KUMPULAN CERPEN

http://www.lokerseni.web.id/2014/03/cerpen-cinta.html

Cari Blog Lainnya Disini :

Kamis, 31 Maret 2016

"SEMUA DIMULAI DARI UPIL"

COWOK NGUPIL ITU BIKIN AKU ILFIL

Entah  apa yang membuat dia bisa tiba-tiba berada satu tempat denganku. Tempat favoritku di pagi hari : halte bus. Ya, halte bus kegemaranku. Halte yang selalu jadi tempat yang pertama kali akan kukunjungi begitu pagi hari kerja.

Yah, halte inilah yang membawa aku pertama kali masuk ke dalam duniaku selanjutnya. Semua dimulai dari halte ini. Begitu bus yang kutunggu tiba, bus akan membawa ku ke tempat yang paling menyenangkan dan kuanggap surge dunia : temapt kerjaku.
Aku begitu mencintai tempat kerja ku dibandingkan apapun. Disanalah aku merasakan kebebasan penuh dalam berekspresi.

Aku bekerja di sebuah tempat penerbitan buku dan novel, dimana aku adalah salah satu dari penulisnya yang berbakat. ( maaf kalau aku begitu menyombongkan diri, tapi itu kenyataan).
Ada sekitar 7 orang penulis yang paling diminati di tempat itu. Salah satunya ada Ningsih purwasih, aku. Dan seorang lagi seorang teman sekaligus sahabat yang paling mengerti aku.

Begitu samapi di tempat kerja, aku akan merasa bagai sudah di surga. Lebih-lebih saat aku sampai di meja kerjaku tersayang. Aku akan mulai berimajinasi. Pikiranku akan mulai liar mencari-cari, kira-kira topic apa yang akan kujadikan santapan.

Setiap hari kami dibebaskan mencari dan membuat sendiri sebanyak-banyaknya ceria yang bisa kami buat dengan ide sendir. Tanpa ada unsur mencontek dari internet atau plagiat dari cerita rekan sekerja.
Semua harus tembus pandang dan asli dari otak dan imajinasi sendiri.

Dan begitu saja, angan-angan akan kesengan di tempat kerja tiba-tiba terganggu oleh ulah si monyong disampigku.

Tanpa segannya dia mencungkil hidungnya di depan mataku. Keasikan mencungkil taik hidung itu berlanjut hingga menit berikutnya hingga membuat ilfil seketika.

Aku coba menahan amarahku. “ mungkin dia kurang waras “, setidaknya perkataan itu yang bisa kuungkapkan untuk menenangkan diriku. Tapi aksi berikutnya sungguh membuat darahku mendidih. Bukannya berhenti melakukan aksi gilanya, dia malah semakin menggila.

Semakin dalam dia mencungkil hidungnya, lalu memasukkan ke dalam mulut. Dalam hati aku mengeram. Sampai akhirnya aku tidak tahan dan, “ bisa pergi gak dari sini? Dasar orang gila”. Dadaku terasa panas dibuat kegilaannya. Entah sengaja atau tidak tapi tingkahnya itu sungguh membuatku tidak nyaman.

Dia memandangku dan menghentikan sejenak perkerjaannya. “ kenapa kamu marah-marah. Aku tidak melakukan apapun yang menyakitimu. Kenapa kamu harus teriak-teriak seperti itu di depanku? Memangnya apa yang sudah kulakukan? “

Wah, pertanyaan itu. Apakah dia tidak sadar apa yang barusan dia lakukan itu sungguh menjijikkan. Apa bagi dia hal seperti itu biasa saja. Bukankah itu pekerjaan yang paling menjijikkan? Mencungkil hidung dan lalu memakannya? Hah! Yang benar saja!

“ kamu bilang gak ngelakuin apapun? Bagaimana mungkin kamu merasa kalau kamu gak ngelakuin apapun, sementara semua yang kamu lakukan itu menjijikkan bagiku? “ marahku semakin menjadi-jadi.

Dengan tangan di pinggang dan suara yang keras sambal melotot ke arahnya ternyata memancing orang lain untuk melihat perdebatan sengit ini.

“ mimpi apa aku semalam sampai ketemu orang gila kayak kamu, benar-benar merusak suasana hatiku saja. “

Memang, sedari tadi yang ada dalam bayanganku adalah aku yang akan segera sampai tempat kerja dan akan segera menugnakan ide cerita yang sudah lama kurangkai dan akan dijadikan cerita. Tapi melihat keadaan yang begini, sungguh membuatku hilang mood. Rasanya tak ingin kerja saja.
Tiba-tiba dia berdiri. Lalu menjukurkan tangannya. “ maafin aku. Aku kira kamu tidak akan terganggu dengan kekonyolanku padahal aku hanya bercanda dan mencoba mencuru perhatianmu. Aku tak mengira kamu akan jadi semarah ini. Maafkan aku. “

Mencuri perhatian apa? Itukah cara terbaik yang dia punya untuk mencuri sebuah perhatian dariku. Aku rasa ada beribu-ribu lagi cara lain yang bisa dia lakukan tanpa harus menggunakan sesuatu yang berhubungan dengan taik hidung. Dan sekarang? Setelah aku merasa muak, dia  malah ingin meminta maaf dariku? Dia pikir segampang itu? Setengah mati aku mehanan jijik karna tingkah gilanya.

