KUMPULAN CERPEN

http://www.lokerseni.web.id/2014/03/cerpen-cinta.html

Cari Blog Lainnya Disini :

Kamis, 31 Maret 2016

ANTOLOGI CERPEN : ADA UANG ABANG SAYANG, TAK ADA UANG ABANG KUTENDANG

-KUMPULAN CERITA PENDEK " PEREMPUAN MATERIALISTIS"-

Oleh : Debora Artia Manurung

* Karma perempuan materialistis

    Sudah berkali-kali aku melihat wanita itu. Berkali- kali jugalah aku jatuh cinta dengannya. Ya, aku jatuh cinta dengan perempuan itu. Perempuan itu membuatku jatuh cinta. Aku jatuh cinta olehnya. Bahkan kini aku menggilai dia, meskipun aku sama sekali tidak mengenal siapa wanita itu atau entah darimana asalnya. Yang aku tahu, aku jatuh hati dengan pesonanya.

Ya, dia cantik. bahkan amat teramat cantik. Ada sebuah gigi yang mencuat dari balik bibirnya. Oh, gigi gingsul yang sungguh sangat menawan, lengkpa dengan lesung pipinya. Sungguh lengkap. Sempurna.

Aku mencoba mendekati. Selangkah demi selangkah, lalu tanpa sadar aku telah berada tepat di didepannya. Dan salah tinggah yang kutakuti pun datang.Lidahku tiba-tiba kelu dan aku tak tau harus berkata apa.

Dia memandangku kebingunga. Tanpa sadar aku telah tertarik oleh pesonanya yang kuat dan bahkan sampa membuat aku memelototinya. Tentu saja dia merasa aneh dengan tatapan ini. Lagipun kami sama sekali tidak saling mengenal.








* Makan tuh uang!




* Ternyata tidak segalanya bisa dihitung dengan uang





* Aku cinta uangmu!





* Bunda, aku hamil karena uang




* Uangku, racunmu!





* Perempuan matre? Kelaut aja loe !





* Matre kok dipelihara





* Geng pemberantas cewek matre





* Reunian cewek matre





"SEMUA DIMULAI DARI UPIL"

COWOK NGUPIL ITU BIKIN AKU ILFIL

Entah  apa yang membuat dia bisa tiba-tiba berada satu tempat denganku. Tempat favoritku di pagi hari : halte bus. Ya, halte bus kegemaranku. Halte yang selalu jadi tempat yang pertama kali akan kukunjungi begitu pagi hari kerja.

Yah, halte inilah yang membawa aku pertama kali masuk ke dalam duniaku selanjutnya. Semua dimulai dari halte ini. Begitu bus yang kutunggu tiba, bus akan membawa ku ke tempat yang paling menyenangkan dan kuanggap surge dunia : temapt kerjaku.
Aku begitu mencintai tempat kerja ku dibandingkan apapun. Disanalah aku merasakan kebebasan penuh dalam berekspresi.

Aku bekerja di sebuah tempat penerbitan buku dan novel, dimana aku adalah salah satu dari penulisnya yang berbakat. ( maaf kalau aku begitu menyombongkan diri, tapi itu kenyataan).
Ada sekitar 7 orang penulis yang paling diminati di tempat itu. Salah satunya ada Ningsih purwasih, aku. Dan seorang lagi seorang teman sekaligus sahabat yang paling mengerti aku.

Begitu samapi di tempat kerja, aku akan merasa bagai sudah di surga. Lebih-lebih saat aku sampai di meja kerjaku tersayang. Aku akan mulai berimajinasi. Pikiranku akan mulai liar mencari-cari, kira-kira topic apa yang akan kujadikan santapan.

Setiap hari kami dibebaskan mencari dan membuat sendiri sebanyak-banyaknya ceria yang bisa kami buat dengan ide sendir. Tanpa ada unsur mencontek dari internet atau plagiat dari cerita rekan sekerja.
Semua harus tembus pandang dan asli dari otak dan imajinasi sendiri.

Dan begitu saja, angan-angan akan kesengan di tempat kerja tiba-tiba terganggu oleh ulah si monyong disampigku.

Tanpa segannya dia mencungkil hidungnya di depan mataku. Keasikan mencungkil taik hidung itu berlanjut hingga menit berikutnya hingga membuat ilfil seketika.

Aku coba menahan amarahku. “ mungkin dia kurang waras “, setidaknya perkataan itu yang bisa kuungkapkan untuk menenangkan diriku. Tapi aksi berikutnya sungguh membuat darahku mendidih. Bukannya berhenti melakukan aksi gilanya, dia malah semakin menggila.

Semakin dalam dia mencungkil hidungnya, lalu memasukkan ke dalam mulut. Dalam hati aku mengeram. Sampai akhirnya aku tidak tahan dan, “ bisa pergi gak dari sini? Dasar orang gila”. Dadaku terasa panas dibuat kegilaannya. Entah sengaja atau tidak tapi tingkahnya itu sungguh membuatku tidak nyaman.

Dia memandangku dan menghentikan sejenak perkerjaannya. “ kenapa kamu marah-marah. Aku tidak melakukan apapun yang menyakitimu. Kenapa kamu harus teriak-teriak seperti itu di depanku? Memangnya apa yang sudah kulakukan? “

Wah, pertanyaan itu. Apakah dia tidak sadar apa yang barusan dia lakukan itu sungguh menjijikkan. Apa bagi dia hal seperti itu biasa saja. Bukankah itu pekerjaan yang paling menjijikkan? Mencungkil hidung dan lalu memakannya? Hah! Yang benar saja!

“ kamu bilang gak ngelakuin apapun? Bagaimana mungkin kamu merasa kalau kamu gak ngelakuin apapun, sementara semua yang kamu lakukan itu menjijikkan bagiku? “ marahku semakin menjadi-jadi.

Dengan tangan di pinggang dan suara yang keras sambal melotot ke arahnya ternyata memancing orang lain untuk melihat perdebatan sengit ini.

“ mimpi apa aku semalam sampai ketemu orang gila kayak kamu, benar-benar merusak suasana hatiku saja. “

Memang, sedari tadi yang ada dalam bayanganku adalah aku yang akan segera sampai tempat kerja dan akan segera menugnakan ide cerita yang sudah lama kurangkai dan akan dijadikan cerita. Tapi melihat keadaan yang begini, sungguh membuatku hilang mood. Rasanya tak ingin kerja saja.
Tiba-tiba dia berdiri. Lalu menjukurkan tangannya. “ maafin aku. Aku kira kamu tidak akan terganggu dengan kekonyolanku padahal aku hanya bercanda dan mencoba mencuru perhatianmu. Aku tak mengira kamu akan jadi semarah ini. Maafkan aku. “

Mencuri perhatian apa? Itukah cara terbaik yang dia punya untuk mencuri sebuah perhatian dariku. Aku rasa ada beribu-ribu lagi cara lain yang bisa dia lakukan tanpa harus menggunakan sesuatu yang berhubungan dengan taik hidung. Dan sekarang? Setelah aku merasa muak, dia  malah ingin meminta maaf dariku? Dia pikir segampang itu? Setengah mati aku mehanan jijik karna tingkah gilanya.

“ gak mau. Aku gak mau maafin kamu. Kamu kira segampang itu utntuk maafin kamu? Ikh… gak benget deh…“  tanpa mengatakan apa-apa lagi aku pergi meninggalkan dia dan mengabaikan tangannya yang bersiap untuk minta maaf. Sialnya tangan itulah yang dia gunakan untuk mengorek taik hidung itu. Apa iya aku harus menyambut permintaan maafnya dengan tangan itu? Dengan tangan itu? Ah, yang benar saja!

Aku berlari kecil meninggalkan dia untuk menyeberang. Kebetulan halte penungguan bus di sekitar jalan ini bukan hanya satu. Mungkin sengaja di desain berseberangan karena memang kawasan ini cukup ramai.

Aku segera pindah ke halte bus yang satunya tanpa menghiraukan panggilannya yang memekkankan telinga. Aku segera duduk sambal melipat kedua tanganku dan mencoba meredakan panasnya hatiku. Dalam hati aku berharap agar dia tidak nekad mendatangiku ke halte ini. Aku tak tau harus lari kemana lagi kalau benar dia akan mendatangiku disini. Jalanan ini begitu penuh sesak.

Dia masih menjerit-jerit memanggilku, “ mbak cantik… mbak cantik… “
Hufffttt, entah dia ini siapa. Ini pertama kalinya aku melihat dia di kawasan ini. Apa pindahan kali ya? Aku pun tak tau.

Dibilang pengemis sepertinya bukan. Pengamen juga bukan. Baju yang dipakainya terlihat rapi dan bersih. Lengkap dengan menggunakan selop carfil berwarna merah. Pokoknya sama sekali tidak terlihat seperti gembel.

Satu-satunya alasan menagapa aku menyebutnya orang gila adalah karena tingkah konyolnya yang menjijikkan. Mencungkil hidung di depan umum sambal senyum-senyum tak jelas, apakah itu normal?

Memang aku paling tidak tahan melihat kekonyolan yang berhubungan dengan kegiatan jorok seperti yang dilakukan pria barusan. Terasa ingin muntah saja saat melihat manusia jorok itu mencungkil keluar taik hidungnya tepat didepan wajahku, bukan itu saja, dia bahkan memakannya dan menjilat tangnnya seakan-akan itu adalah permen cokelat yang sangat lezat. Arrrgrgggghhhh!

Entahlah, mungkin ini  karena turunan dari papa atau apa, tapi yang jelas aku paling benci segala sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal jorok. Terlebih lagi taik hidung yang menurutku sangat jorok.

Padalah aku juga manusia. Aku sadari itu. Dan tetunya punya upil juga. Tapi aku pastikan untuk tidak mengorek upil di depan siapapun. Bahkan keluargaku atau sahabat dekat sekalipun. Upil itu hal yang sangat pribadi bagiku. Tidak boleh ada satupun orang yang tahu kalau ada upil di hidungku. Cukup aku saja yang tau. Itulah aku. Aku tau saat yang teppat untuk mengluarkannya. Yaitu disaat aku benar-benar sendirian di kamar.

Dari semua deretan barang-barang jorok yang ku tahu, upil berada di urutan paling atas. Barang yang paling kujauuhi dan paling kusegani. Kalau bisa, seandainya bisa, tak perlu ada yang namanya upil di dunia ini. Tapi bagaimana pun juga, itu tak akan terjadi, yah. Mana mungkin aku menyangkal apa yang sudah Tuhan beri untuk kita manusia? Sedankan upil itu sudah dikirim satu paket bersama tubuh kita dan tak mungkin bisa dipisahkan.

Dan hari ini pula aku harus mengalami kejadian yang membuat aku teringat lagi akan upil, sementara aku sudah berusaha untuk menghindarinya. Hah! Yang paling menyebakan, kenapa harus terjadi tepat di hari pertama aku kerja? Hari  dimana aku sangat bersemangat untuk bekerja. 

Pria itu benar-benar sudah merusak segalanya. Dia pikir mancungkil upil itu hal yang sepele? dan bahkan dia memakan upilnya sendiri. Apa dia manusia? Ya, dia manusia. Dia memang manusia. Tapi kenapa harus mengupil di depanku dan memakannya tanpa rasa segan sedikitpun. Mebuatku bingung saja.








Sabtu, 26 Maret 2016

"CINTA DAN KESETIAAN DI UJUNG TANDUK"



Jumat, 25 Maret 2016
Saat cinta yang kita jaga tiba-tiba terasa mulai aneh disebabkan kehadiran sosok lain disisi kita. Akankah cinta yang selama ini kita perjuangkan akan menang? Akankah kesetiaan yang kita junjung tinggi akan bertahan? Bagaimana ketika cinta dan kesetiaan yang selama ini kita jaga terasa terancam bagaikan berada di ujung tanduk?
Akankah cinta dan kesetiaan mampu mengalahkan sosok orang ketiga yang akan merusak hubungan?

Kisah ini tentang seorang lelaki muda yang menceritakan kisah masa muda nya hingga akhirnya dia berkeluarga. Cinta yang dia ajalani bisa dibilang penuh perjuangan dan airmata. Saat dia mulai merasa nyaman dengan seorang perempuan yang sangat dia cintai, disaat itu pulalah hadir sosok perempuan cantik yang diam-diam menyukai nya, bahkan berusaha untuk merebut dia dari tangan perempuan yang dianggapnyua sebagai penghambat kesetiaanya.

Dari situ pulalah mulai konflik yang datang silih berganti mengganggu kehidupan pribadinya. Tapi akhirnya dia sadar akan cinta pertamanya dan kembali menjalani cinta seperti sebelumnya. 

Ini dia kisah penuhnya : 




"CINTA DAN KESETIAAN DI UJUNG TANDUK"
By: Debora Artia Manurung


" Revan? kamu yakin mau keluar negeri aja sekolahnya?" Dia memandangku dengan mata sayu.


" Iya key, tapi aku janji , aku akan setia." 

" Tapi, banyak orang yang LDR-an, dan setau aku setelah pacarnya pada deket malah gak diakuin oleh mereka kalau mereka pernah pacaran. Aku takut kamu juga nanti bakalan jadi kayak gitu." cara dia mengucapkan itu benar-benar membuatku terharu. Seakan-seakan dia memang betul-betul takut aku akan meninggalkan dia.

" Percaya sama aku Key. Itu mereka. Aku gak sama kayak mereka, Aku bukan mereka dan aku gak akan buat hal yang jahat seperti itu sama kamu, karna aku sayang sama kamu. " aku coba untuk meyakinkan dia.

" Tapi... " Keyla terdiam. Aku memandang wjah Keyla. Keliatan sekali dia memendam sebuah rasa takut akan kehilangan.

" Tapi.... " 


Tapi.... Tapi... Dan tapi...
Kata-kata itu saja yang dia pakai sedari tadi. Seakan begitu banyak keraguan yang dia lihat dari aku.
Aku coba untuk meyakinkan lagi. 

" Dengerin aku key." aku menarik dagunya, mengarahkan wajahnya yang tertunduk menahan tangis untuk menatap wajahku. Aku ingin  membuktikan ke dia yang kalau aku tak akan mengecewakannya.

