Entah apa yang membuat dia bisa tiba-tiba berada satu tempat denganku. Tempat favoritku di pagi hari : halte bus. Ya, halte bus kegemaranku. Halte yang selalu jadi tempat yang pertama kali akan kukunjungi begitu pagi hari kerja.
Yah,
halte inilah yang membawa aku pertama kali masuk ke dalam duniaku selanjutnya.
Semua dimulai dari halte ini. Begitu bus yang kutunggu tiba, bus akan membawa
ku ke tempat yang paling menyenangkan dan kuanggap surge dunia : temapt
kerjaku.
Aku
begitu mencintai tempat kerja ku dibandingkan apapun. Disanalah aku merasakan
kebebasan penuh dalam berekspresi.
Aku
bekerja di sebuah tempat penerbitan buku dan novel, dimana aku adalah salah
satu dari penulisnya yang berbakat. ( maaf kalau aku begitu menyombongkan diri,
tapi itu kenyataan).
Ada
sekitar 7 orang penulis yang paling diminati di tempat itu. Salah satunya ada
Ningsih purwasih, aku. Dan seorang lagi seorang teman sekaligus sahabat yang
paling mengerti aku.
Begitu
samapi di tempat kerja, aku akan merasa bagai sudah di surga. Lebih-lebih saat
aku sampai di meja kerjaku tersayang. Aku akan mulai berimajinasi. Pikiranku
akan mulai liar mencari-cari, kira-kira topic apa yang akan kujadikan santapan.
Setiap
hari kami dibebaskan mencari dan membuat sendiri sebanyak-banyaknya ceria yang
bisa kami buat dengan ide sendir. Tanpa ada unsur mencontek dari internet atau
plagiat dari cerita rekan sekerja.
Semua
harus tembus pandang dan asli dari otak dan imajinasi sendiri.
Dan
begitu saja, angan-angan akan kesengan di tempat kerja tiba-tiba terganggu oleh
ulah si monyong disampigku.
Tanpa
segannya dia mencungkil hidungnya di depan mataku. Keasikan mencungkil taik
hidung itu berlanjut hingga menit berikutnya hingga membuat ilfil seketika.
Aku
coba menahan amarahku. “ mungkin dia kurang waras “, setidaknya perkataan itu
yang bisa kuungkapkan untuk menenangkan diriku. Tapi aksi berikutnya sungguh
membuat darahku mendidih. Bukannya berhenti melakukan aksi gilanya, dia malah
semakin menggila.
Semakin
dalam dia mencungkil hidungnya, lalu memasukkan ke dalam mulut. Dalam hati aku
mengeram. Sampai akhirnya aku tidak tahan dan, “ bisa pergi gak dari sini?
Dasar orang gila”. Dadaku terasa panas dibuat kegilaannya. Entah sengaja atau
tidak tapi tingkahnya itu sungguh membuatku tidak nyaman.
Dia
memandangku dan menghentikan sejenak perkerjaannya. “ kenapa kamu marah-marah.
Aku tidak melakukan apapun yang menyakitimu. Kenapa kamu harus teriak-teriak
seperti itu di depanku? Memangnya apa yang sudah kulakukan? “
Wah,
pertanyaan itu. Apakah dia tidak sadar apa yang barusan dia lakukan itu sungguh
menjijikkan. Apa bagi dia hal seperti itu biasa saja. Bukankah itu pekerjaan
yang paling menjijikkan? Mencungkil hidung dan lalu memakannya? Hah! Yang benar
saja!
“
kamu bilang gak ngelakuin apapun? Bagaimana mungkin kamu merasa kalau kamu gak
ngelakuin apapun, sementara semua yang kamu lakukan itu menjijikkan bagiku? “
marahku semakin menjadi-jadi.
Dengan
tangan di pinggang dan suara yang keras sambal melotot ke arahnya ternyata
memancing orang lain untuk melihat perdebatan sengit ini.
“
mimpi apa aku semalam sampai ketemu orang gila kayak kamu, benar-benar merusak
suasana hatiku saja. “
Memang,
sedari tadi yang ada dalam bayanganku adalah aku yang akan segera sampai tempat
kerja dan akan segera menugnakan ide cerita yang sudah lama kurangkai dan akan
dijadikan cerita. Tapi melihat keadaan yang begini, sungguh membuatku hilang
mood. Rasanya tak ingin kerja saja.
Tiba-tiba
dia berdiri. Lalu menjukurkan tangannya. “ maafin aku. Aku kira kamu tidak akan
terganggu dengan kekonyolanku padahal aku hanya bercanda dan mencoba mencuru
perhatianmu. Aku tak mengira kamu akan jadi semarah ini. Maafkan aku. “
Mencuri
perhatian apa? Itukah cara terbaik yang dia punya untuk mencuri sebuah
perhatian dariku. Aku rasa ada beribu-ribu lagi cara lain yang bisa dia lakukan
tanpa harus menggunakan sesuatu yang berhubungan dengan taik hidung. Dan
sekarang? Setelah aku merasa muak, dia
malah ingin meminta maaf dariku? Dia pikir segampang itu? Setengah mati
aku mehanan jijik karna tingkah gilanya.
