Dia menunduk lagi, seakan ada sesuatu yang harus di lihat di sepatu yang sedang dia pakai. padahal sebenarya tidak ada apapun yang perlu dilihat disana. Sesekali dia melihat ke kanan lalu menunduk lagi. Setelah menunduk beberapa saat dia kembali melihat ke kiri , melihat lagi ke kanan, lalu kembali menunduk.
Aku yang sedang memperhatikan dari jauh akhirnya bisa berpikir. mungkin yang dia lakukan disana adalah menunggu seseorang, sama seperti apa yang sedang aku lakukan saat ini. Tapi rasanya sudah lebih dari satu jam dia termenung dan menunduk disana. Huh sungguh membingungkan. Sebenarnya tidak ada alasan pasti kenapa aku sendiri harus bingung melihat dia bertingkah seperti itu. Hanya saja aku merasa terganggu dengan sikapnya.
Jarak kami hanya 2 bangku dan bagaimana mungkin aku tidak merasa terganggu dengan segala tingkahnya? Sementara aku juga tengah kebingungan mengunggu seseorang yang hampir sejam kutunggu, namun tak terlihat juga batang ujungnya hingga sekarang. Sungguh menyebalkan!
Sudah berlalu sejam , dia masih saja seperti biasa. Aku menjadi semakin penasaran. Apa lebih baik aku bertanya? Mungkin dia membutuhkan sesutau yang bisa kutolong? Tapi, kalau aku menawarkan bantuan, aku tak tau pasti apa itu bisa membantu dia atau tidak. Aku jadi bingung sendiri. Akhirnya kubiarkan saja dia seperti itu tanpa bertanya apa-apa. Sampai akhirnya 2 jam kami sama - sama termenung seperti orang bodoh disitu, dan orang yang kutunggu tak kunjung datang, senmentara dia masih saja bertingkah seperti orang bodoh disana.
Aku melirik jam tangan, benar sudah hampir 2 setengah jam aku menunggu bayu, dan begitu pula sesorang yang tak kukenal ini. Lama aku mempertimbangkan, akhirnya kuputuskan untuk bertanya.
" hei, menuggu siapa? Sudah dua jam lebih kamu mengunggu disini? Tapi tak ada seorang pun yang datang? Dan kamu terlihat gelisah, ada apa? " saat aku bertanya, seseorang yang duduk di sebelah kanan kursi ku itu terus menoleh ke arah ku. Sebentar saja dia melihat wajahku lalu kembali menunduk. Melihat ke arah sepatunya.
Terlihat dari luar, seperti nya dia seusia denganku, jadi aku yang tak tau namanya hanya memanggil dengan sebutan hei.
Bajunya rapi, bersih. Lengakp dengan kemeja biru, dengan jas cokelat, sepertinya dia kerja kantoran. Tapi melihat dia bertingkah seperti itu membuat aku ragu. Apa yang sebenarnya dia lakukan disini? Apakah mengunggu seseorang juga seperti yang kulakukan?
Pria itu tidak menjawabku, malah masih saja menatapi sepatu hitamnya.
Aku mencoba sekali lagi.
" hei , aku bertanya kepadamu! " ditambah sedikit naiknya intonasi.
Dia kembali menolehku. Menatapku, tapi tidak mengatakan apa-apa. Hanya menatapku. Tepat kedalam bola mataku. Lalu dia hanya menoleh. Lalu kembali menunduk.
Aku mendesah. Dalam hati aku berdoa semoga orang ini bukan seseorang yang patut dicurigai, yang mungkin bisa saja mengancam keselamatanku. Dia terlihat aneh dan mencurigakan. Aku berharap Bayu segera sampai, dan menjemputku, aku sungguh tidak tahan lagi.
Benar saja, begitu aku menatap ke belakang, tampak Bayu sedang berjalan dengan seorang anak kecil dibelakangnya. Sheila, putri sulung Bayu yang ditinggal mati oleh ibunya. Kasihan anak itu, umurnya baru enam tahun, tapi sudah kehilangan dan tak bisa lagi merasakan kasih sayang dari seorang ibu.
" tanteeeee, " sheila langsung mandatangiku dengan senyum manisnya. Dia memang dekat sekali denganku. Dia selalu memanggilku tante cantik. Katanya, aku adalah tante yang paling cantik yang pernah dia temui seumur hidup. Aku tertawa terpingkal-pingkal saat mendengar pertama kali dia mengatakan itu.