" Aku ini Revan. Dan kamu kenal aku kan? " Keyla mengangguk perlahan.

" Nah, kalau kamu kenal aku , kamu pasti tau kalo aku gak akan ngecewain kamu. Kamu tau kan selama kita pacaran aku gak pernah ada yang lain selain kamu? ,,, atau pernah kamu liat aku senang-senang sama perempuan lain? enggak kan? itu karena aku ingin menjaga kesetiaan diantara kita Key, dan aku,,, "  tapi belum lagi aku selesai bicara, dia langsung membalikkan badannya sambil melipat kedua tangannya bersilang. Bibirnya monyong kedepan.

" Iya, tapi kan mungkin aja karna kita dekat, jadi kamu gak berani deketin perempuan lain. Coba kalo kamu udah jauh nanti, kan aku gak bakalan tau apa yang kamu lakukan disana. Lagipun kamu ganteng, aku takut perempuan-perempuan disana pada melirik kamu. Aku gak rela." 

hahahahaha.... sanggahannya sungguh membuat aku merasa lucu. Ya ampun itu apa yang ditakutkan Keyla dari aku? Hahahah... takut kalau perempuan di Manila akan tertarik oleh kegantenganku? Seganteng itu kah aku di mata Keyla. Pernyataan itu sungguh  membuat kupingku sedikit naik . Bangga.

Tapi akhirnya aku hanya bisa mendesah pelan. Aku rasa belum bisa meyakinkan Keyla.Kuulurkan tanganku untuk menghadapkan tubuhnya ke arahku. Aku mencoba sekali lagi. Menjelaskan.

" Keyla, keinginanku untuk sekolah di luar negeri itu sudah kurencanakan bahkan semenjak kita baru masuk SMA. Dan kamu juga tau itu. Dan saat yang selama ini kutunggu-tunggu sudah ada di depan mata, apa iya aku harus melepaskan kesempatan itu begitu saja?"

Dalam hati aku berkata " Cobalah mengerti keyla, Please,,, please,,, please,,,"

Keyla memandangku. Lama. Lama sekali. Sungguh pandangan yang sangat menusuk. 
Tapi akhirnya aku cuma bisa senyum sambil berharap kalau akhirnya  dia akan mengerti.

" Maafin aku van. Maaf. " dia tertunduk. Mendengar kata maaf itu, jujur, membuatku takut. Aku langsung berfikir yang bukan-bukan. Apa dia tidak terima aku akan keluar negeri? Apa dia akan mengatak kalau dia tidak akan mengijinkanku untuk pergi? Atau, atau dia akan bilang putus karena tak mau LDR-an? atau, atau,,, Keyla melanjutkan kata-katanya : 

" Aku berfikir yang enggak-enggak tentang kamu. Maaf aku tadi sempat curiga sama kamu. Ya ampun, ternyata aku egois banget ya sampai-sampai melarang kamu meraih cita-cita kamu sendiri. maafin aku ya? " akhirnya dia tersenyum juga. Dan itu sungguh membuatku melayang. Tadinya aku yang berfikir yang bukan-bukan tentang apa yang akan dia katakan. Aku lega dia gak minta putus samaku. Aku lega akhirnya dia bisa menerima kepergianku. Aku  lega akhirnya aku akan bisa melanjutkan sekolah ku juga melanjutkan hubungan ini. Aku sungguh lega.

Hanya seminggu lagi hingga akhirnya aku harus meninggalkan indonesia, meningalkan seluruh keluarga besarku, teman-teman dan juga Keyla tentunya. Sakitnya tuh disini. Di dalam hati ku, seperti kata lagunya Cita Citata yang lagi populer itu loh. 

Sekeras aku menghibur hati , sekeras itu juga rasa khawatiku semakin datang. Semakin banyak yang harus kupikirkan. Semakin banyak bayangan-bayangan yang masuk ke otakku. Bayangan tentang perjalanan yang nantinya akan kutempuh. Rumah baru yang akan kutinggali. Dan tentuanya suasana sekolah baru dan juga teman- teman baru yang akan kutemui. 

Jujur itu membuat ku sangat-sangat khawatir. Apa aku akan bisa menyesuaikan diri dengan baik di Filipine? Apakah mereka bisa menerimaku dengan baik disana? 

Lalu aku sadar, kekhawatiranku tidak akan menyelesaikan masalah . Kuncinya hanya satu saat ini. Aku harus menerima, harus berani, dan akan kujalani semampuku. Huffffttt, entah sudah berapa kali aku mendesah berat sedari tadi . Seakan  ada tumpukan besar yang mengganjal dalam hatiku minta dikeluarkan. 

Lalu aku memandang mama yang sedang membereskan lemari pakaianku. Memilih-milih baju dan perlengakapan yang dirasa akan kuperlukan saat aku di Manila. Tampak sesuatu di wajah Mama yang aku tau pasti berat untuk melepas kepergianku.

Aku paham perasaan Mama. Hanya aku anak satu-satunya yang selalu gangguin Mama setiap hari. Mungkin Mama akan merasa sedikit sunyi kalau tak ada aku. Dan pikiran itu membuat hatiku tambah sedih dan tak rela meninggalkan Indonesia. 

" Hufffffttttt , Ma aku deg-degan deh Ma..." aku menhampiri lalu menatap Mama.

 " Gak nyangka aku bakal ninggalin Mama sama Papa dirumah. Nanti Mama sama Papa siapa yang jahilin dong kalau aku pergi? " Aku mencoba menenangkan hatiku dengan mengajak Mama becanda bahkan disaat - saat terakhir. Sekitar seminggu lagi aku akan berangkat ke Manila. Setidaknya mendengar tawa Mama bisa mebuatku sedikit lebih tenang. 

" Mama sih gak keberatan. Kan Mama tinggal cari anak baru aja gantinya kamu."

" Ya ampun jahat ya Mama? Masa cari anak baru? Mama selingkuhin anak sendiri dong? Mama gimana sih mahhhhh.... " aku merengek mengeluarkan celotehan sok imut.

" Ya enggak dong Revan. Kamu juga sih. Lagian mau dari mana Mama dapat anak yang gantengnya kayak kamu. Kayaknya Mama cariin kemana-mana juga gak bakalan ada. Yang ganteng kayak kamu gini Mama rasa cuma Revan aja. " Hahaha 

Mulai deh Mama malah ngegombalin aku . Sayang banget sama Mamaku ini. Meski sudah lanjut usia dan rambutnya sudah banyak garis-garis putih, tapi Mama tetap penyayang dan romantis. Selalu bisa mengerti perasaan ku. Terkadang Mama malah bisa berubah jadi seorang paranormal di saat-saat yang diperlukan.

Saat Mama menyadari ada yang lain tertulis di wajahku Mama akan bisa langsung menebak apa yang sedang terjadi. " Pasti berantem sama Keyla lagi ya? Sudah. Jangan terlalu di  pikirkan. Mama tau apa yang kamu rasakan. Sedih banget ya? Mama juga merasa seperti itu waktu berantem sama Papa kamu dulu. Tapi udah-udahnya Papa kamu juga yang ngalah sama Mama. Walau Mama yang tadinya mulai pertengkaran , malah Papa yang minta maaf dan beliin Mama coklat. " Panjang lebar Mama menjelaskan. 

" Dan kamu sebagi seorang laki-laki juga harus seperti itu. Gak peduli siapa yang salah, seorang lelaki harus bisa mengalah sama perempuan yang dia cintai. Lagian Keyla mungkin cuma lagi datang bulan aja kok makanya gak konsen gitu waktu sama kamu." 

Lah? yang Mama bisa tau kalau Keyla ini lagi datang bulan tau dari mana? Memang Mama bener-bener paranormal yang handal. Tahu saja apa yang terjadi antara aku dan Keyla. Benar-benar membuat aku mendecak kagum.

" Mama bisa banget baca pikiran orang ya Mah? " aku bertanya salut.

" Bukan, Tadi siang Keyla nelpon Mama. Cerita kalo Revan sama Keyla gaduh karna Keyla cuekin Revan. " 

" Lah, pantesan dari awal Mama udah tau kenapa Revan sedih. Kirain Mama beneran bisa baca pikiran aku. Mama mah gitu." hahahah

Begitulah Mama . Selalu bisa baca pikiranku. Walau kadang perkiraan ku meleset. Karena bukan dari insting Mama tau isi hatiku, tapi dari  Keyla yang mengadu ke Mama. Yah lagian Mama bukan paranormal betulan. Aku hanya mengada-ada sering mengatakn Mama paranormal karena Mama yang sering menebak masalahku dengan tepat.

Keyla memang dekat dengan Mama. Apa-apa yang Keyla ingin tau , akan langsung ditanyakan ke Mama. Saat sikap ku tiba-tiba berubah Mama akan segera menegurku dan mewawancarai apa yang sebenarnya membuat sikap ku tiba - tiba berubah. Dan tentu saja lagi-lagi Keyla yang memberi tahu kepada Mama. 

Seperti saat itu, aku sebenarnya bukan marah dengan Keyla. Hanya saja aku kalah main basket di sekolah, dan hal itu benar-benar membuat aku bad mood. Dan salahnya aku, bad mood ku malah kulampiaskan ke Keyla. Keyla yang dengan semangatknya berlari kecil dari ujung kelas untuk mengjakku pulang bareng malah ku usir walau dengan cara lembut.


" Revan, udah mau balik kan? Pulang bareng yuk? sekalian anterin aku ke toko buku. Ada novel baru yang mau aku beli. " sungguh riang Keyla berbicara saat itu. Mungkin mood-nya lagi bagus. tapi dengan keadaan ku yang sengsara karena kalah main basket ini tiba-tiba bisa membut Keyla yang pendiam terdiam.


" Jangan ganggu aku dulu Key, kalau mau pulang, pulang aja duluan . Aku males kemana-mana hari ini. Apalagi ke toko buku. " sbenarnya perkataan itu kuucapkan tanpa menggunakan tanda seru. Maksudnya, suara ku saat mengucapkan itu benar-benar sangat datar. Tanpa ada unsur membentak sedikitpun. Tapi sontak saja Keyla yang tadinya berjalan mengiringiku disamping langsung tertinggal di belakang. Mungkin dia kebingungan dengan jawabanku. Setelah itu dia berbalik ke arah yang berlawanan tanpa mengucapkan sepatah katapun. 


Untuk gadis umumnya, mereka sangat ingin dikejar seperti adegan dalam film. Istilahnya , si cowok akan menyadari kalau si cewek lagi ngamberk lalu akan mengejar kembali ci cewek. Tapi aku yang saat itu benar-benar emosi, sama sekali tidak sadar akan perilaku Keyla yang ternyata sedang ngambek dan pergi begitu saja. Itulah kekuranganku. Aku kurang peka terhadap perasaan orang lain.


Saat itu pula lah, begiru aku sampai di rumah,Mama langsung menyemburku dengan pertanyaan-pertanyaan aneh. Ada setkitar 7 pertanyaan :

- Kamu dari mana kenapa pulangnya telat?

- Kamu kok diam aja?

- Kamu berantem sama teman kelas?

- Atau dihukum guru?

- Atau kamu kalah ulangan?

- Kamu kenapa sih Revan? gak enak badan?

- Atau jangan-jangan berantem sama Keyla ya?

Saat pertanyaan ke tujuh itu jugalah aku tiba-tiba sadar apa kesalahan yang sangat fatal yang telah kulakukan terhadap seorang perempuan lembut seperti Keyla. Aku langsung lari ke kamar, dan menelepon Keyla. Aku jelasin semuanya. Lalu minta maaf. Dan mustahil bagi seorang Keyla untuk tidak memaafkan orang yang bersalah sama dia. Apalagi kalau pacarnya sendiri yang minta maaf. Panjang lebar aku menjelaskan. Ini dan itu. Kesini dan kesitu. Sungguh berbelit-belit. 

" Keyla kamu udah dimana? sudah sampai rumah ? Maafin aku ya tadi agak kasar sama kamu. Kamu tau sebenarnya aku bukan marah sama kamu. Aku hanya merasa sedikit kesal karena aku kalah main basket tadi. itu saja. lagian gak ada alasan untuk aku marah sama kamu. jadi kamu jangan ngambek lagi dong ya ? Aku kkan jadi gak enak gitu sama kamu. Aku tau aku salah karena udah bentak gadis cantik dan manis seperti kamu. Jadi maafin aku yah? "

Tapi akhirnya jawaban Keyla sungguh membuat aku lemas dan kecewa. Keyla hanya  mengatakan,
" Iya gak papa"

Aku pun menjelaskan lagi. Lagi dan lagi untuk meyakinkan Keyla kalau aku tidak marah karena dia , tapi karena sebab lain. 
Tapi akhirnya setiap perkataan yang kuungkapkan untuk menjelaskan apa yang terjadi , jawabannya selalu sama : 

" Iya gak papa" 
" Iya gak papa kok" 
" Iya Revan, gak papa lagi " , itu saja.

Kata- kata seperti “ gak papa” itu sungguh membuatku sangat menyesal karena telah membuat Keyla sedih dan kecewa. Gadis lembut seperti Keyla memang sangat sensitif kalau berhungungan dengan hal-hal yang menyakitkan hati.

Dalam hati aku mengutuk diriku sendiri yang telah menyakiti seorang yang sangat lembut seperti Keyla. Mungkin perkataan ku terdengar sangat berlebihan. Tapi itulah adanya. Keyla yang sama sekali tak pernah menyakiti hatiku. Tapi aku malah  tega-teganya menyakiti hatinya bahkan membuatnya marah kepadaku. 

Kucoba sekali lagi untuk menjelaskan . kali ini aku mengucapkannya dengan lebih lembut. Berharap dia akan mengerti. Tapi sama saja. Dan aku pun meyerah. Di akhir pembicaraan, aku telah benar-benar tak tau lagi apa yang harus kulakukan. Kami pun sama-sama diam. Lama sekali. Mungkin hampir sekitar 2 manit. 

Aku bahkan tak berani untuk mengatakan “ ya sudah sudah dulu ya Keyla” untuk mengakhiri percakapan. Akhirnya Keyla yang bertindak duluan meski dengan cara yang lain dan jauh lebih lembut.