“ gak mau. Aku gak mau maafin kamu. Kamu kira segampang itu utntuk maafin kamu? Ikh… gak benget deh…“  tanpa mengatakan apa-apa lagi aku pergi meninggalkan dia dan mengabaikan tangannya yang bersiap untuk minta maaf. Sialnya tangan itulah yang dia gunakan untuk mengorek taik hidung itu. Apa iya aku harus menyambut permintaan maafnya dengan tangan itu? Dengan tangan itu? Ah, yang benar saja!

Aku berlari kecil meninggalkan dia untuk menyeberang. Kebetulan halte penungguan bus di sekitar jalan ini bukan hanya satu. Mungkin sengaja di desain berseberangan karena memang kawasan ini cukup ramai.

Aku segera pindah ke halte bus yang satunya tanpa menghiraukan panggilannya yang memekkankan telinga. Aku segera duduk sambal melipat kedua tanganku dan mencoba meredakan panasnya hatiku. Dalam hati aku berharap agar dia tidak nekad mendatangiku ke halte ini. Aku tak tau harus lari kemana lagi kalau benar dia akan mendatangiku disini. Jalanan ini begitu penuh sesak.

Dia masih menjerit-jerit memanggilku, “ mbak cantik… mbak cantik… “
Hufffttt, entah dia ini siapa. Ini pertama kalinya aku melihat dia di kawasan ini. Apa pindahan kali ya? Aku pun tak tau.

Dibilang pengemis sepertinya bukan. Pengamen juga bukan. Baju yang dipakainya terlihat rapi dan bersih. Lengkap dengan menggunakan selop carfil berwarna merah. Pokoknya sama sekali tidak terlihat seperti gembel.

Satu-satunya alasan menagapa aku menyebutnya orang gila adalah karena tingkah konyolnya yang menjijikkan. Mencungkil hidung di depan umum sambal senyum-senyum tak jelas, apakah itu normal?

Memang aku paling tidak tahan melihat kekonyolan yang berhubungan dengan kegiatan jorok seperti yang dilakukan pria barusan. Terasa ingin muntah saja saat melihat manusia jorok itu mencungkil keluar taik hidungnya tepat didepan wajahku, bukan itu saja, dia bahkan memakannya dan menjilat tangnnya seakan-akan itu adalah permen cokelat yang sangat lezat. Arrrgrgggghhhh!

Entahlah, mungkin ini  karena turunan dari papa atau apa, tapi yang jelas aku paling benci segala sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal jorok. Terlebih lagi taik hidung yang menurutku sangat jorok.

Padalah aku juga manusia. Aku sadari itu. Dan tetunya punya upil juga. Tapi aku pastikan untuk tidak mengorek upil di depan siapapun. Bahkan keluargaku atau sahabat dekat sekalipun. Upil itu hal yang sangat pribadi bagiku. Tidak boleh ada satupun orang yang tahu kalau ada upil di hidungku. Cukup aku saja yang tau. Itulah aku. Aku tau saat yang teppat untuk mengluarkannya. Yaitu disaat aku benar-benar sendirian di kamar.

Dari semua deretan barang-barang jorok yang ku tahu, upil berada di urutan paling atas. Barang yang paling kujauuhi dan paling kusegani. Kalau bisa, seandainya bisa, tak perlu ada yang namanya upil di dunia ini. Tapi bagaimana pun juga, itu tak akan terjadi, yah. Mana mungkin aku menyangkal apa yang sudah Tuhan beri untuk kita manusia? Sedankan upil itu sudah dikirim satu paket bersama tubuh kita dan tak mungkin bisa dipisahkan.

Dan hari ini pula aku harus mengalami kejadian yang membuat aku teringat lagi akan upil, sementara aku sudah berusaha untuk menghindarinya. Hah! Yang paling menyebakan, kenapa harus terjadi tepat di hari pertama aku kerja? Hari  dimana aku sangat bersemangat untuk bekerja. 

Pria itu benar-benar sudah merusak segalanya. Dia pikir mancungkil upil itu hal yang sepele? dan bahkan dia memakan upilnya sendiri. Apa dia manusia? Ya, dia manusia. Dia memang manusia. Tapi kenapa harus mengupil di depanku dan memakannya tanpa rasa segan sedikitpun. Mebuatku bingung saja.








0 komentar:

Posting Komentar