" uuuuu Sheila tante yang cantik, " aku memeluknya. " kok lama banget sih jemput tante sayang, tante kangen loh sama Sheila " aku memasang muka kasihan untuk memastikan dia akan percaya bagaimana penderitaanku juga ketakutan dengan hanya bedua saja dengan pria aneh ini.
Aku menatap ke samping untuk melihat pria itu. Eh, dia menghilang. Dia sudah tidak berada lagi disana. Padahal aku yakin kalau baru saja aku melihatnya disitu barusan. Kemana dia pergi? Aku mendongak ke belakang, melihat lagi kesebelah kanan ku, tak ada. Ah, mungkin dia sudah pergi. Lagipun kenapa aku harus menghawatirkan dia? Toh aku tak kenal.
Sheila menarik tanganku, " ayo tante, " aku berdiri mengikuti tangan kecilnya yang menuntun aku menuju mobil, tapi mata ku tak lepas juga dari mencari jejak pria itu. Dalam hati aku heran juga, buat apa aku mengkhawatirkan kemana lelaki itu pergi? Aku tak seharusnya merasa khawatir seperti ini kan?
Aku masuk kedalam mobil, mendengar celotehan manja Sheila yang tak berhenti juga sedari tadi. Anak ini memang, tak akan berhenti berceloteh kecuali saat dia mulai merasa mengantuk, disitulah dia baru akan berhenti dari semua celotehannya. Aku kadang gemas melihat caranya ngomong, sungguh menggemaskan. Ditambah dengan sebuah gingsul di gigi sebelah kirinya, juga lesung pipit di kedua pipinya, ah sungguh imut.Aku tak bisa berhenti untuk menciumnya begitu ada kesempatan. Benar-benar anak gadis idaman ku dimasa depan, haha.
Bayangan lelaki di stasiun bis tadi tak juga hilang dari ingatanku. Setelah kupikir-pikir, rasanya aku pernah melihat lelaki itu sebelumnya, tapi aku tak ingat pasti dimana. Tapi memang benar, wajahnya, tingkah lakunya seperti tidak asing bagiku.
Aku mencoba mengingat, celotehan Sheila aku abaikan sejenak, lalu pikiranku melayang mencoba mencari tau dimana sebelum ini aku pernah melihat pria itu sebelumnya.
Ah, bukan, bukan , ini pria yang lain. Aku masih merenung saat tiba-tiba seorang pria muncul di pikiranku, Pria di pasar malam waktu itu! Benar sekali! Waktu itu dia berdiri di samping tempat penjualan tiket disamping permainan komidi putar.
Benar, sepertinya pria tadi adalah pria yang sama dengan pria yang aku lihat di komidi putar waktu itu. Aku tak ingat pasti pakaian seperti apa yang dia kenakan waktu itu. Tapi tatapan mata dan wajahnya , aku tak bisa lupa. Tatapan mata dan wajah itu, aku yakin adalah tatapan yang sama dengan tatapan yang dia buat tadi.
Tatapan kosong yang, ah
Kenapa aku ini? Apa yang salah denganku harini. Kenapa aku tak habis-habisnya memikirkan si pria misterius itu? Aku mendesah dalam hati. Memang pria itu dan apa yang aku alami harini cukup aneh. Tapi tidak seharusnya aku memikirkan itu panjang- panjang. Jauh-jauh aku kesini bukan untuk memikirkan hal itu. aku punya tujuan lain, dan aku tidak boleh lupa akan hal itu.
Baru saja aku ingin meyakinkan lebih lagi untuk diriku tentang apa yang terjadi hari ini, sampai akhirnya aku sadar bahwa kami sudah sampai dirumah. Rumah Mas Bayu yang nantinya akan jadi rumahku untuk satu tahun kedepan sebelum aku mendapat kontrakan baru. Disinilah aku akan hidup untuk satu tahun kedepan. Sebenarnya aku merasa sedikit tidak nyaman tinggal hanya bersama Mas Bayu dan Sheila. Tapi tak ada jalan lain yang bisa kujumpai selain jalan ini. Jadi aku terpaksa harus tinggal disini.
Tapi, bagaimanapun aku meyakinkan diriku bahwa semuanya akan baik-baik saja, tetap saja aku tak bisa memungkiri bahwa Mas Bayu juga lelaki, yang ditinggal mati oleh istrinya, yaitu kakak kandungku sendiri, apakan tak akan ada masalah nantinya kalau aku tinggal bersama Mas Bayu. Apakah ini tidak masalah di mata masyarakat?