“ halo Revan? Kamu masih ada disana? Masih ada yang ingin kamu bicarakan? Kalau tidak aku akan menutup telpon” Tapi belum lagi aku ingin menjawab, dia sudah menutup telponnya. Begitu saja. Yah memang begitulah dia . Ngambek tanpa berkata apa-apa. Dan itu  sungguh membuatku menjadi manusia yang sangat mellow seketika saja saat keyla sudah bersikap begitu. Sungguh membutatku bingung dan tau harus berbuat apa. 

Tapi akhirnya otakku berjalan juga. Kuputuskan untuk mengirimkan SMS singkat untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi tadi siang. Aku mengetikkan kata demi kata. Kalimat demi kalimat. Setalah kurasa lengkap isi dan maknanya, akupun memberanikan diri untuk mengirmkanya.

1 jam, 2 jam, 3 jam bahkan sampai malampun kutunggu. Tapi balasan untuk SMS itu masih belum kuterima. Hahhhh, ternyata gadis yang kupuja-puja selama ini keras kepala dan egois juga. Aku berbisik dalam hati. Aku sama sekali tidak menyangka kalau dia akan tahan dengan mogok ngomongnya yang begitu lama denganku. Ya mapun. Sungguh teganya.

Lagipun sudah larut malam. Sudah pukul setengah 12, aku rasa dia tidak akan membalas SMS itu lagi. Aku sudah pasrah. biarlah sampai rasa marahnya mereda. Dan aku rasa dia akan bisa memaafkan ku kemudian. 

Dugaan ku salah. Baru saja aku akan bergegas mematikan lampu untuk bersiap tidur, tiba-tiba hp ku berdering. Sebuah SMS masuk. Aku membuka SMS itu. Keyla. 

" Maaf loh Revan, aku tadi dari rumah temen, ketepatan hp nya aku gak bawa karna tadi lagi sebel sama kamu. Dan ini baru buka hp. Aku udah gak marah lagi kok. lagian juga tadi aku gak marah sama sekali kok. Aku pengen nunjukin aja  ke kamu aja gimana rasanya kalau diperlakukan sama persis seprti yang kamu lakuin ke aku . Jadi gimana rasanya? :) "

Lengkap dengan tanda senyum dibawah SMS. Hatiku sungguh lega membaca pesan singkat itu. Beberapa kali aku mengelus dadaku tanda kelegaan . Lalu aku membalas.


" Wah ternyata kamu ngembeknya gak lama-lama ya? Nah gitu dong. Kan aku jadi gak bingung dan sakit kepala lagi karna mikirin kamu yang marah sama aku. Jadi ceritanyta aku di maafin nih? "

Pesan itu sedang terbang melewati angin dan akan segera samapai ke hp Keyla. Aku tak sabar ingin menerima balasannya. 

" Loh, aku gak marah kok Van. Cuma lagi nunjukin aja kalau kamu itu salah bersikap sama aku. Aku gak salah tapi kamu bentak aku. Kan sakit hati jadinya. "

Tanpa Keyla beritahu pun, aku sudah tau kalau sebenarnya dia tidak marah. Hanya mungkin sedikit kesal. Dan lega rasanya saat tahu Keyla sudah kembali ceira seperti biasa. 

Aku mencoba memikirkan hal-hal menyenangakan untuk diceritakan kepada Keyla , untuk membuat suasana tidak kaku. Oh, aku teringat lagi kejadian alah main basket semalam. Mungkin ada baiknya aku ceritakan yang sebenarnya sama Keyla. Sekalian sebagai dongeng sebelum tidur untuk Keyla. 

Aku segera mencari nama Keyla di kontak telpon. Aku berencana akan menceritakan semuanya lewat telpon. Agar suasana romantisnya lebih terasa. Lagi pun aku kangen dengar suara Keyla. Suaranya lebih terdengar seperti nyanyian dibanding suara orang ngomong. Lembut mengalun-alun. Menyejukkan hati. Hahaha...

Tuuutttt... Tuuuuttt,,,, Hubungan sudah tersambung. Tinggal menunggu Keyla mengangkat telponnya dan kami akan mulai ngobrol. Meskipun Keyla terkesan pendiam , tapi bisa menjadi seorang yang cerewet saat sudah bicara denganku.

Dia akan mulai mengingat segala hal yang berlaku di kelas nya seharian saat di sekolah, dan menceritakannya tanpa henti. Kadang-kadang akupun sampai bosan mendengarnya. 

Keyla mengankat telponnya, " halo Revan? Kenapa tiba-tiba telpon nih? " Permulaan kata yang sangat menyenangkan. Ahhh, lembutnya suara itu, bagaikann,,,

" haloooo... halooooo... Revann, Revan? Kenapa diam aja ? " Hah? Aku tergagap. Sempat-sempatnya pikiranku melayang disaat-saat seperti ini. Bukannya menjawab aku malah ngelanntur yang enggak-enggak.

" eh, iya, halo Key? Kamu lagi ngapain? " dan bla bla bla. Dia mendengar semua yang kutakan sambil menanggapi sesekali. Saat aku sudah selesai bicara dia malah diam dan tak mengatakan apapun. 

" Keyla? " sunyi. Tak ada jawaban apapun. 
" Halo Keyla ?" sekali lagi tanpa jawaban.

Saat aku akan menutup telpon, karena memang tak tau apa lagi yang harus kulakukan , tiba-tiba saja ada suara yang menyahut dari ujung telpon. 

" Halo Revan ? " bukan suara Keyla. Suara itu lain dari suara Keyla, tapi aku yakin kalau aku juga masih mengenal suara itu. Seperti suaraaaa,

" ini bunda Keyla Revan, maaf ya kamu jadi ngomong sendirian deh. Sebenarnya sudah dari tadi Keyla ketiduran. Cuma karna gak enak sama kamu, jadi bunda diamkan saja. " haha, membayangkan Keyla yang ketiduran saat mendengarkan aku ceira sungguh lucu sekali. Aku bisa membayangkan wajah lucu Keyla yang ngatuk dan akhirnya ketiduran. 

" haha, gak papa deh tante. Kayaknya Keyla kecapean banget ya tante sampai gak dengar aku cerita. Yu udah tante gak papa" aku cepat-cepat megakhiri percakapan. Karna jujur, aku gugup bicara dengan bundanya Keyla. Bukan hanya gugup, aku tidak tahu apa yang harus kubahas saat bicara dengan mama dari pacarku. Rasanya malu banget. Jadi lebih baik mengakhiri percakapan saja. 

Setelah mengucapkan salam, akhirnya aku menutup telpon. Bisa-bisanya Keyla melakukan kekonyolan ini terhadapku. Hahahah, " seandainya aku bisa berada di samping Keyla saat ini, pasti rasanya sangat menyenangkan. "  Aku berpikir dalam hati.

 Membayangkan dia yang tertidur saat aku asik bercerita membuat ku tertawa ssaja. Rasanya sangat lucu. Ya ampun, mungkin dia sangat lelah sampai-sampai tertidur di tengah percakapan. 

Ya sudahlah, selamat mimpi indah bidadariku.

***

Terasa bagai mimpi saja. Minggu lalu aku baru saja ngobrol dengan keyla. Mengobrol sampai mulutku kering, sekaligus menjelaskan kepada Keyla tentang kepergianku ke Manila. Sungguh lega saat tahu Keyla tak begitu bermasalah dengan yang namamya LDR. Dia cuma bilang , " Ingat tanah kelahiranmu, jangan lama-lama disana, nanti ada orang yang ambil aku " begitulah, Keyla masih saja bisa becanda di saat aku sudah benar-benar bingung.

Dan sekarang tiba-tiba sudah tiba waktunya untuk aku berangkat ke Manila. Ya ampun , seminggu begitu terasa cepat berlalu. Aku belum benar-benar siap meninggalkan Indonesia. Semua kenanganku ada di tanah ini. Semua kisah masa kecil, masa sekolah, masa bahagia bersama gadis yang kucintai,,,, ahhhh. Bagaimana ini?

Aku memandang keluar jendela. Jendela yang biasa jadi tempat ku curhat dengan hujan saat aku merasa sendiri. Sarana menyampaikan salam rinduku saat aku tak bisa bertemu dengan Keyla. Masih tersisa rintik-rintik hujan dari hujan lebat tadi malam. Andai Keyla tahu kalau aku memimpikan dia tadi malam. Pasti dia akan berkata aku bohong. Padahal sebenarnya aku memang sering memimpikan Keyla yang sedang tertawa dalam tidurku.

Aku memang suka sekali melihat Keyla tertawa. Aku akan merasa bahagia saat melihat Keyla tertawa bahkan saat sebenarnya hatiku sedang dilanda kesedihan. Obat lukaku hanya Keyla. Mungkin cintaku overdosis sampai-sampai berani bersumapah dalam mimpiku kalai Aku akan jadi orang pertama yang akan membeli senyum dan tawa Keyla selamanya.

Keyla saat itu merasa tersinggung saat aku berkata aku akan membeli senyum dan tawa yang dia punya. " apa maksud kamu Revan? Membeli senyumku? Memangnya aku apa Revan? Kamu pikir aku ini barang yang bisa dibeli siapapun? Kamu pikir aku barang di pasar yang bisa dimiliki siapapun hanya dengan uang? "

Hah! Keyla tak mengerti arti perkataanku. Sebenarnya maksudku bukan membeli dengan uang. Lagipun aku tak akan bisa membeli senyumnya dengan uang. Bgaimana mungkin uang bisa membeli sebuah senyuman. 

Maksud dari perkataanku berbeda. Aku bukan ingin membelinya dengan uang. Aku akan membelinya dengan cinta dan kesetiaan. Aku akan menabung cinta dan kesetiaanku sedikit demi sedikit. Dan lama kelamaan dia akan menjadi bukit. Setelah aku kaya raya oleh cinta dan kesetiaan yang aku punya, aku akan membeli dia dari orangtuanya untuk jadi istriku selamanya.

Keyla memelukku saat aku sampai di ujung penjelasan. Entah karena terharu atau kagum aku tidak tahu. Dia memelukku erat. Erat sekali.

Membayangkan masa-masa paling romantis saat bersama Keyla selalu berhasil membuatku cengengesan sendiri. Aku akan mulai senyum-senyum sendiri seperti orang yang kehilangan akan saat aku mengingat itu semua.



Aku mendesah pelan, lalu  memandang dinding. Tepatnya ke arah jam yang tertempel di dinding. Sudah menunjukkan pukul  8 pagi. Jadwal penerbanganku tepat pukul  10 pagi nanti. Semakin sedikit waktuku disini, dan semakin kusut pula pikiranku.

Aku berencana akan mengunjungi Keyla untuk berpamitan. Keyla tidak menepati janjinya untuk mengantarkan ku ke bandara. Sms nya semalam mengatakan kalau ada ujian yang harus dia ikuti. Dia juga meminta maaf dalam SMSnya. Seharusnya dia tak perlu sampai meminta maaf padaku. Kalaupun dia tak bisa mengantar, bairlah aku yang datang ke rumahnya untuk berpamitan. Lagipun aku rasa tidak ada salahnya, dia tidak bisa mengantarkan ku bukan karna dia tak mau, tapi karna memang dia harus ujian. Tak apalah, besok aku akan ke rumahnuya, sekalian mengunjungi orang tua Keyla untuk pamit dan minta doa restu.

Aku berjalan ke kamar mandi. Bersiap.

***

" Loh Revan, kamu kenapa masih ada disini? Penerbangan kamu 1 jam lagi, tapi kamu masih disini juga? " Keyla langsung menyemprotku begitu melihat aku muncul di depan pintu rumahnya. Saat aku akan menjawah, Ayah Keyla melongok dari dalam, penasaran. Rupanya dia belum berangkat ujian, mungkin jamnya sebentar lagi.

" aku pengen pamitan sama kamu, sekalian minta restu dari Om, " aku memandang papanya Keyla. Dia tersenyum sambil mengangguk, lalu segera menghampiriku. 

" Kamu baik-baik disana ya nak. Ingat, jangan selingkuhi Keyla." dia mengatakannya sambil tertawa kecil.  "Keyla akan sangat sedih kalau kamu ngecewain dia. Baik-baik belajarnya. Semoga cita-cita kamu kesampaian. Om, tante dan Keyla gak akan pernah lupa berdoa untuk kesuksesan kamu, dan kamu juga harus selalu berdoa, oke? " dia semakin dekat lalu menepuk pundakku dua kali. Entah kenapa tepukan itu seolah mengatakan " berjuanglah !" , membuatku kuat.

Papa Keyla terus bicara sambil sesekali menepuk bahuku. Mereka begitu perhatian terhadapku. Alasan ini jugalah yang membuat aku semakin tak ingin melepaskan Keyla. Kedua orangtua nya seakan sudah mempercayakan Keyla kepadaku. Mereka yakin aku akan mampu membuat Keyla bahagia. 

Dan dalam hati, saat bicara dengan orangtua Keyla, aku berjani untuk memenuhi apapun itu yang menjadi keinginan mereka selama itu beraitan untuk kebahagiaan Keyla.

Hampir 30 menit aku ngobrol dengan papa Keyla, dan langsung sadar kalau setengah jam lagi aku akan berlepas. Aku cepat-cepat pamit. Meskipun tak bisa bertemu mamanya Keyla, tapi aku sudah cukup lega bisa mendapat nasihat dari papa Keyla saja. Semua kata-katanya sungguh mengeluarkan nasihat-nasihat sehat. Aku memang selalu senang berbicara dengan beliau. Beliau sungguh berwawasan luas dan cerdik. Mungkin karena beliau suka menghabiskan waktu membaca buku dan surat kabar. 

Aku berbalik dan menemui Keyla yang sedang manatapku di belakang. Wajahnya kelam , pucat, matanya berlinang. Aku baru saja ingin berbicara, saat tiba-tiba dia menghampiriku dengan keras dan lalu memelukku. Aku terdiam sejenak, terkejut.

***

Tak pernah kami berpelukan seperti ini. Entah dia lupa akan prinsipnya untuk tetap suci sampai nikah atau apa, tapi apa yang dia lakukan ini benar-benar mengejutkanku.