“
gak mau. Aku gak mau maafin kamu. Kamu kira segampang itu utntuk maafin kamu? Ikh…
gak benget deh…“ tanpa mengatakan
apa-apa lagi aku pergi meninggalkan dia dan mengabaikan tangannya yang bersiap
untuk minta maaf. Sialnya tangan itulah yang dia gunakan untuk mengorek taik
hidung itu. Apa iya aku harus menyambut permintaan maafnya dengan tangan itu? Dengan
tangan itu? Ah, yang benar saja!
Aku
berlari kecil meninggalkan dia untuk menyeberang. Kebetulan halte penungguan
bus di sekitar jalan ini bukan hanya satu. Mungkin sengaja di desain
berseberangan karena memang kawasan ini cukup ramai.
Aku
segera pindah ke halte bus yang satunya tanpa menghiraukan panggilannya yang
memekkankan telinga. Aku segera duduk sambal melipat kedua tanganku dan mencoba
meredakan panasnya hatiku. Dalam hati aku berharap agar dia tidak nekad
mendatangiku ke halte ini. Aku tak tau harus lari kemana lagi kalau benar dia
akan mendatangiku disini. Jalanan ini begitu penuh sesak.
Dia
masih menjerit-jerit memanggilku, “ mbak cantik… mbak cantik… “
Hufffttt,
entah dia ini siapa. Ini pertama kalinya aku melihat dia di kawasan ini. Apa pindahan
kali ya? Aku pun tak tau.
Dibilang
pengemis sepertinya bukan. Pengamen juga bukan. Baju yang dipakainya terlihat rapi
dan bersih. Lengkap dengan menggunakan selop carfil berwarna merah. Pokoknya sama
sekali tidak terlihat seperti gembel.
Satu-satunya
alasan menagapa aku menyebutnya orang gila adalah karena tingkah konyolnya yang
menjijikkan. Mencungkil hidung di depan umum sambal senyum-senyum tak jelas,
apakah itu normal?
Memang
aku paling tidak tahan melihat kekonyolan yang berhubungan dengan kegiatan jorok
seperti yang dilakukan pria barusan. Terasa ingin muntah saja saat melihat
manusia jorok itu mencungkil keluar taik hidungnya tepat didepan wajahku, bukan
itu saja, dia bahkan memakannya dan menjilat tangnnya seakan-akan itu adalah
permen cokelat yang sangat lezat. Arrrgrgggghhhh!
Entahlah,
mungkin ini karena turunan dari papa
atau apa, tapi yang jelas aku paling benci segala sesuatu yang berhubungan
dengan hal-hal jorok. Terlebih lagi taik hidung yang menurutku sangat jorok.
Padalah
aku juga manusia. Aku sadari itu. Dan tetunya punya upil juga. Tapi aku
pastikan untuk tidak mengorek upil di depan siapapun. Bahkan keluargaku atau
sahabat dekat sekalipun. Upil itu hal yang sangat pribadi bagiku. Tidak boleh
ada satupun orang yang tahu kalau ada upil di hidungku. Cukup aku saja yang
tau. Itulah aku. Aku tau saat yang teppat untuk mengluarkannya. Yaitu disaat
aku benar-benar sendirian di kamar.
Dari
semua deretan barang-barang jorok yang ku tahu, upil berada di urutan paling
atas. Barang yang paling kujauuhi dan paling kusegani. Kalau bisa, seandainya
bisa, tak perlu ada yang namanya upil di dunia ini. Tapi bagaimana pun juga,
itu tak akan terjadi, yah. Mana mungkin aku menyangkal apa yang sudah Tuhan
beri untuk kita manusia? Sedankan upil itu sudah dikirim satu paket bersama
tubuh kita dan tak mungkin bisa dipisahkan.
Dan
hari ini pula aku harus mengalami kejadian yang membuat aku teringat lagi akan
upil, sementara aku sudah berusaha untuk menghindarinya. Hah! Yang paling
menyebakan, kenapa harus terjadi tepat di hari pertama aku kerja? Hari dimana aku sangat bersemangat untuk bekerja.
Pria
itu benar-benar sudah merusak segalanya. Dia pikir mancungkil upil itu hal yang
sepele? dan bahkan dia memakan upilnya sendiri. Apa dia manusia? Ya, dia
manusia. Dia memang manusia. Tapi kenapa harus mengupil di depanku dan
memakannya tanpa rasa segan sedikitpun. Mebuatku bingung saja.







0 komentar:
Posting Komentar