dengan arti kalimat yang kuucapkan tadi. Aku tidak ingin
dia berpikiran yang enggak-enggak. Jadi kuputuskan untuk menjelaskan.
“ kamu jangan salah
tanggap ya Rosan. Kita kan teman, dan seorang teman memang harus selalu setia
saat temannya dalam masalah kan? Aku teman kamu dan aku akan terus setia
menghadapi kesusahan kamus sebagai seorang teman. “
Rosan tiba-tiba
melepaskan tanganku yang sedari tadi masih menggengam tangnnya. Dia
menghempaskan tanganku dengan kasar.
“ kamu gak perlu kasih
tau aku kalau kamu hanya mengganpku teman Revan, “ Rosan kembali terisak,
semakin keras.
“ aku udah tau lama
kalau aku sama sekali gak ada artinya buat kamu. Kita hanya teman, dan
selamanya akan begitu. Hanya sebatas teman. Aku tau. Tanpa kamu kasih tau, aku
sebenarnya sudah tahu.”
Tangis Rosan meledak
memenuhi rumah sakit yang sudah semakin sepi.
Aku sungguh tidak
menyangka reaksi Rosan akan separah itu. Padahal aku hanya menjelaskan saja
agar dia tidak salah paham. Tapi kenapa sekarang jadi seperti ini? Aku
kebingungan.
“ Rosan maafin aku. Aku
gak bermaksud untuk nyakitin kamu.”
Rosan sama sekali tidak
mendengar apa yang kukatakan. Dia masih saja terus tersedu-sedu, bahkan
airmatanya membasahi lantai.
“ apa harus sekarang
kamu memperjelas kalau kamu hanya menganggap ku teman? Harus sekarangkah Revan?
Di saat mama ku baru saja menginggal. Kamu tahu aku sekarang sedih
banget. Hati aku sakit banget. Selam ini aku selalu curhat dengan mama, selalu
ditemani mama. Dan sekarang mama aku satu-satunya pergi ninggalin aku, lalu
kamu datang dan mempejelas kalau kamu hanya menggapku teman? Hah? “ tangisnya
semakain meledak.
“ kenapa kamu juga gak
pergi aja Revan? Pergi aja! Tinggalin aku sendiri. Biar aku jadi orang yang
paling merana di dunia ini. Biar kalian semua puas melihat aku sedih. Pergi
aja!” rosan bangkit dari tempat duduknya lalu berlari menginggalkan aku.
Aku sungguh kebingungan
sampai tak tau apa yang harus kulakukan. Aku sadar kata-kataku telah melukai
hati Rosan. Aku menyesal sudauh mengatakan itu di saat-saat seperti ini. Memang
aku salah.
Baru saja aku ingin
berdiri untuk bermaksud mengejar Rosan, saat tiba-tiba seorang dokter keluar
dari ruangan tempat mama Rosan dirawat lalu berjalan menghampiriku.
“ are you family
LANJUTAN
**************************************