Sejak dulu saat ku minta Keyla bersikap seperti remaja umumnya saat denganku, Keyla selalu menjawab, " Revan, aku punya prinsip untuk tetap suci sampai nanti suami ku benar-benar sah memiliki aku, dan aku sudah benar-benar sah menjadi istrinya. " Keyla mangatakannya dengan serius.

" aku gak mau mengecewakan suamiku di masa depan. Aku ingin memberikan satu-satunya yang paling berharga, dan yang terbaik untuk suamiku di masa depan. Aku ingin menjadi istri yang baik Revan. Aku harap kamu mengerti itu. "

Itulah alasan kenapa Keyla selalu menolak saat kuminta dia untuk memelukku. Atau menciumku. Pernah suatu saat aku meminta izin untuk memelukknya. Sebentar. Keyla langsung tampak sedih. Mungkin dia kecewa karena aku yang masih berpikiran untuk meminta hal seperti itu, padahal dia sudah pernah menjelaskan prinsip nya.

Tapi terkadang aku berpikir. Apa iya sekuat itu Keyla memegang prinsipnya. Apa benar Keyla tak pernah melakaukan hal-hal yang biasanya dilakukan oleh remaja-remaj seusia kami? Lalu kemudian aku teringat. Ya ampun, aku adalah pacar pertam bagi Keyla. Aku adalah laki-laki pertama yang berhasil menjerat Keyla. Sepanjang tahun di hidup Keyla dia habiskan dengan keluarga dan sahabat-sahabatnya di sekolah. Tanpa seorang pacar. Itu pula lah yang mebuat Keyla selalu menjadi nomor satu di setiap pelajaran.

Saat pertama kali Keyla memberitahukan aku tentang prinsipnya itu, aku sama sekali kecewa. Hal pertama yang aku pikirkan adalah aku tak akan bisa merasakan gaya berpacaran seperti yang dirasakan remaj-remaja umumnya. Dan entah kenapa , prinsip Keyla malah membuat aku tahut. Takut tak bisa merasakan cara berpacaran yang meyenangkan.

Lalu suatu hari Keyla memberitahuku, " Revan, kamu tahu kan aku bukan seperti perempuan lainnya. Kalau kamu merasa gak nyaman samaku, kamu bisa pergi ninggalin aku kapanpun kamu mau. " hal itu dia ucapakan saat kami masih kelas 1 SMA. Masa itu kami baru pacaran 1 bulan.Saat itu aku tidak terlalu mengerti dengan Keyla. Saat teman-teman yang lain berpacarn di cafe yang penuh dengan musik dan lampu yang remang-remang, aku dan Keyla pacaran di rumahnya, Belajar. Lebih tepat di sebut sebagi kerja kelompok dibandingkan pacaran!

Awalanya aku merasa minder dengan team basket yang biasa main denganku. Mereka selalu bertanya, " eh Revan, lu gak pernah keliatan kalo malam minggu, bukannya lo sama Keyla itu pacaran ya? Habis itu kalian ketemuan di mana? Gak pernah keliatan batang idung lo berdua!"

Aku tak tau harus menjawab apa. Jujur, aku malu kalau harus mengatakan yang sebenarnya. Belajar di saat malam minggu? Sungguh jawaban yang konyol. Lalu aku berbohong untuk menjawab. " gue main ke rumah Keyla, terus bokap dia ngajak gue ke tempat karaoke gitu, gue sering karaokean sama mereka. "

Mereka ngangguk-ngangguk mendengar jawabanku. Entah percaya atau tidak.

Setalah pertanyaan itu, aku langsung menghubungi Keyla begitu aku sampai di rumah malam itu. Aku menelpon nomornya meminta penjelasan lebih lanjut. Sangkin rasa malu yang tidak bisa kupendam, akhirnya aku malampiaskan rasa maluku dan memarahi Keyla.

Aku menceritakan betapa malunya aku berpacaran dengan dia. Rasa malu yang harus kutanggung setiap kali malam minggu tiba. Aku menceritakan semua secara blak-blakan, tanpa titik maupun koma. Keyla sepertinya mendengarkan dengan teliti. Dia sama sekali tidak menjawab selama aku menjelaskan semuanya.

Setelah aku selesai dengan segala argumentasiku, Keyla akhirnya bersuara, " kamu sudah selesai ngomong Revan? Boleh aku ngomong sekarang? " sangat lembut, seperti biasanya.

' Ya ' . Aku menjawab singkat. Kemarahan dan rasa jengkel ku belum juga sirna.

" kita putus " tuuuutttt tuuuuttt tuuuuttt...

Dua kata itu diucapkan oleh Keyla dengan lembut dan tanpa tekanan apapun. Nadanya datar terkesan tanpa rasa. Tapi sungguh menusuk hati dan jantungku. Aku sangat terkejut.

Sambungan telpon putus. Keyla menutup telponnya. Disaat seperti itulah akhirnya aku tersadar. " ya ampun, apa yang sudah kulakukan." aku sadar kata-kata yang sedari tadi kuucapkan sebagai tanda kekesalanku terhadap Keyla memang sangat berlebihan.

Memarahinya tanpa titik ataupun koma memang sangat keterlaluan. Aku tiba-tiba bingung dengan apa yang harus kulakukan. Aku mencoba melepon Keyla lagi. Tapi sepertinya Keyla sedang asik menangis dan tak akan mengangkat telponku. Tiba-tiba aku merasa bersalah. Aku menyalahkan diriku sendiri. Berulang kali aku berteriak untuk diriku sendiri. Mengatakan aku bodoh dan tidak punya otak.

Hahhh, memang aku keterlaluan bodoh. Bisa-bisanya aku bersikap seperti itu terhadap Keyla. Bisa mati aku kalau sampai Keyla tak mau memafkan aku. Rasa takut akan kehilangan Keyla semakin besar kurasakan.

Berulang kali aku mengutuk diriku yang bodoh , berulang kali pula aku manyalahkan diriku untuk semua yang telah terjadi. Tiba-tiba aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku berlari keluar dan segera menghidupkan  sepeda motor. Kuhidupkan mesin, lalu segera melawan angin malam 
untuk segera menemui Keyla.

Aku tidak menghiraukan dinginnya angin malam, yang kutahu, aku harus segera melihat Keyla. Aku tidak ingin membiarkan dia menangis lebih lama lagi. Dalam hati aku tak henti-hentinya memohon " maafkan aku Keyla, maafkan aku Keyla, "

Begitu sampai di persimpangan rumah Keyla, aku semakin merasa bahwa dadaku semakin sesak. Apakah Keyla baik-baik saja? Aku sama sekali tidak bisa menghentikan rasa khawatirku. Lalu aku sampai di depan rumahnya.

Ayah dan Ibu Keyla memandangku melongok. Sepertinya mereka sedikit terkejut melihat aku yang tiba-tiba saja sudah berada di depan rumah. Lalu kulihat Keyla melongok panasaran dari balik mereka berdua. Wajah Keyla berlumuran coklat di barengi dengan senyuman konyol.

" eh, ada Revan. Hehe"

Sungguh di luar dugaanku. Semua rasa takut, khawatir, semua hilang. Bukannya menangis tersedu-sedu seperti yang kubayangkan, Keyla malah sedang asik-asiknya perang coklat dengan ke dua orang tuanya. Aku lega dengan apa yang kulihat. Setidaknya aku tidak harus khawatir dengan keadaan Keyla yang kubayangkan sebelumnya.

Aku berjalan mendekati mereka melewati kedua orangtua Keyla. Sedikit gugup. Lalu aku duduk disamping Keyla. Baru saja aku ingin berbisik, ingin menanyakan apa yang terjadi pada mereka saat tiba-tiba sebuah colekan coklat mendarat di pipiku sebelah kiri. Aku melonjak kaget.

" hahaha, kena deh kamu "

Keyla tertawa riang melihat aku melongo. Tanpa berkata apa-apa lagi, aku segera mengambil kotak coklat ditangan Keyla dan membalasnya dengan colekan coklat bertubi-tubi. Keyla kembali tertawa saat sekali lagi pipiku terkena lebih banyak coklat. Tawa yang sangat riang.

Dalam hati aku bersyukur tidak membuat Keyla menangis malam itu. Kalau tidak , aku pasti sudah sangat menyesal karena berani membuat seorang gadis yang riang seperti keyla menangis tepat di depan mataku.

***

Keyla masih saja tersedu-sedu dipelukanku. Sudah sekian lama semenjak aku mengingat lagi waktu dimana aku sangat bersyukur tidak membuat Keyla menangis saat itu. Tapi akhirnya dia menangis juga, dalam pelukanku. Pertama kalinya semenjak kami pacaran. Jantungku berdegup kencang. Mungkin Keyla bisa dengan jelas mendengar degupan itu karena memang dia tepat berada di depan pintu hatiku. Dia masih memelukku. Masih terisak dan terus menangis.

Lalu dia berhenti dari tangisnya yang tersedu-sedu diganti dengan isakan pelan. Dia memandangku lama sekali. Tapi aku tak tahu harus mengatakan apa. Aku hanya balik memandangnya saja. Situasi yang sungguh membingungkan. Aku terjebak dalam situasi mengharukan ini. Aku sama sekali tak menyangka adegan yang selama ini hanya kulihat dari sinetron, akhirnya bisa kurasakan sendiri. Aku tak tau apa lagi yang harus ku lakukan. Dan pada akhirnya aku hanay tertawa singkat.

" Hahah " aku mencoba tertawa walau sebenarnya sama sekali tidak ada yang lucu.
" kenapa kamu manangis? seperti anak kecil saja " aku mengacak-acak rambut Keyla. Membuat di   merengut. Dia sama sekali tak suka rambutnya dirusak oranglain kecuali aku. Itulah yang menunjukkan betapa specialnya aku bagi Keyla, hehe.

Hanya merengut dan tanpa mengatakan sepatah katapun dari mulutnya, justru membuatku semakin bingung. Keyla tentunya sudah tau aku akan segera berangkat ke Filiphina. Dan tentunya sudah tau bahwa hari ini aku akan segera berangkat. Tepatnya 30 menit lagi. Mungkin itulah yang membuat dia sedih sampai menangis. Aku sungguh tidak tega untuk mengatakan salam perpisahan. Tidak disaat di menagis seperti ini. Melihat airmatanya yang semakin banyak menetes itu sungguh mebuatku terluka.

Tapi tak ada lagi yang bisa kulakukan selain segera pamit dan terbang sebelum pesawat menyuruhku untuk terbang sendirian ke Filiphina alias aku akan tertinggl pesawat.

Aku mulai membuka mulut, tapi tak tau harus mengatakan apa. Aku bingung harus membulai dari mana. Dan akhirnya, " Keyla aku harus segara pergi " bisikku di telinganya sembari melepaskan tangannya dari pelukanku. sebenarnya aku sungguh tidak tega melakukan ini.

Untuk pertama kalinya selama pacaran Keyla memelukku dan aku harus memaksanya untuk melepaskan pelukan itu sekarnag juga. Sungguh sakit.

Tangannya terjatuh dengan lemas. Kini dia tidak memandangku lagi. Kepalanya tertunduk menahan malu. Dia baru sadar kalau sedari tadi tanganyya sudah melingkar di pinngangku dan memelukku dengan sangat erat didepan mata kedua orang tuanya.

Lalu perlahan dia berbalik, berjalan menjauhiku tanpa mengatakan apapun dan menghilang di pintu dapur.

" wah! beginikah sebuah perpisahan terjadi? mengapa dia tak mengatakan apapun disaat dia tahu kalau ini adalah terakhir kalinya kami akan bertemu? Mungkin butuh sekitar setahun sebelum aku bisa bertemu lagi dengan dia. Tapi lihat sekarang apa yang dia lakukan . Dia malah pergi seperti menganggap aku tidak ada! Sungguh tega sekali! "

Puas aku mengumpat dalam hatiku melihat kelakuan Keyla. Aku sungguh tidak menyangka bahwa dia akan seperti ini. Yang benar saja! ini adalah perpisahan namun dia tak mengatakan apapun padaku sebagai kata kenangan. Aku mendesah sambil menuju pintu depan.

Langkah ku tiba-tiba terhenti. Seseorang menahan tanganku keluar dari rumah. Aku berballik dan mendapati Keyla yang sudah rapi dengan riasan dan tanpa airmata lagi. Lalu dia memaksakan untuk tersenyum. Meski terlihat betul kalau itu adalah senyum yang dipaksakan.

" aku antar kamu ke bandara " dia masih tersenyum

Dalam hati aku mengutuk diriku sendiri " bodoh! bodoh!" tega-teganya aku berpikiran jelek tentang Keyla barusan. Begitu lama tadi aku mengumpat ternyata semua umpatan itu sia-sia. Hufffftttt,,, "

Aku tak mengetakan apa-apa lagi selain membalas senyumnya dan menggengam tangannya keluar dari rumah. Sambil saling melambai dengan kedua orangtuanya , aku membawa keyla masuk kedalam mobil dimana ortu ku sudah mengunggu.

" ikut mengantar Revan ke bandara nak Keyla " mama bertanya sambil tersenyum ke arah Keyla.
Dalam hati aku berpikir, pertanyaan mama ini agak sedikit melenceng. Jelas-jelas Keyla sudah berada di dalam mobil yang akan mengantarku ke bandara, tentu saja dia akan ikut menantarku ke bandara, memangnya mau kemana lagi? Huffftttt, mungkin mama hanya mencoba untuk sedikit lebih ramah saja.

Tidak ada salahnya juga mama menanyakan hal itu. daripada semmua orang membisu , kan lebih baik ada yang basa-basi walaupun itu sesuatu yang agak tidak masukk akal. Iya kan?

Entah apa yang membuat ini terjadi. Sama sekali tidak ada satu kata pun yang bisa keluar dari mulutku. Aku tidak tahu harus mengobrol apa. Mengingat aku yang akan pergi jauh dan tak akan pernah bisa mmengobrol secara bertatap muka dengan Keyla, seharusnya aku jauh lebih cerewet untuk mengobrol ini dan itu. Tapi aneh saat ini, sepatah kata pun sulit untuk ku kelaurkan. Aku merasa sedikit bersalah meningglkan Keyla.Apalagi aku pernah beranji kalau aku tidak akan menginggalkan dia.