Next > > >
Aku yang sedang memperhatikan dari jauh akhirnya bisa berpikir. mungkin yang dia lakukan disana adalah menunggu seseorang, sama seperti apa yang sedang aku lakukan saat ini. Tapi rasanya sudah lebih dari satu jam dia termenung dan menunduk disana. Huh sungguh membingungkan. Sebenarnya tidak ada alasan pasti kenapa aku sendiri harus bingung melihat dia bertingkah seperti itu. Hanya saja aku merasa terganggu dengan sikapnya.
Jarak kami hanya 2 bangku dan bagaimana mungkin aku tidak merasa terganggu dengan segala tingkahnya? Sementara aku juga tengah kebingungan mengunggu seseorang yang hampir sejam kutunggu, namun tak terlihat juga batang ujungnya hingga sekarang. Sungguh menyebalkan!
Sudah berlalu sejam , dia masih saja seperti biasa. Aku menjadi semakin penasaran. Apa lebih baik aku bertanya? Mungkin dia membutuhkan sesutau yang bisa kutolong? Tapi, kalau aku menawarkan bantuan, aku tak tau pasti apa itu bisa membantu dia atau tidak. Aku jadi bingung sendiri. Akhirnya kubiarkan saja dia seperti itu tanpa bertanya apa-apa. Sampai akhirnya 2 jam kami sama - sama termenung seperti orang bodoh disitu, dan orang yang kutunggu tak kunjung datang, senmentara dia masih saja bertingkah seperti orang bodoh disana.
Aku melirik jam tangan, benar sudah hampir 2 setengah jam aku menunggu bayu, dan begitu pula sesorang yang tak kukenal ini. Lama aku mempertimbangkan, akhirnya kuputuskan untuk bertanya.
" hei, menuggu siapa? Sudah dua jam lebih kamu mengunggu disini? Tapi tak ada seorang pun yang datang? Dan kamu terlihat gelisah, ada apa? " saat aku bertanya, seseorang yang duduk di sebelah kanan kursi ku itu terus menoleh ke arah ku. Sebentar saja dia melihat wajahku lalu kembali menunduk. Melihat ke arah sepatunya.
Terlihat dari luar, seperti nya dia seusia denganku, jadi aku yang tak tau namanya hanya memanggil dengan sebutan hei.
Bajunya rapi, bersih. Lengakp dengan kemeja biru, dengan jas cokelat, sepertinya dia kerja kantoran. Tapi melihat dia bertingkah seperti itu membuat aku ragu. Apa yang sebenarnya dia lakukan disini? Apakah mengunggu seseorang juga seperti yang kulakukan?
Pria itu tidak menjawabku, malah masih saja menatapi sepatu hitamnya.
Aku mencoba sekali lagi.
" hei , aku bertanya kepadamu! " ditambah sedikit naiknya intonasi.
Dia kembali menolehku. Menatapku, tapi tidak mengatakan apa-apa. Hanya menatapku. Tepat kedalam bola mataku. Lalu dia hanya menoleh. Lalu kembali menunduk.
Aku mendesah. Dalam hati aku berdoa semoga orang ini bukan seseorang yang patut dicurigai, yang mungkin bisa saja mengancam keselamatanku. Dia terlihat aneh dan mencurigakan. Aku berharap Bayu segera sampai, dan menjemputku, aku sungguh tidak tahan lagi.
Benar saja, begitu aku menatap ke belakang, tampak Bayu sedang berjalan dengan seorang anak kecil dibelakangnya. Sheila, putri sulung Bayu yang ditinggal mati oleh ibunya. Kasihan anak itu, umurnya baru enam tahun, tapi sudah kehilangan dan tak bisa lagi merasakan kasih sayang dari seorang ibu.
" tanteeeee, " sheila langsung mandatangiku dengan senyum manisnya. Dia memang dekat sekali denganku. Dia selalu memanggilku tante cantik. Katanya, aku adalah tante yang paling cantik yang pernah dia temui seumur hidup. Aku tertawa terpingkal-pingkal saat mendengar pertama kali dia mengatakan itu.
" uuuuu Sheila tante yang cantik, " aku memeluknya. " kok lama banget sih jemput tante sayang, tante kangen loh sama Sheila " aku memasang muka kasihan untuk memastikan dia akan percaya bagaimana penderitaanku juga ketakutan dengan hanya bedua saja dengan pria aneh ini.