Tapi, aku tidak menginggalkan dia kan? Aku hanya pergi sementara waktu dan pasti akan kembali, persisi seperti lagu yang sering banegt aku dengar, 
" aku hanya pergi tuk sementara, 
bukan tuk meninggalkanmu,
selamanya,
ku pasti kan kembali pada dirimu,
tapi kau jangan nakal,
aku pasti kembali "

yah kira-kira begitu isi penggalan lagunya. Lagu yang rada-rada mellow, dan terkesan anak alay banget. Hahaha

Keyla masih diam seribu bahasa, aku jadi bertanya-tanya, apa benar tidak ada hal apapun yang ingin dia tanyakan padaku? sama sekali tidak ada hal yang ingin dia bahas?

Aku menggerakkan kepalaku kesamping untuk melihat wajahnya. Matanya masih merah sisa menangis. Wajahnya yang kemerahan menatap lurus kedepan, tapi pandangannya seakan kosong. Tanpa mimik dan ekspresi sama sekali.

Aku heran. Ada apa ini. Aku mendekatkan tanganku. Menggengam tangannya. Ya Tuhan! Dingin sekali! Kenapa ini? Spontan aku khawatir. 

" Keyla? kamu baik-baik aja kan? " genggaman keyla terbuka, matanya menutup dan kepalanya mlai oleng ke kiri, hampir terbentur ke kaca jendela mobil sesaat sebelum aku menrik kepalanya ke arahku.

" maaaaa! Keyla pingsan! " aku menjerit.

Mobil yang tadinya akan mengantarku akhirnya malah harus ke rumah sakit untuk mengantarkan Keyla. Kasihan Keyla sampai pingsan, mungkin terlalu lelah menangis. Kini dia sudah terbaring di pangkuangku. Sambil mengelus rambut nya aku terus meneriaki papa agar lebih kencang membawa mobil. 

Dalam hati aku tak henti-hentinya berdoa agar Keyla baik-baik saja. Aku tidak ingin meninggalkan Keyla dalam keadaan sakit. Bagaimana mungkin aku bisa menjalani hiduppku dengan tenang di Manila kalau aku tahu Keyla sedang dalam keadaan yang tidak sehat. Ini tidak boleh terjadi. Pokoknya Keyla harus baik-baik saja. Kumohon Tuhan...

Sudah satu jam aku mengunggu di luar ruangan tempat Keyla dibawa. Dokter belum juga keluar. Membuat aku semakin khawatir saja. Mama papa duduk berdua di sudut bangku panjang dekat dengan meja resepsionis, sementara aku yang tepat berada di depan pintu sama sekali tidak bisa mendengar suara apa- apa dari dalam. Membuat ku semakin takut!

2 menit kemudian seorang dokter wanita keluar dari dalam ruangan diikuti oleh beberapa orang yang tampaknya seperti perawat. Awalnya wajah mereka terlihat masam, lalu saat melihatku, dokter muda itu langsung tersenyum lembut.

" kamu pasti Revan kan? Keyla baik- baik aja. Dia cuma capek dan perlu istirahat. Kalau kakmu mau , kamu boleh menjenguk dia ke dalam. " 

Kalau aku mau? Tentu saja aku harus melihat Keyla! Ya ampun, pertanyaan macam apa itu? 

Dokter itu masih ingin melanjutkan bicaranya saat aku langsung berdiri dan mohon pamit untuk masuk ke dalam melihat Keyla.

" Keyla....... "

Keyla terbaring di atas tempat tidur putih ala-ala rumah sakit umumnya. Salah satu yang tidak kusukai dari sebuat tempat bernama rumah sakit, baunya sama sekali tidak enak. Tapi semua itu bisa kutahankan asalkan aku bisa pastikan bahwa Keyla memang dalam keadaan yang benar-benar baik. 

Keyla tersenyum lemas. 

" maaf ya aku buat ulah bahkan di saat-saat terkahir kamu di Indonesia. Tapi beneran aku sama sekali gak sengaja loh. "

Haha, dalam hati aku merasa geli, aku sama sekali tidak pernah mendengar ada pingsan yang di sengaja. Disaat terbaring lemah seperti ini pun Keyla masih saja bisa membuat lelucon. Aku sedikit tenang, setidaknya aku tau dia sudah sedikit baikan. Kini aku percaya kata-kata dokter tiu kalau Keyla mungkin cuma kecapekan dan perlu istirahat. Tidak ada penyakit yang serius.

" kamu istirahat yang banyak ya Keyla. Please jangan buat aku khawatir. Aku khawatir banget tadi kamu kenapa-napa. Jangan pernah kayak gini lagi ya. Aku jadi gak tenang. "

Keyla hanya mengangguk tanpa mengatakan apa-apa. Tapi bibirnya msaih tersenyum. 

" kamu boleh berangkat sekarang kok, Tapi maaf aku gak bisa nganterin kamu ke bandara. Maaf banget ya harus ngerepotin kamu sama papa mama kamu. Kalian pasti ngerasa terganggu karna aku kan? aku minta maat banget ya ? “

Ya ampun seharusnya akulah yang merasa bersalah telah membuat keyla kecapekan, tapi ekarang malah dia minta maaf dan bilang merepotkan aku papa serta mama. Jujur aku sama sekali tidak merasa direpotkan oleh Keyla. Sama sekali tidak pernah selama aku dengan dia.

“ Keyla kamu jangan mikir yang enggak-enggak ya? Kamu sama sekali gak ada ngerepotin aku atau mama papaku kok. Aku sama sekali gak pernah ngerasa terganggu karna kamu. Aku sayang kamu jadi kamu jangan mikir yang enggak-enggak gitu. Nanti aku jadi kepikiran selama perjalanan. “

Ya ampun , aku baru sadar kalau baru saja aku mengeluarkan kata-kata yang lembut naujubillah. Aku tak menyangka seroang Revan yang sangat tampan ini bisa mengeluarkan kata-kata lembuat bagaikan sedang berpuisi.

Tapi sejujurnya memang itulah yang terjadi. Setelah beberapa tahun ini bersama, aku mengerti akan rasa sayang yang sebetulnya. Rasa sayang yang bukan berasal dari paras muka atau kakayaan, tapi dari hati.

Semenjak mengenal Keyla aku menjadi sedikit rendah hati. Aku mengerti akan makna kasih sayang yang sebetulnya. Dan itu spontan keluar dari dalam diriku. Bukan rancangan. Sungguh keajaiban cinta.

Cinta membuat kita merasa tersiksa melihat orang yang kita sayang tersiksa, cinta membuat kita sedih melihat orang yang kita sayang berduka, dan cinta membuat kita khawatir saat orang yang kita sayang dalam keadaan sakit. Itulah yang








lanjutan


Hari pertama kuliah akhirnya akan segera di mulai.  Rasanya sungguh aneh. Ada yang menahan dadaku. Membuatku seakan sulit bernafas, hufffffttttt aku menarik nafas, berat. Oke! Jangan takut Revan. Rileks. Rileks. Aku mencoba menenangkan diri. Aku mulai memasuki area kampus.  De La Salle University yang ternyata sangat Luas, sangat-sangat luas, dan sangat rapi. Tatanan tempat yang penuh dengan pepohonan rindang memang sangat sejuk dipandang mata. Ini cukkup sedikit membuatku tenang. 

Setidaknya dengan melihat pohon-pohon yang cantik ini aku akan merasa seperti berada di kawasan perumahan tempat ku tinggal di Indonesia. Saat asik memandangi keindahan itu, Entah kenapa , tapi kejadian yang selanjutnya terjadi sungguh diluar dugaan. Seperti cerita di novel atau sinetron kebanyakan . Tapi memang itulah yang terjadi. 

Seorang gadis yang sepertinya juga orang Indonesia berlari tergopoh-gopoh seperti ketakutan. Sangkin tergopohnya, dia tak memandang kalau ada aku yang sedang menikmati keindahan kampus ini lalu menabrakku.

Dubrakkkk… aw…. “ im sorry, im so sorry, sorry hindi ko nakita” .
Aku sebenarnya  mengeri apa yang dia katakana. Tapi saat mendengar caranya berbicara , aku tau kalau dia bukan asli manila, tapi orang Indonesia. Aku kenal logat itu.  Dia bilang maaf karena tidak melihatku. Ya memang aku belum terlalu paham Bahasa filiphina, tapi aku selalu meluangkan waktu saat di sekolah untuk menghapal beberapa kosakata. Masih bingung dengan apa yang terjadi, namun langsung saja gadis itu mengulurkan tangannya.

 “ my name is Rosan. Ako Indonesian “ dia tersenyum tapi masih saja dengan mimik ketakutan , dan sambil sesekali melirik kebelakang seperti mengawasi sesuatu.

“Bakit tumingin ka pabalik ? kung ano ang nangyayari ?” aku bertanya tanpa membalas perkenalan dirinya karena begitu penasaran sebenarnya apa yang membuat dia setakut itu. Apa jangan –jangan di sini juga ada kelompok pembuli anak baru seperti di Indonesia. Aku mulai khawatir.

“ mag-imbita ng ilang mga kaibigan nagpunta shopping , but I can’t” dia menjawab masih dengan ngos-ngosan.


“ dahil lang iyon ang dahilan ? oh my God! tingin ko may mga kriminal na dumating pagkatapos mo!” aku sengaja membuat nada suara ku sedikit lebih tinggi untuk menunjukkan kelegaan hati ku. Dia berlari hanya kerana ketakutan dan mencoba lari dari teman-temannya yang gila shopping. Ternyata meraka mengajak Rosan untuk pergi shopping sementara Rosan sepertinya sedang kehilangan mood shoppingnya. Aku merasa geli mendengar alasannya. 

Sedikit lucu karena sebelumnya aku hampir merasa takut akan bertemu mahasiswa lama yang suka membully mahasiswa baru. Aku akhirnya bisa menarik nafas lega setelah tau kebenarannya. Dan aku rasa tidak ada yang perlu di takutkan lagi.

Lalu aku teringat bahwa sebelumnya dia sedang memperkenalkan dirinya, Aku segera menjulurkan tangn ku ke depannya. 
“ im Revan. Ako din ang Indonesian” yang ternyata langsung di sambut mesra sambil tersenyum oleh Rosan. Dia mengangguk lalu tersenyum lagi.

" kita ternyata sama-sama orang Indonesia. Jadi lebih baik pake bahasa Indonesia ya ? Biar serasa tetap berada di Indonesia gitu. " dia memberi saran yang menurutku lumayan bagus juga. Karna sebenarnya aku juga lebih suka menggunakan bahasa Indonesia dibandingkan bahasa Manila, walaupun saat ini aku sedang berada di Filiphin.


" hmmmm, jadi kamu mahasiswa baru? " Rosan kembali bertanya. Dia memandangku dekat sekali. Rosan ini memang gadis yang pendek. Aku lebih tinggi 2 jengkal dibanding dia. Pendek sekali kan? Kadang aku merasa dia lucu dan cantik. Mungkin bukan perasaan ku saja. Tapi setiap orang juga akan mengatakan hal yang sama. Rosan memang cantik. Walaupun badannya pendek namun memberikan kesan yang imut dan cocok untuk dia.

Tiba-tiba saja aku teringat akan Keyla. Ya ampun! Apa-apaan aku ini. Aku ternyata telah memuji dan menghayati perempuan lain! Hampir saja aku kehilangan akal sehatku karena Rosan yang terlampau bening ini. Tapi kalau difikir-fiki lagi, Keyla jauh lebih cantik dibanding Rosan. Tubuh Keyla juga lebih tinggi, jadi terkesan lebih dewasa. Ditambah dengan senyum Keyla yang selalu menawan . Membuatku selalu rindu melihat senyumnya.


Dua bulan akhirnya berlalu dengan baik-baik saja. Aku mendapat teman-teman yang baik yang juga berasal dari Indonesia, namun tinggal lama di Manila. 

Satu bulan pertamaku, kujalani dengan adaptasi yang walaupun terasa sedikit berat, tapi akhirnya aku mampu melewati semua. Hasilnya, aku kenal dengan Roy dan Bian. Dua orang tergokil di kelas dan tentunya aku merasa beruntung bisa dekat dengan mereka.

Mereka mengenakanku seluk beluk Kota ini. Sering mengajakku keluar sambil mencari tugas kuliah. Menganlaknku dengan banyak

Hah, aku rasa aku sekarang sudah benar-benar merindukan Keyla. Timbul perasaan ingin segera memeluk dan mencubit hidung Keyla seperti biasa. Keyla akan segera melotot padaku saat aku mulai menarik hidungnya. Dia selalu mengatakan kalau terlalu sering menarik hidungnya, akan membuat hidungnya tambah mancung, dan membuat dia tambah cantik. Dan otomatis semua laki-laki akan menyukai dia. Sungguh lucu.

" Kamu suka banget tarik-tarik hidung aku kenapa sih? " Keyla melotot ke arahku. Bukannya takut diplototi seperti itu, aku malah menjulurkan tanganku untuk yang ketiga kallilnya lalu menarik hidungnya lagi.

Aku tertawa terbahak-bahak, dan Keyla semakin melotot.
" Jangan ditarik lagi dong. Nanti hidungku bisa bertambah mancung. Nanti aku jadi semakin cantik. Memangnya kamu mau aku tambah cantik terus semua cowo-cowo pada berusaha untuk merebut aku dari kamu ? mau ? "

Haahahah, sungguh gertakan yang menggelikan. Begitu pintarnya Keyla menemukan kalimat itu untuk mengertakku .

" Kalo ada yang berusaha merebut kamu dari aku, aku tinggal bilang, ' hey, jangan pada mau sama Keyla ini, dia gak pernah mandi, gak pernah gosok gigi, dia itu orang paling malas yang pernah ada di dunia"

Aku menjeling memandang Keyla " pasti mereka gak bakalan mau sama kamu. Jadi kamu akan tetap menjadi milikku selamanya. Hahahahha " aku kembali terawa puas dan lepas. Keyla hanya melotot. Mungkin tidak tau harus membalasku dengan jawaban apa lagi.

Sungguh lucu mengingat hal itu di saat-saat seperti ini. Membuatku semakin rindu saja.
Aku janji akan segera menelpon Keyla begitu sampai di rumah. Tidak sabar untuk mendengar suara tawanya. Lalu aku sadar kembali kalau ternyata ada Rosan yang sedari tadi berdiri disampingku. Dan sedang memandangku.

Bayangan tentang keyla langsung saja menghilang begitu saja  saat aku menatap Rosan.
Memandang Rosan seperti memandang bongkahan es. Sejuk. Timbul perasaan aneh yang mendesir di dadaku. Ada apa dengaku? Aku mulai risau.

Aku sama sekali tak ada niat untuk membelok dari Keyla. Tapi akhir-akhir ini perasaan aneh saat bersama Rosan sangat sering muncul. Sangat sering aku tiba-tiba terpana melihat Rosan yang sedang tertawa. Atau bahkan saat kami makan bersama, bukannya menyantap makanan yang sudah ada di depanku, aku malah sibuk memandang Rosan. Hal ini membuat ku sungguh takut. Aku tak ingin muncul perasaan lain di hatiku terhadap Rosan selain perasaan suka sebagai teman. Aku sungguh taik ingin lebih dari itu. 

Tapi sikap ku sendiri sungguh membuatku sakit kepala. Aku sama sekali tidak ingin terjebak memandang Rosan yang sedang berbicara denganku. Tapi lagi-lagi bukannya mendengar apa yang dia katakan, aku malah memadangi wajahnya yang manis. Saat aku tersadar, aku kambali manyalahkan diriku yang sangat mudah tergoda dengan wajah manis Rosan.


" Hey Revan kamu dengar gak penjelasan aku? " 

" A... iya, " 

Selalu seperti itu. Setelah katahuan kalau aku bukan mendengarnya bicara dan malah memperhatikan wajahnya, aku akan mulai tergagap dan malu sendiri. Selalu seperti itu. Seringkali aku melakukan kesalahan yang sama. Dan aku sama sekali tidak tau kenapa ini terjadi.

Apa mungkin kerena aku yang terlalu kangen dengan Keyla? Tapi kalaupun aku merindukan Keyla, kenapa harus wajah Rosan yang kupandangi. Bukankah seharusnya aku memandang wajah Keyla yang ada di layar depan Hp ku? Bukannya malah memandangi wajah Rosan di depan mataku. Bukan seperti ini seharunsya yang terjadi.

sungguh membingungkan. 

***


Jujur saja saat hal itu terjadi jangtungku berdegup kencang dan otakku tiba-tiba saja terasa panas. Setelah beberapa kali tertangkap basah sedang mamandangi wajah Rosan, sepertinya Rosan mulai berani bertindak lebih jauh, dan aku sama sakali tidak menyangka dia akan malakukan itu. Sama sekali tidak bisa kubayangkan betapa beraninya dia.

Dan seminggu setelah kejadian saat itu :

Sebenarnya saat itu aku tidak sengaja menyentuh tangannya. Tapi entah apa yang dia pikirkan, Rosan bukannya malah kaget dan menyingkirkan tangannya dari tanganku, malah berbuat sebaliknya. Dia malah menempel tangan satunya lagi di atas tanganku. Mungkin dia berpikir aku sengaja melakukannya. Tapi sebenarnya itu semua diluar kesengajaan. Sama sekali tak ada niatku untuk menyentuhnya. Apalagi berani menyentuh tangannya. Kalaupun dia berani, tapi aku tak seberani itu.

Aku terkejut. Saat aku berusaha menarik tanganku yang kini berada diantar kedua telapak tangannya, dia malah mendekap tanganku dengan lebih erat. Bukannya malah melepas tanganku. Aku jadi semakin kebingungan. Tak tau apa yang harus kulakukan selanjutnya.

Saat aku menunggu apa yang selanjutnya akan terjadi, tiba-tiba saja dia mendekatkan bibirnya ke muka lalu mencium pipiku sebelah kiri. Aku sungguh terkejut. Aku tak harus merasakan apa. Satu-satunya yang kurasakan saat itu hanya kebingungan, dan juga malu.

" Rosan? Kamu? " aku tergagap. Diantara bingung dan malu.

" maafin aku Revan. Tapi aku rasa aku mulai suka sama kamu " Rosan menunduk setelah mengatakn itu. Sepertinya dia juga merasa malu.

Aku menarik nafas panjang. Tak tahu harus menjawab apa. 
***
Aku sedang mencari-cari kunci rumah di ransel saat Hp ku sekali lagi bergetar. Sebenarnya sudah kurasakan sedari tadi. Tapi aku sengaja tidak merespon karna kutau itu SMS, dan aku rasa tidak terlalu penting. Lagi pula sedari tadi aku sibuk memikirkan hhal-hal yang akhir-akhir ini tejadi antara aku dan Rosan. Kekikukan yang semakin terasa,karena semakin sering aku tertangkap basah sedang menatap wajah manis Rosan.

Aku mendesah pelan, membuka handphone dan mambaca pesan singkat di dalamnya.

“ kamu kemana aja, kamu tau gak dari tadi aku telpon nomor kamu tapi sibuk terus. Kamu kenapa sih? Kamu sehat kan? Baik-baik aja?”

SMS dari Keyla lah yang pertama kali terlihat saat aku buka hp. Aku baru sadar betapa sibuknya aku sampai lupa kalau aku sudah berjanji akan ngobrol dengan Keyla tepat pukul 4. Saat Manila pukul 4 kira-kira pukul 3 di Indonesia. Ya aku berjanji akan menemani Keyla mengobrol begitu dia pulang kuliah. Sementara sebelumnya aku udah bilang kalau hari itu aku tak akan ada apa –apa untuk dikerjakan. Istilahnya aku free di hari itu. Tapi beginilah, yang direncanakan selalu tidak pernah terjadi dengan mulus. Ada saja hal yang mengganggu.

Aku yakin saat ini Keyla pasti sangat khawatir. Mungkin dia sedang memikirkan hal yang enggak-enggak karena aku terlambat mengabarinya. Janji untuk segera mengabarinya terpaksa harus kuundur 2 jam karena masalah di kampus tadi. 

***

Pernyataan yang terlalu jujur dari seorang Rosan. Entah kenapa dia bisa sejujur itu mengatakan kalau dia menyukaiku. Dia mengatakannya begitu saja. Membuatku merasa kalau caranya mengungkapkan rasa suka itu bukan karena dia benar-benar menyukaiku, tapi karena sesuatu yang sebenarnya aku pun tak tahu sesuatu seperti apa itu.

Tidak lebih dari sebulan aku mengenal Rosan. Itu bukan waktu yang panjang. Bagiku waktu satu bulan adalah wakt yang sangat singkat. lalu bagaimana mungkin dengan waktu yang hanya satu bulan mengenal satu sama lain lalu Rosan buisa mengatakn suka kepadaku. 

Apa benar dia menyukai aku? Apa yang sebenarnya dia suka dari aku? Apa kah mungkin waktu yang hanya satu bulan itu mampu menunjukkan betapa baiknya aku sehingga Rosan bisa dengan tiba-tiba menyukaiku?

Sungguh membingungkan. 

Aku terpaksa melupakan janji untuk ngobrol dengan Keyla karena tiba-tiba  Rosan menelpon untuk segera datang ke rumah sakit. Ternyata kondisi Mama Rosan tiba-tiba down. Sungguh tidak mungkin aku mengabaikan panggilan ini. Rosan sudah kuanggap teman dekatku. Bukankahseorang teman harus selalu ada disaat teman yang lain memerlukannya?

Lalu aku menghubungi Roy dan Bian untuk melihat keadaan Mama Rosan.  
Untungnya dua orang ini selalu mengerti aku. Selalu bisa menjadi teman yang baik. Yang benar-benar ada saat aku memang benar-benar memerlukan mereka.

" Bian aku tunggu di rumah sakit, aku jalan duluan, kalian cepat nyusul ya? "
aku bergegas keluar, menyusuri jalan-jalan gelap Manila di tengah malam dan berharap tidak ada sesuatu yang benar-benar memahayakn keadaan mama Rosan.

Bagaimanapun juga aku tetap harus mengahawatirkan keadaan mama dari temanku. Aku bisa bayangan betapa sedihnya perasaan Rosan kalau sampai mamanya semakin parah.







“ Mah, aku khawatir dengan apa yang terjadi sekarang ini. Aku tau apa yang lakukan saat ini gak betul. “ aku mencoba menahan agar air mata ku tak keluar. Jujur perasaan bersalahku terhadap Keyla telah membuat aku benar-benar lemah.

“ Sabar dulu Revan, jangan terburu-buru menyalahkan diri kamu. Kalau memang kamu benar-benar merasa bersalah saat ini, Mama rasa lebih baik kamu tinggalkan perempuan itu. Mama bukan menyuruh kamu menyakiti perempuan lain , tapi kamu fikirlah sendir mana yang kamu rasa baik untuk kamu lakukan. “

“ Tapi Mah, Revan bener-benar tak tau apa yang harus Revan buat. Revan gak mau nyakitin dia.”
Dari ujung telpon kudengar suara  Mama mendesah nafas panjang yang terdengar sanget berat. Lebih merasa bersalah kepada Mama karena melibatkan dia dalam masalahku. Dalam hati aku mengutuk diriku. Bodohnya aku sampai harus membuat Mama ku sendiri capek mendengar omong kosongku! Sangat bodoh! Lalu aku sadar apa yang akan kulakukan.

“ Mah, Mamah istirahat saja. Revan mau ke kampus, ada yang akan revan kerjakan. “ aku mencoba memutus obrolan. Aku tak mau membuat Mama semakin pusing mendengar masalahku.

“ Tunggu Van…”
Aku sengaja langsung menutup telpon . takut Mama menyanyakan hal yang enggak-enggak lagi. Ya memang aku sudah 21 tahun. Tapi sungguh hal perasaan seperti ini bisa mebuatku sangat sedih dan bingung tak karuan. Masalah hati yang rumit. San memang karena kebodohanku juga. Kenapa aku begitu mudahnya masuk ke dunia Rosan. Huffffttttt…

***



“ Revan , makasih banget karena kamu sudah ngasih kebahahgiaan yang sempurna yang selama ini aku cari.” Rosan tiba-tiba saja sudah duduk di sampingku. Aku mendongak menatap Rosan. Matanya merah dan  berair seperti hampir menangis. Aku tiba-tiba saja merasa iba.
Aku tersenyum “ Gak papa Rosan , itu karna aku saying sama kamu, itu aja” aku menarik nafas panjang untuk mengatakan itu “ sayang”

Kalau saja Keyla tau aku mengatakan sayang kepada orang lain yang dia tak kenal, aku sudah bisa bayangkan apa yang akan dia lakukan. Keyla bukan jenis orang yang suka  mara-marah kalau tau aku mengatakannya kepada orang lain. Tapi dia akan mengerti. Lalu perlahan-lahan menjauh pergi, tanpa mengatakan apapun. Dan aku lebih takut itu terjadi dibanding dia marah, dan mengatkan aku tukang selingkuh pada semua orang. Caranya menjauh dengan diam itu jauh lebih menyakitkan.

Begitulah Keyla. Dia tak akan pernah meneriakiku dengan kata-kata jorok kalau dia merasa ada perilaku yang aneh padaku. Tapi dia akan diam. Seakan memikirkan apa yang berubah. Dia akan menimbang kira-kira apa yang membuat ku aneh. Kalau dia sama sekali tak menemukan jawaban, barulah dia akan melapor dan menanyakan soal ke anehanku ke Mama. Selalu seperti itu, semenjak kami berkenalan setahun yang lalu. Itulah hal yang paling berbeda yang kurasakan daripada perempuan-perempuan yang pernah kupacari sebelum Keyla. 

Keyla memang bukan pacar pertamaku. Sebelum Keyla ada beberapa perempuan yang sempat kupacari. Tapi benar-benar tak ada yang ku rasa sesuai. Aku mendapat banyak masalah dibandingkan kebahagiaan selama dengan mmereka. 

Sungguh berbeda dibandingkan Keyla yang selalu bisa membuatku merasa nyaman saat berada di sampingnya. Aku bahkan pernah merasa sebagai seorang laki-laki yang sangat beruntung karena bisa menjadi pacar pertmanya Keyla. Yah , memang aku adalah pacar pertama bagi Keyla. Entahlah , apa dia menganggapku cinta peramanya atau tidak . Karena tak selalunya pacar pertama bisa menjadi pacar pertama . Iya kan? 



Masa-masa pacaran ku saat sebelum dengan Keyla memang tak pernah lama. Hanya bisa bertahan sampai sekitar satu bulan atau dua tiga bulan, bahkan ada yang hanya bertahan satu minggu saja. Kalau ditanya kenapa , sudah pasti karena aku merasa tidak cocok dengan mereka semua. Kira-kira ada sekitar 5 orang yang pernah kukenal sebelum aku mengenal Keyla. Dan Keyla lah yang aku rasa paling menarik diantara mereka semua.

Keyla punya kepribadian yang menarik. Sikap yang lemah lembut yang akan disukai oleh siapapun yang mengenal dia. Keyla memang sangat kalem, tapi suka tersenyum. Dan senyum itu lah yang senantiasa kurindukan bahkan saat aku sedang tertidur. Diam-diam senyum Keyla mengahantui mimpiku . Membuat tidurku sangat lelap sampai-sampai aku lupa untuk bangun dan akhirnya terlambat berangkat sekolah.

Seperti hari itu :

" Ya ampun Revan kamu ini gimana sih? Kenapa udah jam segini belum bangun juga? Kamu gak sekolah? " Tiba-tiba saja suara mama menggelegar di kupingku.

" Mama apa-apaan sih, aku kan lagi enak-enaknya mimpi, kenapa di ganggu sih mah," sebenarnya aku belum terlalu sadar karena baru bangun. Tapi bisa-bisanya aku malah membebel karena mama yang mencoba membangunkanku.

" Lah kamu ini di bangunin bukannya bersyukur malah marahin mama. Sana cepat mandi. Sana cepat! " mama manarik selimut yang masih menempel di tubuhku.