Aku menatap ke samping untuk melihat pria itu. Eh, dia menghilang. Dia sudah tidak berada lagi disana. Padahal aku yakin kalau baru saja aku melihatnya disitu barusan. Kemana dia pergi? Aku mendongak ke belakang, melihat lagi kesebelah kanan ku, tak ada. Ah, mungkin dia sudah pergi. Lagipun kenapa aku harus menghawatirkan dia? Toh aku tak kenal.
Sheila menarik tanganku, " ayo tante, " aku berdiri mengikuti tangan kecilnya yang menuntun aku menuju mobil, tapi mata ku tak lepas juga dari mencari jejak pria itu. Dalam hati aku heran juga, buat apa aku mengkhawatirkan kemana lelaki itu pergi? Aku tak seharusnya merasa khawatir seperti ini kan?
Aku masuk kedalam mobil, mendengar celotehan manja Sheila yang tak berhenti juga sedari tadi. Anak ini memang, tak akan berhenti berceloteh kecuali saat dia mulai merasa mengantuk, disitulah dia baru akan berhenti dari semua celotehannya. Aku kadang gemas melihat caranya ngomong, sungguh menggemaskan. Ditambah dengan sebuah gingsul di gigi sebelah kirinya, juga lesung pipit di kedua pipinya, ah sungguh imut.Aku tak bisa berhenti untuk menciumnya begitu ada kesempatan. Benar-benar anak gadis idaman ku dimasa depan, haha.
Bayangan lelaki di stasiun bis tadi tak juga hilang dari ingatanku. Setelah kupikir-pikir, rasanya aku pernah melihat lelaki itu sebelumnya, tapi aku tak ingat pasti dimana. Tapi memang benar, wajahnya, tingkah lakunya seperti tidak asing bagiku.
Aku mencoba mengingat, celotehan Sheila aku abaikan sejenak, lalu pikiranku melayang mencoba mencari tau dimana sebelum ini aku pernah melihat pria itu sebelumnya.
Ah, bukan, bukan , ini pria yang lain. Aku masih merenung saat tiba-tiba seorang pria muncul di pikiranku, Pria di pasar malam waktu itu! Benar sekali! Waktu itu dia berdiri di samping tempat penjualan tiket disamping permainan komidi putar.
Benar, sepertinya pria tadi adalah pria yang sama dengan pria yang aku lihat di komidi putar waktu itu. Aku tak ingat pasti pakaian seperti apa yang dia kenakan waktu itu. Tapi tatapan mata dan wajahnya , aku tak bisa lupa. Tatapan mata dan wajah itu, aku yakin adalah tatapan yang sama dengan tatapan yang dia buat tadi.
Tatapan kosong yang, ah
Kenapa aku ini? Apa yang salah denganku harini. Kenapa aku tak habis-habisnya memikirkan si pria misterius itu? Aku mendesah dalam hati. Memang pria itu dan apa yang aku alami harini cukup aneh. Tapi tidak seharusnya aku memikirkan itu panjang- panjang. Jauh-jauh aku kesini bukan untuk memikirkan hal itu. aku punya tujuan lain, dan aku tidak boleh lupa akan hal itu.
Baru saja aku ingin meyakinkan lebih lagi untuk diriku tentang apa yang terjadi hari ini, sampai akhirnya aku sadar bahwa kami sudah sampai dirumah. Rumah Mas Bayu yang nantinya akan jadi rumahku untuk satu tahun kedepan sebelum aku mendapat kontrakan baru. Disinilah aku akan hidup untuk satu tahun kedepan. Sebenarnya aku merasa sedikit tidak nyaman tinggal hanya bersama Mas Bayu dan Sheila. Tapi tak ada jalan lain yang bisa kujumpai selain jalan ini. Jadi aku terpaksa harus tinggal disini.
Tapi, bagaimanapun aku meyakinkan diriku bahwa semuanya akan baik-baik saja, tetap saja aku tak bisa memungkiri bahwa Mas Bayu juga lelaki, yang ditinggal mati oleh istrinya, yaitu kakak kandungku sendiri, apakan tak akan ada masalah nantinya kalau aku tinggal bersama Mas Bayu. Apakah ini tidak masalah di mata masyarakat?
Next > > >