" Mama mah, kan baru jam berapa juga. Revan mau tidur lagi mah. Mau mimpiin Keyla lagi. Mama sih ganggu Revan mimpi. Jadi tanggung deh mimpi Revan" 

aku menarik kembali selimut yang sudah ditarik mama hingga kebawah kakiku. Aku menariknya sampai menutupi semua badanku.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Mama malah keluar dari kamarku. Aku mendengarnya berjalan keluar menuju pintu lalu menutup pintu perlahan. Hal ini membuat aku bingung. Bukannya memaksa untuk bangun lagi, Mama malah meninggalkan aku yang akan tertidur lelap.

Keanehan ini membuat aku sontak melek dan terbangun lalu bangkit dari tempat tidur. Lalu aku memandang weccker di sebelah tempat tidurku.

“ pukul 7! “ tepat pukul 7. Yang artinya aku telat bangun. Aku melotot kebingungan. Aku heran kenapa mama malah meninggalkanku, dan bukannya memaksa bangun tidur padahal mama tau kalau aku sudah telat.

Aku berlari menuju kamar mandi. Mengambil segayung air lalu mencuci muka. Tak ada kata mandi untuk orang yang sudah telat bangun sepertiku. Aku terpaksa berangkat sekolah dengan hanya cuci muka saja, tanpa mandi.

Semua ini nekad kulakukan karena memang yang terngiang di otakku adalah janji yang telah kubuat dengan Keyla. Aku tak mungkin mengingkari janji itu. Aku tak mau membuat Keyla sedih dan kecewa. Hufff, paling tak tega kalau sudah melihat wajah Keyla murung. Langsung membuat aku lemas saja. 

Setiap harinya saat akan beremu Keyla, sebisa mungkin aku tak ingin menyakiti hatinya. Sungguh kasihan kalau Keyla sudah diam dan Nampak sedih. Aku tak ingin itu terjadi. Dan aku harus sampai ke sekolah bagaimana pun caranya.

Memang akan sangat membuat Keyla kecewa kalau aku sampai tak hadir sekolah hari ini. Semalam semasa di sekolah Keyla mengatakan kalau aku harus menyaksikan debat Bahasa inggrisnya dengan kelas lain.

“ pokoknya kamu harus liat aku debat dengan kelas sebelah. Gak ada alasan terlambat sekolah, atau terlmabat bangun, atau ketinggalan angkot, Dll. “
Aku mengangguk.

“ jangan Cuma ngangguk aja dong Van. Kamu harus janji” Keyla menyodorkan jari kelingkingnya ke depan mukaku. Tanda kalau aku sudah berjanji yang artinya , bagaimana pun dan apapun yang terjadi, aku harus menepatinya.

Jadilah aku seperti ini. Tunggang langgang kesusahan,akibat telat bangun. Dan peneyebabnya hanya satu : aku yang terlalu tergila- gila dengan senyum manis Keyla.

Aku akan menyampaikan ketidakpuasan hati ku ini kepada Keyla. Aku akan menyanyainya apa yang telah dia lakukan padaku , sehingga senyumnya yang sangat manis itu selalu masuk ke dalam mimpi ku. Semua keterlambatan ini disebab kan oleh senyum manis Keyla. Eh salah , senyum yang terlalu manis. Benar. 

Terlalu dan terlalu manis. Membuatku ingin terus bermimpi.
Setelah memakai seragam lengkap dan memasukkan semua buku kedalam tas, aku segera berlari ke bawah melewati tangga. Kebetulan mama berdiri dibawah tangga dan tentunya dengan wajah kebingungan.

Masih belum sadar dari kebingungannya aku lalu menyerbu mama dengan pertanyaan.

“ Mah kenapa Revan gak dibangunin sih. Udah tau juga Revan telat , bukannya di bangunin eh malah di cuekin. Gimana sih mama? “

Mama melotot mendengar pertanyaanku.

“ sejak kapan pula mama gak bangunin kamu, mama udah bangunin tapi kamu malah sebut-sebut nama Keyla. Jadi mama pikir kamu demam,jadi mama telpon dokter,bentar lagi dokternya datang. “
Yahhhhhh , beginilah mama, belum tau kepaastian malah sudah panggil dokter aja. :/

"Revan gak kenapa- napa kok mah. Dokternya di suruh balik lagi aja. Revan mau berangkat sekolah. Aku segera menyalam mama dan berlari keluar."

“ dah mama. “

Aku tentu tak tau apa reaksi mama selanjutnya. Yang kupikirkan sekarang , bagaimana caranya agar bisa sampai di sekolah tepat tengah 8. Karna di jam itulah, debat Bahasa inggrisnya Keyla akan melawan kelas lain.

Aku berlari ke simpang jalan tempat aku biasa menunggu angkot.biasanya butuh 20 menit untuk menunggu angkot datang. Sedangkan waktuku hanya tinggal 25 menit. Tapi ternyata Tuhan tau apa yang kuperlukan. 

Bukannya  kesusahan menunggu angkot, aku malah didatangi tiba-tiba oleh seorang perempuan ( bukan hantu ) yang ternyata anak SMA, yang sepertinya bukan berasal dari sekolah yang sama denganku. Menurut perkiraanku, dan melihat dari penampilannya, gadis itu mungkin adalah salah satu dari murid yang sekolah di SMA favorit di kawasan pendidikan ini. Dia menaiki sebuah sepeda motor. Sambal tersenyum, lalu dia menghentikan motor bebeknya tepat di depanku.

“ telat bangun ya ? ayo naik? “ dia tersenyum.

Wah. Aku sedikit merinding dibuatnya. Bisa-bisanya dia tau kalau aku telat bangun. Udah gitu main suruh naik aja lagi. Tapi akhirnya aku naik juga tanpa disuruh 2 kali.

“ eh ngomong-ngomong kok tau sih aku telat bangun. Kamu dukun ya? “ aku bertanya sedikit sungkan. Takut dia akan tersinggung kalau aku menyebutnya dukun.

Dia malah cengengesan, “ hahaha, aku bukan dukun. Cume tertulis aja di wajah kamu, aku telat bangun tolong tumpangin aku. Kata-kata itu terlihat jelas di muka kamu tau gak? “ dia tertawa sekali lagi.

Ya ampun. Seburuk itu kah tampangku terlihat. Tega-teganya si mbak cantik ini ngomong begitu di depanku.

“ emang keliatan banget ya kalau aku gak mandi? “ aku mencoba memastikan.

“ haha, ya iyalah. Lagian tai mata kamu juga masih nempel di situ’
Wah, si kakak ini jujurnya kelewatan. Buat sakit hati aja. Tapi lebih baik seperti itu juga sih. Aku kan jadi tau kalau ternyata ada tai mata di mata ku. Setidaknya aku bisa mengoreksi diri supaya tidak terlihat konyol di depan Keyla.

Akhirnya sampai juga di sekolah. Cewe ini ternyata suka ngebalap juga. Gak sampe 15 menit kami udah nyampe di sekolah. Aku benar-benar beruntung bisa ketemu dia di saat yang sangat tepat.
Setelah mengucapkan terimakasih aku langsung saja berlari ke pekarangan sekolah. Belum lagi dia menjawab kata terimakasihku aku sudah ngacir begitu saja meninggalkan dia.

Aku sampai di kelas tepat 5 menit sebelum acara baris-berbaris. Setelah guru menyampaikan pidatonya, akhirnya tiba saatnya Keyla tampil kedepan. Setiap kelas diwakili oleh 2 orang murid. Perwakilan dari kelas Keyla pun mulai melangkah ke depan. Tentu saja aku Keyla dan satu orang temannya yang akan maju kedepan. Aku sudah tidak sabar mendengar celotehan Keyla dalam Bahasa inggris. Aku suka mendengarnya berceloteh menggunakan Bahasa inggris. Terdengar begitu keren dan memukau.

Tapi, Keyla tak maju ke depan. Yang ada malah teman sebangku Keyla, Sere dan satu orang lagi yang aku tidak tau namanya. Mereka maju ke depan podium di sebelah tiang bendera sambal tersenyum.

“ Loh, ada apa ini? “  aku menyikut teman di sebelahku yang juga ketua OSIS di sekolah.

“ loh apanya ? “ dia malah bertanya kebingungan.
Aku mengernyitkan kening, 

“ bukankah hari ini petugas debat Bahasa inggris itu Keyla? “ aku bertanya.

“ ya ampun, Keyla kan sakit. Masa iya aku mau paksa dia datang ke sekolah Cuma untuk buat debat bahasa inggris ini? Lagian kamu ini gimana sih. Keadaan pacar sendiri masa gak tau? “ dia malah balik menyalahkanku.

" Keyla sakit?"  Aku malah bertanya balik pada diriku sendiri.

( sebelumnya cerita tentang rosan yang mengatakan sayang kepada Revan )

Aku segera merogoh kantong dan mengeluarkan handphone. Aku menghubungi nomor Keyla. Tapi yang terdengar malah nada sibuk di kejauhan. Aku mengeluh keras. Jujur aku khawatir terjadi sesutau yang tidak-tidak dengan keyla. Jadi kupputuskan untuk menelepon ke nomor rumahnya. Sama saja. Tak ada seorang pun yang menjawab telpon. 

Kemana semua orang ? Membuat ku khawatir saja. Aku buru-buru dari rumah dan bersemangat datang ke sekolah adalah karenan Keyla. Tapi setelah tahu Keyla dalam keadaan yang tidak pasti seperti ini membuatku benar-beanr down dang langsung tidak bersemangat.

Lalu Hpku bergetar dan terlihat nama Keyla. 

" Revan ? ada apa ? Kamu gak sekolah. Udah jam 9 bukannya seharusnya kamu ada dalam kelas? " terdengar suara Keyla di kejauhan. Ya ampun. Dia malah menanya aku sekolah atau tidak sementara seharunya akulah yang harus menanyai dia pertanyaan seperti itu.

" Keyla sayang, harusnya aku yang nanya kayak gitu sama kamu. Kamu kemana aja. Kenapa gak masuk sekolah. Kata ketua Osis kamu sakit? "

Hahah,

Dia malah tertawa. Aduh Keyla ini, ditanya malah kasih jawaban seperti itu. 

" Iya aku lagi sakit Revan. Demam aja sih. Ini lagi di Klinik ditemenin sama Yuni. "

Aku terkejut saat Keyla membawa Yuni masuk dalam percakapan ini. Sebelumnya Keyla tak pernah menyebut tentang sahabat lamanya itu. Setauku Yuni dan Keyla bertankar hebat saat Keyla SMP. Lalu kenapa sekarang tiba-tiba Keyla menyebut Yuni lagi?

Aku masih ingat kata-kata Keyla yang mengatak betapa dia sangat membenci orang yang bernama Yuni. Gadis tomboy yang selalu bersikap kalau dia adalah seorang laki-laki. Dia menganggap dirinya laki-laki tulen bukannya perempuan. Sementara kalau dilihat dari gambar yang pernah ditunjukkan Keyla kepadaku tellihat jelas kalau Yuni itu sam adengan namanya yaitu seorang perempuan.

" Yuni? Yuni siapa Key? "

" Yah , Yuni sahabat aku dong Revan. Yuni siapa lagi. Orang aku cuma punya satu sahabat aja kok di dunia ini. Hahaha" 

Meskipun mengaku sakit, tapi tawa Keyla bukan mengisyaratkan seperti orang yang kesakitan. Sebaliknya dia terdenar sangat ceria dan bahagia. Ada apa sebenarnya? 

Lalu tiba-tiba hubungan terputus. keyla mematikan Hpnya. Semenit kemuadian muncul SMS dari Keyla.

" Sorry ya Revan Hp aku lowbat, nanti sampai di rumah aku hubungi kamu. Aku mau cerita sesuatu tentang Yuni. Jangan lupa kamu harus segra masuk kelas. Dan jangan sampe bolos pelajaran ya. Bye sayang. "

begitu saja. 

Keyla memang suka menggantung cerita dan akhirnya membuatku jadi penasaran. Lalu aku teringat bahwa aku seharunya berada di kelas saat ini. Bukan malah berada di kamar mandi dengan Hp di tanganku. Bisa-bisa guru memenrgoki ku lalu membawaku ke ruangan BP. aku segera berlari ke kelas.

***

( Cerita selanjutnya keyla menelepon revan dan menceritakna kalau sebernarnya yuni sudah kembali 1 bulan yang lalu. dia datang kerumah sakit meminta maaf dan dia sudah kembali mamakai jilbab)

Lanjutan

“ revan, kamu sebagai teman aku, bisa gak kamu tolong aku. Kalau kamu bisa tolong aku saat ini juga, aku akan berterimakasih sangat sama kamu. Aku benar-benar butuh pertolongan kamu, please.” tangannya saling menggenggam satu sama lain. Dia terlihat gugup dan ketakutan, aku menjadi semakin penasaran.

Ah, permintaan tolong yang sangat menyayat hati. Rosan meminta tolong sambil bercucuran airmata. Aku yang seorang laki-laki ini memang sangat tidak tega melihat airmata perempuan terjatuh, terlebih kalau melihat mama menangis. 

Airmatanya masih saja terjatuh sampai dia mengulang lagi pertanyaannya, " bisa gak kamu tolong aku, aku mohon? "

Tiba-tiba hatiku tergerak begitu saja mengatakan “ iya “ . 

kata-kata itu keluar secara spontan dan tanpa aku sadari. Rosan mendongak dengan cepat setalah mendengarku mengatakan iya. Lagipun aku mendengar sebuah kata yang sangat tidak enak kalau sampai aku menolaknya. Rosan mengatakan " aku mohon", bagaimana mungkin aku bisa menolaknya?

“ kamu serius mau tolong aku ? apapun? “
Pertanyaan yang menakutkan kalau diikutkan dengan perkataan apapun. Tapi aku rasa tidak salah membantu. Lagipun selagi aku bisa kenapa tidak?

Aku menjawab dengan menggangguk. Anggukan itu ternyata membuat dia bisa tersenyum. Semenjak pagi tadi dia hanya terdiam saja. Menunduk seperti orang yang kebingungan.

Lalu dia menceritakan semua. Dari awal sampai akhir. Dan cerita iti membuatku tau kalau selama ini senyum dan keceriaan yang dia bagi dengaku itu semua palsu dan hanya rekaan semata. Semua tawa dan candaan itu hanya sebagai topeng saja.

Rosan menyimpan beban yang sepertinya hanya aku yang tau saat ini. Beban itu lebih kepada alasan ayahnya yang saat ini sedan berjuang melawan mati di rumah sakit.

Yah, selama ini Rosan hanya bungkam dan tak pernah bercerita kalau mamanya sudah menginap lama di rumah sakit. Penyakit langka dan tau apa penyebabnya.

Rosan berakting seperti semuanya baik-baik saja. Tapi begitu dia datang ke rumah sakit dan melihat wajah mamanya semakin lemah, disitulah dia mulai merasa bahwa hidup ini sedikit tidak adil baginya.

Ceritan yang begitu rinci, dan  juga sekaligus menyayat hatiku. Tapi aneh kenapa baru sekarang dia membuka semua cerita ini? Selama ini kemana semua cerita ini dia simpan? Dia pendam sendiri? Membuat aku penasaran saja. Sekuat itukah hatinya sampai -sampai bisa menyembunyikan cerita itu sekian lama? Wah!

“ apa yang bisa ku bantu “ aku begitu penasaran. Jadi kurasa lebih baik kalau aku menanya langsung ke topic utama.

“ dokter lagi nyaris seorang pendonor yang darahnya sama dengan golongan darah mamaku. Sementara golongan darahku tidak sama dengan mama. Aku bergolongan darah ayah. Dan aku tidak tau harus kemana lagi mencari pendonor darah yang bisa mambantu mama dengan iklas. Sementara aku tidak punya sepeser pun untuk membayar pendonor. Aku benar-benar bingung Van. “

Sekarang aku mengerti. Tepat seperti dugaanku sebelumnya. Mama Rosan membutuhkan seorang pendonor darah yang bisa mendonorkan darahnya secara iklas dan tanpa tunjangan apapun. Aku bisa paham.

Selama dekat dengan Rosan, meskipun dia selalu terlihat ceria dan bagaikan mempunyai segalanya, tapi ternyata Rosan sungguh sederhana. Dia kuliah di Manila adalah terpaksa untuk mewujudkan keinginan Mamanya. Dia tak pernah bercerita kepada siapapun tentang keadaannya. Dia manjalani aktivitasnya layaknya anak-anak lain yang seluruh kebutuhannya di tanggung oleh orangtua. Dan dia membuat seakan semua nya baik-baik saja.

Tidak kusangka di balik keceriaan dan kecentilan Rosan selama ini dia menyimpan sebuah luka yang kalau aku mendapat luka itu pun pasti terasa amat menyakitkan.

Hidupku enak. Lengakap dengan dua orang tua yang selalu siap menyayangi dan memenuhi semua kebutuhanku.

Semua kebutuhan sehari-hari tidak ada yang kurang. Bahkan terasa lebih karena orang tua yang terlalju memanjakanku. Walau sebenarnya tidak suka terlalu dimanjakan. Membaut merasa sepertiaku anak cengeng yang harus selalu dekat dengan orang tua. Itulah salah satu sebab aku ingin kuliah di Manila. Ingin membuktikan kalau aku bukan anak lemah yang cengeng.

Tapi lain lagi dengan Rosan. Dia sama sekali jauh dari kata tanggungan orangtua. Kedua orangtuanya bercerai. Ayahnya yang ternyata asli orang Manila dengan tega meninggalkan idtrinya begitu saja setelah tau ternyata dia mengidap sejenis penyakit langka yang mematikan dan bisa menular kapan saja. 

Sungguh disayangkan masih ada orang yang dengan tega bersikap seperti itu bahakan terhadap istrinya sendiri. Mendengar cerita Rosan selama ini, Ayahnya yang entah tinggal dimana itu kini telah menikahi perempuan Manila dan mempunyai seorang jagoan kecil berumur 4 tahun. 

Tentu saja cerita yang sangat sedih, mengingat Rosan dan ibunya ditingal begitu saja bahkan saat Rosan masih SMP kelas 3. Mungkin Rosan sudah terbiasa dengan apa yang terjadi di kelaurganya. Ayahnya yang meninggalkan mereka, dan ibunya yang sudah sakit-sakitan hampir selama 3 tahun.

Untungnya Rosan mempunyai kakek dan nenek yang juga tinggal di Manila dan mereka cukup berasa. Setidaknya mereka yang membawa ibu rosan ke rumah sakit tempat saat ini Ibu Rosan dirawat. Hampir 2 tahun ibu Rosan hanya bertahan di rumah tanpa pengobatan medis. Baru tahun lalu lah kakek nenek Rosan membawa ibunya ke rumah sakit dan membiayai segala kebutuhan medisnya.Mereka jugalah yang membuat Rosan akhirnya bisa berada di Universitas yang sama denganku. Kalau dipikir- pikir lagi, kehisupan yang kurasakan sulit selama ini , aku merasa sedih saat tahu ternyata aku jauh lebih beruntung dibandingkan Rosan.


Hmmmm, beginilah yang namanya hidup, kadang manusia terlalau egois untuk menyadari betapa apa yang dia miliki sebenarnya sudah sangat beruntung dibandingkan dengan orang lain. Berkali kali aku menarik nafas, sedikit penyesalan ada di hatiku, mengingat duku aku yang selalu mengeluh hanya karena hal-hal kecil fdan ,asalah yang sebanarnya tidaklah terlalu serius. 

Bukankah aku beruntung bahwa kedua orang tua ku tidak pernah ribut dirumah, bahkan sampai harus bercerai seperti orangtua Rosan? Bukankah jauh lebih beruntung hidupku?

Selama aku tinggal bersama kedua orantuaku, takpernah aku melihat mereka bertengkar, entahlah , tapi baru sekarang aku menyedari ternyata aku sangat beruntung lahir dari kedua orang tua yang telah membesarkan aku. 

" 


( ceira selanjutnya : Revan ingin menfonorkan darah tapi ternya darhnya tidak cocok )


LANJUTAN
**********************************************


Baru saja aku mamutuskan hubungan telpon dengan Keyla, saat kemudian muncul nama Rosan di depan layar HPku. Tak biasanya Rosan menelepon saat tengah malam seperti ini, karena dia tahu kalau aku pasti sedang mengobrol dengan Keyla.

Aku memang pernah memebritahunya bahwa jangan pernah menghubungiku dengan alasan apapun saat tengah malam. Karena disaat itu aku sedang meluangkan waktu untuk date dengan Keyla. Tapi ini?

Aku segera menjawab, lagi pun aku sudah selesai mengobrol dengan Keyla. Jadi taka da yang harus ku khawatikan.

“ halo San, kamu kenapa? “

“ Revan, tadi dokter telpon aku dari rumah sakit. Besok aku harus datang ke rumah sakit ada report penting dari rumah sakit yang ingin mereka kasih tau ke aku. Kamu bisa temenin aku kan? “

Besok? Besok hari libur kuliah, dan aku tak ada rencana apapun untuk dilakukan besok. Jadi aku rasa tidak ada salahnya menemani Rosan menemui mamanya. Lagipun aku sudah terbiasa dengan suasana rumah sakit tempat mama Rosan dirawat. Bukan sekali dua kali saja aku pernah ke sana. Bisa dikatakan sudah sering.

“ oke San, lagian aku gak ada kuliah kok besok. Jadi aku bisa temenin kamu. Jam berapa nih? “

“ sekitar jam 10 gitu deh Van, aku jemput kamu deh ke rumah ya ? “

“ eh gak usah San, biar aku naik bus aja. Lagian udah biasa kok. Haha aku bukan anak manja kali San. “ aku mencoba mengajak bercanda. Tapi sepertinya Rosan tidak dalam mood yang baik untuk diajaka becanda. Sebagai balasannya dia menjawabku dengan serius.

“ bukan gitu Van. Aku takut sampai kamu telat atau tiba-tiba ada halangan atau apa gitu. Karena kau rasa report yang mau dikasih tahu dokter samaku sepertinya penting banget. Kamu harus janji kalau kama akan datang ya. Jangan kecewakan aku loh Van. Please. “

Wah, aku tidak menyangka dia akan seserius itu.

“ baik, baik Rosan. Aku gak akan lupa. Sampai jumpa besok ya. “
Aku menutup Hp. Mendengar cara Rosan berbicara, seperti ada kekhawatiran tersimpan di setiap perkataannya. Membuatku curiga saja. Ada apa sebenarnya?

***



Rosan berlari keluar dengan beraburan airmata dan sambil menutupi wajahnya. Lalu dia duduk di sampingku. Menangis.

“ Revan, mamaku meniggal, “ Rosan terisak sambil sedikit membungkuk tepat disampingku. Aku bisa rasakan kesedihan yang dirasakan Rosan. Bagaimana pun , aku pernah menemani Rosan saat dia mengobrol dengan mamanya. Beliau seorang yang humoris dan bisa membuat siapapun yang berada di sampingnya ikut tertawa. Setidaknya itulah yang kurasakan. Bahkan saat dia harus terletak lemah di rumah sakit, dia masih bisa selalu mengingatkan Rosan yang sibuk dengan jadwal kuliahnya agar tidak lupa untuk makan tepat waktu. Membuatku sungguh terharu.

Rosan masih saja terisak, semakin keras. Dibalik kesedihan yang juga kurasa, jujur aku tak tau harus melakukan apa. Apakah aku harus menghampirinya lalu mengatakan kalau aku turut berduka atas menginggalnya mama yang sangat dia sayangi. Ataukah aku harus memeluknya dan mengatakan jangan menangis lagi? Aku bingung.

Sebagai gantinya, aku menarik tangannya yang sedari tadi menutupi wajahnya. Malu karena ketahuan menangis didepanku.

“ Rosan, jangan sedih dong, “ aku mengambil tisu untuk melap airmatanya yang masih belum berhenti menetes. Lalu dia memandangku dengan mata merahnya yang kini sudah bengkak.
Wajahnya seperti mengeluarkan pertanyaan, “ kamu bilang jangan sedih? Bagaimana mungkin seorang mama yang sangat kusayangi meninggal dan aku tidak sedih? “ meskipun dia tak mengucapkannya, tapi aku tau mungkin itulah maksudnya. Lalu kuputuskan menukar kalimat sebelumnya.

“ kamu boleh sedih, tapi kamu harus ingat masih ada papa kamu dan juga aku yang akan terus sayang sama kamu, jadi kamu jangan terlarut dalam kesedihan ini aja. “ aku rasa kalimat ini jauh lebih cocok disbanding kalimat bodoh yang kuucapkan sebelumnya.

“ kita sama-sama hadapi ini ya? Kita harus kuat. “ aku menggenggam erat tangan Rosan. Masih menggigil.

Tiba-tiba Rosan memandangku lekat. Lama sekali. Mungkin dia meragukan apa yang kukatakan. Atau mungkin dia terkejut mendengar kata-kata yang baru kukeluarkan. “ menghadapi semuanya bersama-sama?” ya ampun. Kalimat bodoh apa lagi yang baru saja kukatakan barusan. Tidak seharunya aku bicara seperti itu.

Yang kumaksudkan adalah menemani dia sebagai seorang teman. Yah, sebagai seorang teman. Jangan sampai Rosan salah tanggap dengan arti kalimat yang kuucapkan tadi. Aku tidak ingin dia berpikiran yang enggak-enggak. Jadi kuputuskan untuk menjelaskan.

“ kamu jangan salah tanggap ya Rosan. Kita kan teman, dan seorang teman memang harus selalu setia saat temannya dalam masalah kan? Aku teman kamu dan aku akan terus setia menghadapi kesusahan kamus sebagai seorang teman. “

Rosan tiba-tiba melepaskan tanganku yang sedari tadi masih menggengam tangnnya. Dia menghempaskan tanganku dengan kasar.

“ kamu gak perlu kasih tau aku kalau kamu hanya mengganpku teman Revan, “ Rosan kembali terisak, semakin keras.

“ aku udah tau lama kalau aku sama sekali gak ada artinya buat kamu. Kita hanya teman, dan selamanya akan begitu. Hanya sebatas teman. Aku tau. Tanpa kamu kasih tau, aku sebenarnya sudah tahu.”

Tangis Rosan meledak memenuhi rumah sakit yang sudah semakin sepi.
Aku sungguh tidak menyangka reaksi Rosan akan separah itu. Padahal aku hanya menjelaskan saja agar dia tidak salah paham. Tapi kenapa sekarang jadi seperti ini? Aku kebingungan.

“ Rosan maafin aku. Aku gak bermaksud untuk nyakitin kamu.”

Rosan sama sekali tidak mendengar apa yang kukatakan. Dia masih saja terus tersedu-sedu, bahkan airmatanya membasahi lantai.

“ apa harus sekarang kamu memperjelas kalau kamu hanya menganggap ku teman? Harus sekarangkah Revan? Di saat mama ku baru saja  menginggal. Kamu tahu aku sekarang sedih banget. Hati aku sakit banget. Selam ini aku selalu curhat dengan mama, selalu ditemani mama. Dan sekarang mama aku satu-satunya pergi ninggalin aku, lalu kamu datang dan mempejelas kalau kamu hanya menggapku teman? Hah? “ tangisnya semakain meledak.

“ kenapa kamu juga gak pergi aja Revan? Pergi aja! Tinggalin aku sendiri. Biar aku jadi orang yang paling merana di dunia ini. Biar kalian semua puas melihat aku sedih. Pergi aja!” rosan bangkit dari tempat duduknya lalu berlari menginggalkan aku.

Aku sungguh kebingungan sampai tak tau apa yang harus kulakukan. Aku sadar kata-kataku telah melukai hati Rosan. Aku menyesal sudauh mengatakan itu di saat-saat seperti ini. Memang aku salah. 
Baru saja aku ingin berdiri untuk bermaksud mengejar Rosan, saat tiba-tiba seorang dokter keluar dari ruangan tempat mama Rosan dirawat lalu berjalan menghampiriku.
“ are you family

LANJUTAN
**************************************